2.01 BUNSAY LEVEL 1 DAILY

Game Bunda Sayang #BunSay Level 1 #Day 6 : Komunikasi Keluargaku

Hari ke-enam Game Level 1 ^^

Hari ini saya mengajar PAUD, seperti biasa selasa saya mengajar senam Ria (jadi guru olahrga nih ceritanya hehe) kepada anak-anak. DI PAUD ini memang unik, pengajarnya hanya 3 yang terdiri dari 1 kepala sekolah merangkap pengajar utama, 1 bendahara merangkap menjadi guru juga dan 1 sekretaris merangkap guru olahraga (saya sendiri hihi).

Logo PAUD dibuat oleh seorang relawan- tanpa bayar 🙂

Di PAUD ini nggak komersil, hanya memanfaatkan gedung yang sudah dibangun di komplek namun nggak terisi. Start januari 2016 kami sebagai ibu muda menginisiatif untuk memanfaatkan bangunan PAUD depan lapangan tengah komplek itu untuk diaktifkan, daripada dibiarkan menganggur.

Alhamdulillahnya yang ngajak saya -alias kepala sekolahnya- ini sudah seperti saudara, sesama perantau dan pengontrak di komplek hehe. Sesama orang jawa juga dan alhamdulillah merasakan pendidikan perguruan tinggi. Kepala sekolahnya ini alumni Psikologi UGM angkatan senior (saat ini sudah memiliki 3 putri dan 1 putra) 🙂

Kepsek PAUD namanya Bu Septi Puspasari, Psi -waktu pembukaan PAUD 2016

saya dan satu guru lainnya hanya mengikuti arah aja. Sebab bekgron pendidikan saya nggak nyambung dengan pendidikan, saya di teknik ITS dan satu guru lainnya alumni IPB di fakultas mipa 🙂

Mbak WIna (IPB angkatan 2007)- Partner ngajar saya, plus sebagai Bendahara PAUD

kerja kami mirip volunteer, meluangkan waktu 2 kali sepekan untuk mendidik anak-anak, walaupun saya sendiri lebih banyak hadir sepekan sekali (di jam mengajar olahraga, setiap selasa).

Saya sendiri, ketika pembukaan PAUD 2016 lalu

Baiklah, itu sedikit intermezzo mengawali observasi hari ini. Nah ini berkaitan dengan Syahid putera saya, keuntungan saya mengajar adalah membiarkan si kinestetik ini mau bergaul dengan teman di PAUDnya. Sebab di sekitar rumah saya ini sepi banget dan jarang ada anak bermain.

Pagi tadi setelah sekolah dibuka oleh kepala sekolah dan berbaris diiringi berdoa sebelum masuk, diberitakan bahwa hari ini anak-anak full dengan saya. Hal ini disebabkan ada agenda talaqqi oleh kepala sekolah dan guru 1nya di masjid. Sedangkan saya memutuskan untuk menangani anak-anak.

Diawali dengan senam Ria, saya sambil memantau Syahid. Ternyata dia antusias, walaupun masih memilih-milih teman. Syahid ini suka main dengan teman sepantaran atau di bawahnya, sedangkan teman di PAUD yang usianya diatas dia kurang sreg. Oia seragam hari selasa adalah kaus warna abu-abu. Sayangnya seragam Syahid sedang dicuci, maka dia memakai kaus lain yang nggak berlogo sekolah hehe..

Sampai di sekolah, Syahid melepas sandal dan meletakkannya di rak septu 🙂 itu kebiasaan yang dia bawa dari rumah, alhamdulillah menularkan di PAUD.

Syahid menanyakan itu lubang apa mi? saya jawab : itu sumur hid, yang dibor, pipanya diarahkan ke kamar mandi sekolah.

Setelah senam ria, anak-anak saya arahkan ke lapangan. Pun demikian dengan Syahid yang langsung mengikuti. Setelah senam diiringi musik, saya mencontohkan strecthing tanpa musik dan dihitung bersama 1-8. Anak-anak mengikuti dengan baik, namun tidak dengan Syahid. sejak awal dia kurang suka diinstruksi atau mengikuti arahan dalam kelas, Syahid malah asyik main bola dan berlarian dengan kawan sesama kinestetiknya.

Syahid yang membawa bola kuning

Setelah selesai stretching dan lari memutari lapangan, anak-anak saya ajak untuk melempar tangkap 🙂

Namun bukan bola yang digunakan, melainkan boneka empuk tayo. Hehe. Biar nggak sakit kalau kena kepala. Setelah lempar tangkap dengan saya, saya bagi 2 kubu, laki-laki dan perempuan untuk saling lempar tangkap. Melihat lempar tangkap mulai membuat mereka bosan, saya ajak mereka bermain menjadi sopir & penumpang. Ada 1 yang memilih menjadi sopir, lainnya penumpang. Saya arahkan mereka ke pipa keseimbangan, biasanya jadi alat untuk meniti kali ini dijadikan bis-bisan wkwkw.

Pukul 09.50 saya arahkan mereka untuk masuk kedalam kelas lagi, mencuci tangan dan makan bersama (membawa bekal masing-masing) kemudian bernyanyi, berdoa dan pulang 🙂

Karena saya dititipi anak kepala sekolah untuk mengantarkannya ke tempat talaqqi, maka saya antarkan. Maryam namanya, disini ada pelajaran empati yang membuat saya terharu.

Si Syahid berjalan dengan Maryam, saya ikuti dari belakang dengan menggunakan sepeda. Setiba di tempat, Maryam bilang kalau tasnya ketinggalan. Sayapun bilang “baiklah, Maryam masuk aja ke Umminya ya. nanti ammah bawakan tasnya kesini” (saya berniat putar balik, meminta Syahid naik sepeda-bonceng).

Setiba di PAUD dicarilah tas itu oleh orang=orang yang masih disana. Katanya nggak ada tas Maryam. Akhirnya saya pun langsung pergi, pulang menuju rumah. Di tengah jalan Syahid mengatakan “Mi tas mbak mayam, mi mana? mi napa gak kesana?”

Saya terharu..ternyata dia ingin menyatakan bahwa seharusnya saya kembali lagi ke tempat awal untuk bilang kalau tasnya nggak ada. Sambil mengayuh sepeda menuju rumah, saya jawab “nggak Hid, nanti saja umi yang we-a -whatsapp kalau tasnya memang nggak ada di paud mungkin tadi dibawa oleh uminya mbak Maryam sebelum ke tempat talaqqi.”

Syahidpun diam nggak bertanya lagi 🙂

Sampai di rumah, Syahid membukakan gerbang dan meletakkan sandal di rak. Melihat itu tangannya penuh jajan cokelat pemberian wali murid tadi. Saya meminta dia ke kamar mandi untuk mencuci tangan, pipis dan ganti pakaian karena keringatan.

Seperti biasa, hiburannya Syahid buku dan smart hafiz. Setelah berganti pakaian, dia memilih membaca buku. Buku Favoritnya, buku cerita tentang anggota tubuh dari cerita mikronot cakrawala pengetahuan dasar.

Disini ada kejadian lucu, dia mencari buku itu di rak bukunya nggak ada. Hampir saja dia ngambek, namun saya bilang “Hid, cari di karpet dulu siapa tahu ada buku itu.” ternyata benar, buku itu tertutup tergeletak di karpet yang motifnya sama warna warninya hehehe.

Kemudian dia buka dan asyik bercerita.

Setelah bercerita, dan menutup bukunya, Syahid menuju dapur. Wah seperti biasa nih, pasti masak. Pikir saya. Ternyata dia meminjam peralatan dapur untuk masak-masakan, bukan masak beneran seperti biasa yang saya duga (Note : hobinya masak, mirip abinya).

Alhamdulillah yang dimasak bukan bahan beneran, biasanya dia meminta tepung atau bahan yang ada di kulkas. Terjadi dialog gini :

Syahid : Mi, mau telu?

Umi : telur? mau dong dimasakin telur..

Syahid : oke. *mengambil sesuatu dari laci.

Umi : *terbelalak, waw kok ada batu di laci nakas? -_-

Syahid : ahid masak ya mi. tok..tok..tok *mecahin telur yang tidak lain dan bukan itu batu, permisaaahh~

Fiuh, okelah. yang penting batunya nggak digores-goreskan ke panci stainless sayaa T_T

Selanjutnya makananpun matang, ini dia hasilnya :

Syahid bilang : “Miii sosis panas, kipas mii, kentang juga”

🙂

Imajinasinya luarr biasa yaa anak-anak itu.. wkwkwk

Selesai agenda siang, Syahid beralih untuk nonton smart hafiznya. Mendengar suara gemuruh guntur dia lari dari kamarnya menuju kamar saya. Melihat saya sedang duduk di kursi kerja, Syahid memilih nggak bertanya apapun (tau kali uminya lagi ‘kerja’) dia naik ke kasur tepat membelakangi saya, dan tak lama kemudian terlelap. Bersama smart hafiznya yang masih menayala -_-

Bobok Siang

Baikklah, Alhamdulillaah demikian cerita hari ini dalam rangka berkomunikasi produktif ke anak. Alhamdulillah semua pengamatan sudah saya ceklis (hari ini, hari ke-6) :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *