EDUKASI

Hargai Sebuah Proses

Sudah masuk bulan Desember 🙂

Saatnya flashback setahun lalu, mengevaluasi perjalanan diri.

Hah? perjalanan?

iya, sejatinya hidup ini seperti petualang, traveller. berjalan terus hingga kelak terhenti di negeri abadi : akhirat. Tapi kali ini mulai merenungi segala hal yang itu berkaitan dengan proses diri, start menginjakkan kaki di kampus. usia 18 tahun.

Mulai dari ITS. Kampus impian dimana hampir semua orang mencibir. Sebab bagi mereka, semua hal diukur dari materi, uang. Bagiku ini cita-cita. Walaupun perjalanan SMA terseok-seok penuh duri, tapi keyakinanku bisa lanjut sekolah minimal lulus sarjana tak pupus oleh cibiran itu. Kuhargai diriku, kuhargai impianku.

Hasilnya? biarlah Allah yang menentukan. Jelas ini tawakkal sepenuh hati, setelah usaha dan doa kukerahkan. Alhamdulillah. aku bisa sekolah disini hingga lulus. Sebab tak jarang kujumpai beberapa rekanku seperjuangan menyerah, bahkan sebelum masuk perkuliahan, ada yang di tengah dan bahkan ada yang menuju garis finish : nampak bayangan putus asa dan say good bye dari kampus ini.

Disini ku berjumpa dengan orang yang luar biasa, penuh talenta. ibarat butiran debu, aku sungguh kecil disini. Kakak kelas yang keren, teman-teman yang mentereng semua bahu membahu saling membantu. Terimakasih ITS-ku. kuhargai prosesku, keegoisanku, idealismeku, kesalahan-kesalahanku dan beberapa kegagalan yang itu kusyukuri bahwa dengan itu aku bisa terus berjuang belajar hingga kini.

Kemudian kudipertemukan dengan sosok lain, beda kampus, beda suku tapi memiliki visi yang mulia : naik step. menuju pernikahan. Well, ini pilihanku. Beres yudisium, menikah. Mungkin ini yang menjadi pertanyaan banyak orang. Belum bekerja, mau menikah 😀 gapapa impianku menikah muda.

Terimakasih Aang Hudaya, sudah memberikan pandangan tersendiri bahwa aku pun bisa menikah denganmu. Kenapa? sebab sulit bagiku mempercayai sosok laki-laki, sebab masa lalu terlalu sering dibohongi bapakku. Janji yang penuh tipu daya, kini kau genapkan dengan suka cita : insyaaAllah membangun keluarga samawa.

Proses setiap orang berbeda, maka dari itu ngga fair jika kita membandingkan satu orang dengan oranglain. Hargai prosesnya, jika itu mau membandingkan alangkah baiknya membandingkan diri sendiri di masa lalu dengan masa sekarang 🙂

Kemudian 2014, 2015, 2016, 2017 dan kini 2018. Alhamdulillah setelah dihampiri orang, ditinggalkan rekan, kemudian sesuai intuisi mempertahankan orang dalam berusaha kini semakin meyakinkan diri ini bahwa “Allah tak akan memberikan beban pada dirimu, Dia akan memberikan sesuai dengan kapasitasmu. Maka mintalah kekuatan di pundak, bukan mengurangi bebannya.” dan “kamu akan diuji pada suatu poin, dimana kamu akan terus diuji pada poin tersebut hingga kamu lulus dan bersih darinya.”

Artinya apa?

Jika ujian itu ada padamu, yakinlah bahwa itulah cara Allah ‘memproses’ hatimu.

Jika ujian itu selesai, pasti akan datang ujian yang lain. Dan ujian paling mematikan bukanlah pada saat kita tertimpa rasa sakit, sedih atau penderitaan. Justru ujian kenikmatan itulah yang acapkali melalaikan.. Semoga kita mampu untuk terus mengelola semua hal yang baik ini.

Akhir kata, ngga melulu orang itu negatif, ngga melulu positif. Netral aja, di tengah-tengah aja. Maka tetaplah objektif. Dan be positive.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *