SUSTAINABLE LIVING

#GSLseries (Green and Sustainable Living) – Homesteading

Introduction

Sedikit aku lompati- lebih cepat dibandingkan seharusnya aku update jurnal GSL dulu- kali ini aku langsung bahas teknisnya. Kenapa?

Pertama, jurnalku belum aku print, kemarin sempat kontak percetakan katanya harus datang sendiri. Well, aku enggak punya banyak waktu untuk meluncur ke Bogor kota.

Kedua, ya, sebab ada sedikit waktu luang aja. Jadi, aku langsung tulis daripada lupa, menguap.

Ketiga, aku mau post blog ini aku resume buat konten instagramku. So, simplenya adalah, aku post blog dulu, kemudian aku share ke instagram. Beres.

Oia, sebenarnya aku juga punya utang konten fiksi yang belum aku publish, cerita seorang gadis bernama Rayya (Novel Penyendiri) yang punya gangguan mental health. Udah pada banyak yang nanyain, tapi aku tersendat di plot, masih kena plot hole jadi aku endapkan dulu untuk sementara waktu (hingga waktu yang menentukan-tapi semoga beres bulan ini).

Kali ini aku mau bahas home steading. Topik ini masuk kedalam jajaran tema GSL. Sebenarnya, aku mau jelasin dulu maksud dari homesteading.

Homesteading is a lifestyle of self-sufficiency. It is characterized by subsistence agriculture, home preservation of food, and may also involve the small scale production of textiles, clothing, and craftwork for household use or sale. 

-by wikipedia

Ini kayak melawan arus ya? yes, betul. Prosesnya juga enggak bisa simsalabim, butuh waktu, tenaga, sumber daya dan skill untuk mewujudkannya. Keterampilan untuk hidup berkelanjutan cukup panjang dan banyak. Berikut salah satu poinnya.

10 keahlian hidup sustainable secara umum :

1. Bercocok tanam pangan

2. Pengadaan sumber energi/Alternatif sumber energi

3. Alternatif bahan bakar dan (transportasi)

4. Beternak secara holistik

5. Solusi sampah

6. Reklamasi air

7. Hidup sederhana

8. Do It Yourself (buat sendiri)

9. Ekonomi rumah tangga

10. Kontribusi sosial

Nah, homesteading itu merupakan definisi dari semua aspek diatas.

Experience

Sejak dulu, rasa tertarikku selalu fokus pada barang, bukan tanaman. Jujur aja, aku kurang meminati bidang ini, tanam-bertanam, penghijauan dan seterusnya. Terbukti dari nilai biologiku selalu standar, enggak bagus amat, enggak seperti matematika dan fisika.

Pengalaman di bidang tanam menanam kebanyakan dari peristiwa yang enggak disengaja.

Pernah zaman SMA, tiba-tiba ditunjuk menjadi panitia greencare volunteers program penghijauan sekolah. Berupa kompetisi antar sekolah untuk meraih gelar sekolah adiwiyata. Kegiatannya berupa kebijakan sekolah untuk peduli lingkungan, seperti ‘menghijaukan’ kelas dengan aneka tanaman, menyediakan keran cuci tangan, memilah sampah, mengolah sampah hingga membuat sekolah sejenis hutan hidup. Waktu itu tahun 2008. Alhamdulillah sih sekolahku -dengan segala effort yang dikeluarkan- mampu menarik perhatian para juri dan pada akhirnya bisa meraih gelar sekolah Adiwiyata.

Tugasku ngapain?

Jangan membayangkan yang keren-keren. Waktu itu aku cuma disuruh liputan aja, yes, aku berkutat di bidang jurnalis junior zaman itu. Hal-hal yang aku urus seputar wawancara, liputan dan membuat branding untuk majalah sekolah. So? enggak nyambung bukan dengan skill bercocoktanam?

Yes, betul-betul nggak nyambung -_-

Pasca menikahlah aku dihadapkan dengan dunia penghijauan ini lagi. Sang suami, alias partner hidup, ternyata suka sekali bercocok tanam. Mau tinggal di tempat segersang apapun, ngontrak rumah di daerah sepanas apapun, tetap aja rajin menanam dengan berbagai media apapun.

Aku kira hal itu menjadi passion dan memang hobi, ternyata saat test bakat dan komunikasi bersama asesor test talents, suami betul-betul punya bakat tersebut. Bakat planting disana. Didukung juga dengan cooking.

Lalu, apa yang dikerjakan?

Pertama, kami mengumpulkan berbagai referensi tanaman apa saja yang bisa ditumbuhkan secara mudah di rumah.

Suami punya pengalaman pernah berjualan tanaman di keluarganya, sehingga hal tersebut enggak begitu sulit. Didukung oleh basic knowledgenya yang merupakan alumni IPB.

Bogor sungguh panas akhir-akhir ini. Tanaman banyak yang gersang, mati. Namun di tangan suami, dia bisa mengantisipasi dengan memperbanyak bibitnya sebelum panen. Misalnya bayam brazil itu, hanya dengan media stek batang, bayam yang semula hanya berupa benih, kini bisa dipanen berkali-kali dan ditanam ulang.

Kami juga melibatkan anak, walaupun masih berusia 4 tahun namun hal itu menjadi lebih mudah untuk menjelaskan padanya.

Suami juga suka sekali mengumpulkan wadah bekas sisa dari kantor seperti akua gelas, bekas steorofoam orang beli makanan untuk dijadikan pot pembibitan.

Beberapa hal yang menjadi impian di rumah, jika rumah udah jadi, adalah menjadikan rumah penuh dengan sayur mayur sehingga sebisa mungkin enggak beli (kalau bisa tanam sendiri kenapa tidak?- udah mirip ucapan menteri perdagangan ya, hehehe. Eh tapi serius, ini eat locally, tanam sendiri merupakan bagian dari sustainable living).

Tanaman yang tumbuh di pot depan rumah kontrakan ada tomat, bayam, jeruk daun, jeruk buah, kemangi, salam, singkong dan sejenisnya. Pokoknya apapun yang bisa ditanam, selama ada media pembenihannya, tanam aja.

Kalau teman-teman bertanam apa?

Oia, ini baru satu sisi dari homesteading ya. Masih ada banyak hal yang bisa dipelajari. Next, kita bahas disini.

[Postingan ini bersambung]

1 thought on “#GSLseries (Green and Sustainable Living) – Homesteading”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *