INSTITUT IBU PROFESIONAL KONFERENSI IBU PEMBAHARU

Day 6 : Puncak Sekaligus Penutupan Konferensi Ibu Pembaharu, Ibu Septi Peni ‘Saya Ibu Rumah Tangga, Saya Bangga dan Bahagia’

Malam hari, tepat pukul 20.00 WIB, di penghujung tanggal 22 Desember 2021 merupakan puncak acara sekaligus penutupan konferensi Ibu Pembaharu. Setidaknya sepanjang enam hari ini, fullday agenda saya terwarnai penuh ilmu dari Ibu Profesional. Beberapa saya harus marathon menyimak, sebagian lagi bisa duduk di jam dan waktu yang sama secara live.

Salah satu yang paling saya tunggu adalah hadirnya founder sekaligus inspirator Ibu Profesional, yaitu Ibu Septi Peni Wulandani. Walau setiap beberapa pekan sekali ada materi dari beliau di kelas Bunda Produktif batch 2 yang bisa saya simak, namun untuk konferensi ini tentu akan berbeda. Rasanya pasti akan tercharge dan biasanya ada rasa mengharu biru jika ibu Septi yang membawakan langsung.

Pukul delapan malam, acara dibuka untuk umum, bahkan jika teman-teman di luar IP atau yang belum tahu IP boleh juga menyaksikan. Link Youtubenya bisa disebarkan juga.

Perjalanan yang Bermula dari Hati akan sampai ke Hati

Itulah yang saya tangkap dan rasakan dari perjuangan Bu Septi, dua puluh enam tahun lalu mulanya. Dari seorang gadis yang aktif kemudian beralih menjadi ibu rumah tangga yang perlu adaptasi dari berbagai sisi. Semua orang, perempuan tentu merasakan hal yang sama, adanya jarak antara kapasitas, aktifitas dan realitas dengan sesuatu hal baru ‘sebagai istri’, ‘sebagai ibu’ di awal pernikahannya.

Bu Septi menceritakan bagaimana beliau ‘memeras’ dirinya untuk terus belajar, dibimbing oleh Pak Dodik, menjadi ibu yang bukan ibu biasa. Menjadi sosok ibu yang bangga akan kiprah dan perannya. Kemudian lahirlah Ibu Profesional pada tahun 2011 secara resmi, offline dan online. Bu Septi juga tak segan untuk mempelajari aneka platform digital untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sehingga meluaskan manfaat yang awalnya hanya dihadiri 1-3 orang secara tatap muka, kemudian 100 orang tatap muka, setiap hari Rabu, bertumbuh ribuan wanita di berbagai daerah.

Saya melihat bahwa Bu Septi menjalani semua itu dengan kesadaran penuh akan peran serta visi yang beliau jalankan didalam keluarga. Inilah beberapa insight yang saya tangkap di sesi penutupan KIP.

Menerima dan Memaknai

Seolah diingatkan kembali, bahwa Bu Septi sempat flash back pada apa yang beliau rasakan dulu. Menjadi seorang ibu rumah tangga, yang rutinitasnya seputar domestik dan service semata. Seiring berjalan waktu, beliau mulai menerima, berdamai dengan kondisi bahwa realitasnya memang sebagai ibu rumah tangga. Namun perlu ditambah untuk membuat pemaknaan lebih.

Memaknai berarti memberikan nilai lebih kepada sesuatu yang dihadapi. Bu Septi membuat pemaknaan terhadap aktifitas beliau seperti :

  1. Menjadi koki (memasak), menjadi manajer gizi keluarga. Sehingga di sini beliau juga perlu belajar akan hal itu.
  2. Menjadi kasir (mengurus gaji dan pengeluaran dari suami), menjadi manager keuangan. Maka, beliau pun belajar bagaimana mengatur arus keuangan secara optimal.
  3. Saat mengantar anak sekolah (usia sekolah), dimaknai sebagai manajer pendidikan anak.

Ketika anak-anak lahir, artinya itulah menjadi wasilah meningkatkan kapasitas dan kualitas diri sebagai manusia terutama seorang perempuan. Sebab anak-anak hebat akan terlahir dari orang tua yang hebat. Maka perlu menghebatkan diri dulu sebelum menghebatkan anak.

Setiap Hari Membaca Buku

Hal yang menjadi pelecut, kerjasama antara Pak Dodik dan Bu Septi adalah kegemaran belajarnya. Bu Septi dididik oleh Pak Dodik untuk terus berwawasan. Setiap pagi, di kala Pak Dodik berangkat kerja, Bu Septi sudah disiapkan buku apa yang akan dibaca di hari itu. Malam hari, setelah anak-anak terlelap, buku itu beliau presentasikan. Betapa kemampuan literasi itu memang tidak dilahirkan begitu saja, melainkan diupayakan. Itulah kerja keras dari Bu Septi yang kini tampak pada anak-anak beliau yang sudah dewasa.

Bu Septi seolah mengingatkan kembali diri saya pribadi, bahwa penting untuk menyegerakan menyelesaikan buku bacaan. Jujurly, buku yang saya beli, saya simpan, bahkan ada yang baru diberi teman serta penerbit, belum sepenuhnya saya rutinkan baca. Dari sesi ini, saya termenung kembali betapa cepatnya waktu berlalu, sungguh sayang jika digunakan untuk hal lain dan menunda-nunda membaca buku.

Bersungguh-sungguhlah Didalam

Sering sekali saya mendengar dan terngiang sejak matrikulasi hingga kini saya duduk di kelas Bunda Produktif, terkait kalimat yang disampaikan Pak Dodik.

“Bersungguh-sungguh kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik.”

Pak Dodik Mariyanto

Ucapan itu pula yang menyadarkan diri bahwa menjadi seorang ibu adalah tugas yang mulia, istimewa. Itulah kenapa di Ibu Profesional, taglineya ‘Kebanggaan Keluarga’. Sebab dengan diri sendiri mau menerima, memaknai dan bangga maka akan lebih mudah untuk istiqomah, bahagia. Senantiasa sungguh-sungguh dalam mengahadapi kenyataan setiap harinya.

Bu Septi menjadi figur atau sosok yang begitu mencintai peranannya. Sebagai ibu, istri serta individu. Beliau mampu mendongkrak rasa percaya diri sehingga mampu menjadi kebanggaan untuk (setidaknya) diri sendiri.

Perjalanan Ibu Profesional 1 Dekade

Seperti yang diceritakan di awal, Bu Septi memulai dari diri beliau sendiri. Tahun 2011 mulai memberanikan diri untuk offline. hadir di setiap Rabu pukul 9 hingga 10.30 pagi. Tahun 2012 mulai banyak, setidaknya 100 orang berkumpul. Dan berkembang di 2013-2015 untuk memindahkan area offline menjadi online. Dimana saat itu belum familiar webinar sebagaimana saat ini begitu marak adanya.

Seiring waktu berjalan, semakin membesar dan berdampak luas. Sehingga Ibu Profesional pun dibagi kedalam 3 fokus.

  1. Capacity Building. Lahirlah Institut Ibu Profesional (IIP). Dimana inilah ‘anak pertama’ yang lahir dari gagasan Ibu Profesional. Seperti kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Shaliha.
  2. Community Building. Yakni membangun komunitas, lahirlah Komunitas Ibu Profesional yang kini disebut dengan Kampung Komunitas.
  3. Altruism Building. Terbentuk atas dasar kepedulian hati, lahirlah Sejuta Cinta.

Pola Pikir 3 B : Berdaya, Berguna, Bahagia

Berdaya sebagai ibu artinya sanggup memiliki jati diri. Memiliki daya atas dirinya sendiri.

Berguna, tidak selalu diukur dengan materi atau uang. Namun seberapa banyak manfaat yang ditebarkan.

Bahagia bukan berarti tidak selalu dalam kondisi yang baik, namun mampu menghadapi, serta menerima.

Deklarasi Konferensi Ibu Pembaharu

Dipandu oleh Bu Septi. beliau membacakan isi dari deklarasi.

Kami, para perempuan Indonesia, pada hari ini, Rabu, 22 Desember 2021, menyatakan bahwa :

Issue 1 : Perempuan menyadari, menghargai dan bangga akan perannya sebagai ibu rumah tangga, yang berkontribusi positif untuk masyarakat dan dunia.

1a : Ibu Rumah Tangga BUKAN PENGANGGURAN, Kami berkontribusi bagi negeri ini sebagai pendidik generasi. Sehingga tidak adil apabila negeri ini hanya mengukur produktivitas perempuan berdasarkan kontribusi pekerjaan publik yang dibayar, sedangkan pekerjaan dan produktivitas perempuan di aspek domestik tidak pernah diperhitungkan.

1b : Kemampuan dan potensi yang memadai dari perempuan, sebagai istri dan ibu merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan keluarga dan keunggulan sumber daya manusia di negeri ini, oleh karena itu keprofesionalan ‘Ibu rumah tangga’ harus diperhitungkan untuk menentukan kebijakan strategis negeri ini.

Issue 2 : Perempuan dan anak perempuan berdaya melalui teknologi informasi dan komunikasi.

2. Perempuan dan anak perempuan BUKAN objek teknologi informasi dan komunikasi, SEKARANG saatnya para perempuan lebih berdaya sebagai SUBJEK berita dan pencipta konten baik bagi negeri ini dengan bermartabat dan bertanggung jawab menggunakan teknologi informasi dan komunikasi positif.

Issue 3 : Potensi Perempuan dalam Pemberdayaan Disabilitas.

3. Setiap perempuan Indonesia BERHAK mendapatkan akses PENDIDIKAN BERKUALITAS secara INKLUSIF, apapun kondisi tubuhnya, dimanapun mereka berada dan apapun kondisi latar belakang kehidupannya, karena MENDIDIK SATU PEREMPUAN sama dengan MENDIDIK SATU GENERASI.

Issue 4 : Perempuan dan pendidikan/pengasuhan anak.

4. Pendidikan yang MERDEKA dan MEMERDEKAKAN bagi generasi perempuan merupakan sebuah keniscayaan, karena memberikan ruang bagi perempuan untuk menemukan jati dirinya, mandiri (tidak bergantung pada siapapun, kecuali pada Allah) dan berdaulat penuh atas keputusan yang diambil tentang diri dan kehidupannya. Perempuan yang merdeka akan memberikan kemerdekaan bagi anak, suami, dan orang-orang sekitarya.

Issue 5 : Perempuan berdaya dalam bidang ekonomi, baik sebagai anggota keluarga, tulang punggung keluarga maupun orangtua tunggal.

5. Perempuan baik sebagai anggota keluarga , tulang punggung keluarga maupun perempuan sebagai orangtua tunggal BERHAK mendapatkan lingkungan produktif yang menghargai fitrah perempuan, sehingga tetap bisa berdaya dan berkarya, tanpa meninggalkan peran pentingnya sebagai pendidik anak yang pertama dan utama.

Issue 6 : Perempuan berdaya dan berkarya untuk kehidupan yang berkelanjutan dan dapat dimulai dari dalam rumah.

6. Kami, para perempuan akan memperjuangkan cara hidup berkelanjutan untuk kehidupan saat ini dan kehidupan generasi selanjutnya, mulai dari menjalani kehidupan di rumah secara sadar dan menghidupkan kearifan lokal.

Milestone Setiap Tahun Ibu Profesional

Milestone Ibu Profesional setiap tahunnya mengalami peningkatan.

2011 – Ibu Profesional berdiri, memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan perempuan. konsistensi sebagai pengubah paradigma, bahwa perempuan juga menjadi agen perubahan.

2016-2017 , Ibu Profesional belajar dan berkembang menuju change maker mother. Saya jadi ingat, awal mula bergabung di akhir tahun 2017, di matrikulasi batch 5.

2017-2018, Ibu Profesional belajar dan berkembang menuju change maker family. Wah, ini jadi mengingatkan momen saya mengikuti award di regional Bogor, kala itu masuk 3 besar. Saya mendedikasikan diri dengan ‘Keluarga Berbenah’ linknya di sini.

2018-2019, Ibu Profesional belajar, berkembang, dan berkarya menuju sinergi dalam kebermanfaatan. Dan pada 16-18 Agustus 2019 diselenggarakan Konferensi Ibu Profesional di Yogyakarta dengan tema ‘Synergy for Change’.

2019-2020, Ibu Profesional belajar, berkembang, dan berkarya menuju Semesta Karya.

2020-2021, Ibu Profesional belajar, berkembang, dan berkarya menuju Semesta Karya untuk Indonesia.

Dan 2022 bersiap untuk ‘Women in Coolaboration’.

Kuis Akhir Sesi

Di akhir sesi, saya mengikuti kuis. Buat meramaikan serta mengingat kembali acara yang telah saya pantau saja. Kuis itu berisi pertanyaan.

1. Siapa saja yang memberikan sambutan 1 Dekade Ibu Profesional yang hadir di awal acara?
Jawaban saya : semua komponen IP. Yaitu Teh Chika (Dzikra I. Ulya dari IIP), Mbak Yesi (dari Kampung komunitas), Mbak Una (dari Sejuta Cinta), Mbak Laksemi Bania (dari KIPMA), Bunes (Nesri Baidani dari RCIP) dan Mbak Uut (Utami Sadikin dari Seknas).

2. Apa yang menjadi tema Ibu Profesional di milestone selanjutnya?
Jawaban saya : Women in Coolaboration

3. Apa nama event dari Ibu Profesional di tahun 2023, dan siapa yang menjadi panitia pelaksananya?
Jawaban : Konferensi Ibu, panitia dari Kampung komunitas.

Jawaban nomor 3 sebenarnya agak bingung, karena saya kurang bisa mendengar jelas penyampaian mbak Uut (seknas) yang memaparkan rencana itu. Apakah itu ‘Konferensi Ibu’ atau ‘Konferensi IbuP – Profesiona;’? wallhu’alam. Yang jelas, tahun 2022 akan ada agenda leader camp yang pastinya diikuti oleh para pengurus regional.

Semoga lancar dan dimudahkan.

Demikian rangkaian acara yang saya ikuti sepanjang 6 hari ini. Beberapa bikin trenyuh, beberapa membuat mata berbinar dan di akhir sesi ini jadi terharu. Selamat hari ibu, selamat 1 dekade Ibu Profesional.

Tinggalkan Balasan