2.07 BUNSAY LEVEL 7 DAILY

Game Bunda Sayang #BunSay Level 7 #Day 3 : Semua Anak adalah Bintang

Introduction day-3

‘Emosi’ memiliki makna lebih dari sekedar perasaan yang dirasakan seseorang terhadap suatu hal. Perkembangan emosi enggak hanya selesai sampai si kecil pandai mengekspresikan perasaan, memahami aturan dan bisa bergaul dengan teman-temannya.

‘Emosi’ adalah perasaan yang turut terlibat saat seseorang memikirkan sesuatu dan ia dapat memberikan penilaian sendiri mengenai apakah sesuatu tersebut rasional, sudah tepat atau tidak melanggar norma-norma masyarakat serta ajaran agama.

Chai’s Play & tambahan sedikit Khoirun Nikmah

Sebagai seorang ibu, emosi juga sangat berperan penting dalam ‘meninggikan gunung’ seorang anak. Saya sempat membaca sebuah fenomena bahwa sebuah profesionalitas mampu menggerus perasaan dan menekan feminitas. Hal ini betul-betul saya rasakan kini. Itulah mengapa saya ingin ‘kembali’ mengasah kepekaan perasaan ini sambil membersamai anak untuk meraih bintangnya.

Menurut Ust. Adriano Rusfi, “Hati diciptakan oleh Allah untuk menjadi pemandu, sehingga ia bisa berfungsi sebagai radar yang memberitahu apa yang baik dan apa yang buruk.”

Hati seseorang akan merasa tenang setiap menghadapi hal yang baik dan akan gelisah ketika yang dihadapi itu buruk. Itulah mengapa pertimbangan hati mampu melebihi pertimbangan otak. Sebagaimana yang Rasulullah SAW. selalu teladankan.

Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa

(HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“).

Hati adalah organ yang cerdas, hati berfungsi ketika dia bersih dan jernih. Bahkan hti menjadi alat untuk mendalami ilmu. Maka, jalan agar kita bisa menjadi pakar dalam suatu ilmu justru dengan terlebih dahulu menghidupkan hati kita.

Al-Hadist

Danah Zohar dan Ian Marshall, pencetus spiritual intelligence, bahkan mengklaim bahwa spiritual intelligende is the ultimate intelligence.

Lalu, apa hubungannya dengan agenda hari ketiga, Nik?

Nyambung dengan pernyataan sebelumnya, bahwa emosi seseorang lebih dari sekadar perasaan semata namun penting untuk dituntun oleh hati yang bersih. Dari hati yang bersih dan jernih, semoga mampu mendongkrak energi cahaya anak sehingga ia bisa bersinar terang seperti bintang yang sangat besar, matahari.

Salah satu caranya adalah dengan mengasah empati anak. Dan kali ini, saya akan melaporkan agenda apa saja yang sudah kami kerjakan di hari ketiga.

Aktifitas Anak day -3

Secara random, agenda anak dari pagi adalah bermain bebas, kemudian bobo siang, siangnya maem dikit, minum jus, ada paket datang kemudian unboxing bareng lanjut baca buku baru. Menjelang siang, ada sedikit drama ingin lihat hp tapi akhirnya nurut gak mau nonton.

minum jus mangga
baca buku baru-paket baru datang

Menjelang sore dia membantu saya di kamar mandi -mematikan air penuh, eksplore tutup panci dan bermain peran- menjadi chef. Malam hari dia kupas dan potong-potong bawang putih atas inisiatif sendiri. Terakhir, malam hari dia baca buku lagi sebelum bobo.

sore hari- menjadi chef. ini hidangan yang Syahid tata sendiri (ambil serbet dari dapur untuk jd napkinnya)
memotong bawang
mengupas bawang
oprek tutup panci, jadi gasing

Itu yang tersirat.

Sedangkan yang tersurat ada beberapa dialog imajinasi dan dialog empati, begini :

  1. Ketika sedang di kamar, saya masih asyik cek notifikasi ponsel. Syahid protes, “Mi, hapenya matiin tolong.” (nadanya kurang suka dan mendesak, akhirnya saya matikan hape dan kembali fokus padanya).
  2. Ketika selesai membaca buku cerita (malam hari baca 4 boardbook), Syahid mengekspresikan diri kalau dia sedang membuat burger raksasa terinspirasi video chef turki (burger dia ciptakan dari bantal yang ditumpuk-tumpuk).
  3. Ketika saya sudah sangat ngantuk, saya diajaknya bernyanyi dan bermain musik (nyanyi lagu karangannya dia sendiri dan main musik pakai tangan- alias etok-etok). Matanya berbinar riang. Kemudian bisa tidur dengan sendirinya, walaupun dia agak kecewa karena saya enggak ikut tidur (masih baca buku hingga larut). Syahid tidur sekitar pukul 22 malam.

Semua Anak Adalah Bintang

Kali ini, saya jabarkan indikator keberhasilan hari ketiga sebagai berikut :

Umi meluangkan waktu membersamai anak

Alhamdulillah saya bisa membersamainya dari pagi hingga malam. Alternatif di sela-sela kegiatan (pekerjaan dan beberapa project) saya merger supaya selaras. Yakni ketika saya butuh waktu baca buku, saya ajak sekalian Syahid baca buku.

Umi tidak mengeluarkan energi negatif di depan anak

Alhamdulillah walaupun lagi haidh (hormonal, suka kemrungsung) saya masih mindful untuk tidak mengeluarkan energi negatif. Sehingga anak tetap merasa nyaman belajar.

Umi tidak ngomel, umi sabar

Ini nyambung dengan materi empati, ketika saya sabar maka saya bisa mendengar lebih jernih dan saya bisa berempati. Hal inilah yang saya praktikkan pada anak, sehingga anak pun bisa belajar meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik, melembutkan hatinya dan meninggikan empati.

Anak mampu mengungkapkan perasaannya

Alhamdulillah Syahid sudah terbiasa merasakan apa yang dia rasa, alami dan ingin ceritakan. Walaupun dari linguistik masih perlu dilatih lagi (mungkin efek dia kalau bicara terlalu cepat disingkat dan ekspresif, ini mengurangi kosakata yang keluar dari bibirnya) saya apresiasi Syahid anak yang jujur dan mempesona.

Binar mata anak memancarkan antusiasme dan keceriaan

Setiap membaca buku baru, dia gembira. Namun binar mata yang paling terang ketika dia mempraktikkan praktik memasak dan membuat kue (burger dan adonan yang dia ciptakan sendiri – kantong platik diisi air, diisi potongan bawang dia kepal-kepal semacam ngepal squihsy).

Abi mendukung kegiatan anak dan membantunya

Walaupun lelah pulang dari kantor, selalu rutin abi menanyakan aktifitas Syahid setiap malam. Bahkan menemaninya bermain.

Anak bebas eksplorasi sesuai apa yang diinginkan

Hari ketiga- seperti hari lainnya, Syahid bebas bermain apapun yang dia mau selama bertanggungjawab merapikan dan membersihkannya kembali. Alhamdulillah dia kooperatif. Termasuk Syahid suka sekali mengarang lagu.

Biasanya dia menyanyi lagu huruf hijaiyah, lagu finger (jari jemari) dan angka-angka. Tapi semalam sebelum tidur dia mengajak lagunya diubah.

“Omnom-omnom, omnom-omnom, how are you? how are you? here i’m, here i’m. How do you do?”

Syahid memang suka nontonfilm omnom dan dia hapal sampai detik-detiknya. Urutannya hingga caranya omnom masak, dia tirukan. Jadi, sebab dia sudah bosan dengan menyebutkan nama-nama jari, dia ubah itu lagu jadi omnom.

ini omnomnya ^^
Ceklis day-3

Demikian agenda di hari ketiga, Alhamdulillah binaran mata anak memancar riang seperti biasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *