BLOGGER PEREMPUAN

Emak-Emak Melek Finansial dengan Memanfaatkan Transaksi Digital

Bagi seorang ibu rumah tangga atau rakyat Indonesia pada umumnya seperti saya, memandang transaksi keuangan setiap hari begitu sederhana. Jika ingin membeli sesuatu, miliki uang, bayar saat itu juga (jika ada uang fisik cash) atau menggunakan kartu debit (jika tidak memegang uang fisik, transaksi non-tunai).

Saya pribadi sudah lama rasanya tidak memiliki dompet, semua beralih ke ponsel. Terutama di masa pandemi, transaksi sehari-hari langsung berubah drastis beralih ke pembayaran online menggunakan mobile banking dan e-commerce. Bahkan menerima bayaran atau gaji atau uang hasil dagang pun saat ini serba digital, lagipula kurang efisien jika harus mengumpulkan uang kertas atau mengantarkan uang dari satu tempat ke tempat lain, maka transaksi digital bukan lagi sebuah pilihan, namun sebagai keniscayaan.

Bagi yang belum memahami apa itu transaksi digital, transaksi digital adalah pembayaran nontunai (cashless) seperti mobile banking atau perangkat transaksi virtual lainnya.

Indonesia sendiri sudah mulai menyesuaikan kondsi. Melalui laman bank Indonesia, saya mulai membaca sejarah sistem pembayaran di negeri ini bahkan dunia.

Sistem Pembayaran adalah sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga, dan mekanisme yang dipakai untuk melaksanakan pemindahan dana, guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi.

(sumber : bi.go.id)

Di Indonesia, dalam hal sistem pembayaran, diatur oleh Bank Indonesia. Sistem pembayaran terdiri dari infrastruktur, instrumen pembayaran, kanal atau channel, tahapan pemrosesan transaksi serta pelaku dan penyelenggara jasa sistem pembayaran.

Dalam segmen BI-talks pada laman youtube Bank Indonesia, dijelaskan secara ringan dan nyata bahwa perkembangan zaman ke arah digital tidak bisa dielakkan. Bank pun harus membenahi diri, Bank sentral, dalam hal ini adalah Bank Indonesia juga turut menyiapkan kondisi tersebut. Melalui blue print Sistem pembayaran Indonesia 2025, bisa dibaca di https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/sistem-pembayaran/default.aspx#floating-1.

Digitalisasi Mendorong Kekuatan Ekonomi Nasional

Saya masih ingat ketika dulu duduk di bangku sekolah, salah seorang guru saya pernah mengatakan bahwa seandainya seluruh penduduk Indonesia mau bersatupadu untuk mengumpulkan uang, mengelolanya sendiri dalam sebuah sistem yang rapi maka ekonomi bangsa akan kuat, tidak tercerai berai. Ketika dijelaskan demikian, saya tidak paham dimana letak korelasi antara transaksi nasional dengan kekuatan ekonomi karena pikiran saya saat itu, yang penting bisa sekolah, makan, beli buku, bermain dan belajar.

Setelah membaca blue print sistem pembayaran Indoensia 2025 oleh Bank Indonesia, saya mulai menyadari bahwa seremeh apapun bentuk transaksi digital yang saya lakukan selama ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kekuatan ekonomi Nasional. Apalagi dengan prediksi pertumbuhan demografi penduduk yang kelak semakin pesat. Jangan sampai bonus demografi menjadi bencana, bukannya menjadi berkah dan kemajuan untuk bangsa. Oleh karena itu, berbenah di bidang keuangan memang perlu diperhatikan dari sekarang. Apalagi jarak antara 2021 ke 2025 juga tidak terlalu jauh.

Jadi Emak-Emak Melek Finansial

Melek Finansial artinya kita bisa melatih dan memiliki kemampuan untuk mengelola, memprediksi serta membuat keputusan yang tepat terhadap arah finansial diri agar terhindar dari masalah keuangan.

Sebagai emak-emak, saya menyadari begitu banyak perceraian dan masalah rumah tangga yang dihadapi oleh para pasangan yang menikah bahkan sudah bertahun-tahun membangun rumah tangga hanya karena masalah finansial. Begitu banyak orang atau pejabat yang melakukan tindakan korupsi karena adanya desakan atau hasrat untuk memiliki uang banyak dengan jalan yang tidak halal.

Oleh sebab itu, melek finansial bagia saya adalah kunci. Bukan sekadar tahu bagaimana mengatur uang, melainkan bagaimana cara mendapat uang dengan cara yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Melek finansial bagi saya berarti kita memiliki kendali terhadap finansial diri, tidak dikendalikan oleh uang. Sebab uang hanayalah alat pembayaran, tidak lebih dari itu, kitalah yang menjadi tuan terhadap uang, bukan budaknya.

Menjadi sosok yang mengelola uang haruslah smart, terus belajar, karena jika tidak mau belajar maka akan tergerus oleh perkembangan zaman.

Melek Finansial dengan Bantuan Teknologi Digital

Sebagai emak-emak, pikiran saya tak sampai untuk memahami istilah yang rumit dan asing di kepala terkait dunia perbankan serta teknologi yang semakin hari selalu updated. Terpenting setiap hari saya dan keluarga bisa makan, bersyukur menjalani hari-hari dengan aman, sudah menjadi kemewahan tersendiri. Namun dengan adanya teknologi, saya sadar bahwa ia benar-benar memudahkan kehidupan. Misalnya, jika dulu saya harus pergi membayar listrik ke kantor PLN, mengantri dan kadang harus bolak-balik karena uangnya kurang, kini, bayar listrik sambil rebahan, hanya dengan menjentikkan jari pun bisa dilakukan.

Selain itu, saya bisa belajar banyak melalui berbagai platform digital yang tersedia di gadget, bahkan untuk mengelola keuangan harian juga sudah disedaikan melalui aplikasi pada ponsel pintar. Saya juga tidak lagi mencari hiburan semata, saya bisa belajar juga di Youtube, Netflix, TED Talks untuk menonton dialog ilmiah serta dokumenter, serta beberapa aplikasi lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Sejatinya hidup di zaman ini, sudah tersedia kemudahan secara instan, sungguh sayang jika hanya menjadi penonton dan hanya rebahan. Namun, lagi-lagi, pokok utamanya ada pada jaringan internet. Jika instrumen satu ini cukup oke dan lancar, maka kegiatan transaksi digital pun akan mengikutinya, tak lagi lelet.

Transaksi Digital Bantu Buat Kita Bisa Pintar Finansial

Pintar finansial dalam bertransaksi digital menurut saya adalah pandai dan cerdas mengelola uang serta masa depan, terutama bagi ibu rumah tangga yang mendapat pemasukan dari suami semata. Banyak aplikasi, jenis transaksi digital yang bisa membantu ‘meringankan’ beban perhitungan keuangan karena bisa autodebet. Misalnya pembayaran cicilan rumah setiap bulan, tabungan dana jangka pendek hingga pembelian pulsa (saya menggunakan kartu pasca bayar).

Jenis transaksi digital yang paling sering dilakukan selain bayar cicilan rumah, antara lain beli pulsa, membayar tagihan listrik dan telepon atau internet, top up ojek online, membeli tiket transportasi (kereta api, pesawat), membayar iuran BPJS, membayar pajak, dan belanja online khususnya di marketplace.

Selain itu, bagi saya, sebagai orang islam, pembayaran zakat juga kini bisa dilakukan secara online. Sudah banyak perusahaan rintisan yang membuat aplikasi pembayaran zakat secara online.

Namun, transaksi digital bukan berarti tanpa resiko. Terpenting kita paham cara mengantisipasi dan mengatasi, dalam rangka melindungi diri dari cyber crime, ditambah akan ada perubahan dari sisi sistem yang diusahakan oleh Bank Indonesia, kemungkinan kita terlindungi, aman.

Transaksi Digital yang Aman

Prinsip saya, terutama saya tujukan kepada emak-emak zaman now, agar melakukan transaksi digital yang aman adalah :

  1. Jangan tergiur iklan bodong di media sosial. Misalnya membeli emas 1kg dengan harga 1juta. Itu tidak masuk akal, intinya ada harga ada barang. Jangan sampai tertipu.
  2. Jangan pernah memberikan kode transaksi pada siapapun, lindungi data password. Kalau bia, ganti PIN secara berkala.
  3. Untuk melindungi data, jangan berpindah-pindah platform dan mengisi data sembarangan dimanapun.
  4. Jika berbelanja di marketplace, pastikan cek rating toko dan harga yang masuk akal.
  5. Terapkan Frugal Living, yaitu gaya hidup yang cermat dan hemat dalam mengelola sesuatu tanpa mengesampingkan value atau nilai dari suatu barang. Jangan belanja di luar kemampuan. Mau secanggih apapun teknologi, jika kita terus terkuasai oleh ego dan nafsu diri, maka uang yang di genggaman tak akan pernah mampu mencukupi.

Dan jika ingin lebih paham lagi, kita bisa rajin berkunjung ke website Bank Indonesia di sini. Mari kita dukung Bank Indonesia dan industri perbankan untuk berbenah dan beralih ke platform digital ya!

Sumber :

  1. https://aptika.kominfo.go.id/2020/11/digitalisasi-transaksi-keuangan-dorong-pertumbuhan-ekonomi-daerah/
  2. https://www.bi.go.id/id/default.aspx
  3. https://katalisnet.com/pengertian-transaksi-digital-dan-contohnya/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *