Game Bunda Sayang #BunSay Level 3 #Day 15 : Meningkatkan Kecerdasan Anak

Day 15 πŸ™‚

Wah, tidak terasa sudah mendekati hari terakhir game level 3. Dua hari lagi final :’)

Cerita hari ini cukup mengharu biru dan sangat beruntung lebih dari dua pekan ini saya fokus meningkatkan kecerdasan emosi anak. Kenapa beruntung?

Iya, ini ceritanya pas banget dengan kejadian hari ini.

Sekitar pukul 3 dini hari, Syahid bangun. Tepatnya dia ngompol, sesegera mungkin saya suruh dia ke kamar mandi, ganti celana. Saya kira saya bangun pukul 5 pagi, tergopoh pula akhirnya wudhu namun melihat jam masih menunjukkan pukul 3 akhirnya saya niatkan tahajud.

Syahid bilang kalau abi semalam merintih kesakitan, memang agenda abi beberapa pekan ini selalu penuh. Mulai dua kali bolak-balik ke rumah bapak selama syawal ini, mengisi materi ini-itu keliling hingga menjadi ketua panitia halal bihalal tanpa jeda istirahat. Benar-benar full, ditambah lagi selama Ramadhan abi jarang olahraga rutin dan mulai banyak menumpuk stress efek kerjaan bejibun. Pagi ini rencana mau bekam dan pijit namun semalam abi mengeluh pusing demam, setelah saya berikan obat, abi tidur.

Selesai tahajud, saya cek di kamar (karena semalaman abi tidur di kamar sendiri, saya dan Syahid di kamar depan) ternyata suhunya panas tinggi. Secara logika harusnya suhu badan turun karena semalam juga saya berikan paracetamol, bukannay turun malah makin panas. Saya panik dan reflek memesan grab mobil. Alhamdulillah pukul 3.30 driver grab sudah berada di depan rumah, kami ke IGD Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa.

Syahid sangat kooperatif, tanpa rewel dan merajuk dia anteng dan tidak banyak tingkah. “Mi, abi sakit ya, ke rumah sakit ya mi.” begitu terus dia berceloteh, sesekali memijit-mijit abinya yang kesakitan tidak tahan menahan sakit.

Singkat cerita, di RS dicek di IGD karena panasnya masih sehari, maka hanya disuntik dan kasih obat aja, Kata dokternya harus full rehat 2 hari (kamis-jumat), jika lebih dari 3 hari enggak ada perubahan maka abi harus balik lagi untuk cek lab.

Masih pukul 4 pagi, belum subuh pula, selesai menebus obat, saya pesan grab mobil lagi. Syahid dengan sabar menunggu dan tidak banyak tingkah, Syahid dengan sabar menghibur abinya yang sakit. Setelah Grab datang, kami langsung naik. Tepat masuk komplek, terdengar kumandang adzan subuh.

Abi segera minum obat dan istirahat. Saya sholat subuh dan lanjut beres-beres, homework untuk saya yaitu melipat dan setrika tumpukan jemuran yang kemarin belum dieksekusi, memasak, merapikan dapur dan mencuci pakaian. Karena sangat selow, saya pelan-pelan melakukannya. Paling penting dalam berbenah-menurut saya- adalah kenyamanan serta kesiapan diri, supaya aktifitas tersebut bisa saya nikmati. Efek dari perfeksionis jadinya ya begitulan, kerjakan totalitas atau enggak sama sekali. hihi. Dampaknya adalah..suka terakumulasi itu kerjaan di dapur.

Selesai sholat subuh, saya nyapu-nyapu. Syahid ikut keluar dengan dalih ingin melihat langit biru pagi.

“Mi..lihat keatas, lihat langit, ada apa mi?”

“ada planet hid, mirip bintang” ujar saya. Namun syahid mengelak, “itu bulan mi.. bulan..”Kemudian Syahid minta sepeda dikeluarkan, dia ingin ‘bermain roda’ alias putar-putar. *posisi sepeda dibalik.

Setelah itu, saya biarkan Syahid bermain bebas. Sesekali Syahid minta rekues, ambilkan pompom, main lego, baca buku, hingga malam ini pun dia minta bermain clay. Semua itu memang sengaja saya sediakan untuk project making art.

Seharusnya jadwal hari ini saya ajari dia melukis di kanvas, namun karena itu tadi-abinya sakit- maka semua agenda hari ini saya pending. Fokus saya hanya 2 : melayani abi dan memasak sekaligus beres-beres (biasanya ini kami bagi tugas, tapi hari ini saya full sendiri). Syahid sangat kooperatif, di sela-sela dia bermain, suka sekali diminta ambil ini-itu. Mulai obat abi, minum hingga saya libatkan beres-beres juga.

Karya Syahid membuat lego dengan susunan seperti roti. Sebenarnya sejak siang tadi dia minta bikin roti beneran, “Mii ayo bikin kue..”

Namun itu tadi, karena saya sibuk dan enggak bisa fokus mendampingi maka saya suruh dia bermain bikin kue-kuean aja dari tanah liat (clay). Tentu Syahid enggak puas, namun setidaknya itu mampu mengalihkannya dulu.

Sore hari Syahid rekues, “Mi mau pom-pom”

akhirnya saya kasihlah itu pom-pom sedikit -rencana mau buat prakarya gitu, karena pom-pom bisa buat nempel pola. Khusus belajar warna, syahid udah khatam, saya ajarkan pom-pom pertama kalinya waktu dia berusia 2 tahun, artinya hampir 2 tahun lalu. Dan ternyata sore tadi, itu pom-pom ‘dimasak’ -__- alias direndem gitu.

Namun ada juga yang dia jajar baris gitu aja, hehe.

Malam ini, Syahid mandiri dan mampu mengenali emosinya dan berempati. Oia, tadi sore waktu saya biarkan dia bermain di luar, Syahid tergopoh masuk dan bilang gini.

“Miii lihat syahid keringetan.”

Kemudian say cek, benar dia keringatan basah kuyup itu kepala dan jidat wkwk, “Gapapa nak, itu Syahid artinya seeeehaaat..”

“Asyikk sehat, sehat. Abi sakit ya mi?”

Saya tersenyum, mengangguk. “Bantu abi minum obat ya, biar sehat. Tapi Syahid enggak boleh tidur dekat abi, takutnya abi terganggu. oke?”

“OK mi”

Alhamdulillah, semakin terlatih menata emosinya ya sayang πŸ™‚

Terimakasih, Syahid hingga isya tadi bantu umi nyuci, jemur dan beres-beres.

Selain ritme emosi yang stabil dan baik, Syahid juga punya pola tidur yang bagus. Tidur sejenak di sore atau siang hari kemudian tidur malam juga bada isya’, alhamdulillaah πŸ™‚

Berikut tabel day 15 (27 Juni 2019, 21.00 WIB)

 

Tinggalkan Balasan