REVIEW

[Review Buku] Hidup Sederhana

Hari ini saya akan membedah buku yang sudah saya baca tahun 2020 lalu namun kembali saya tuntaskan Januari 2021. Buku ini masih relate dengan kondisi saat ini, dimana kita sebagai manusia seringkali pandai membuat hidup menjadi rumit dalam kondisi yang pelik. Apalagi selama sepuluh bulan terakhir. Kita isi hidup ini dengan kecemasan, harapan, sekaligus ketakutan. Kita dibayang-bayangi masa lalu, dan ajaibnya pula, juga mencemaskan masa depan. Sehingga kita menjadi manusia yang mengabaikan masa kini.

Banyak dari kita mencari kepuasan dalam kebendaan dan kebahagiaan dalam angan-angan, sehingga tidak fokus dan seringkali justru kitalah yang mengorbankan kekayaan yang hadir di sekitar kita dan menggantinya dengan pikiran yang tak ada puasnya. Mungkin kita perlu jeda, sejenak, menghirup aroma buku yang khas dan isinya yang merekonstruksi pikiran seperti pada buku ini.

Buku Hidup Sederhana merupakan kumpulan perenungan, pengamatan dan pemikiran yang dihimpun oleh Desi Anwar dari pengalamannya, kenangan masa kecilnya, pandangan hidupnya serta kebiasaan yang dilakukannya dalam menyiasati kerumitan hidup sehari-hari.

Detail Buku

  • Judul : Hidup Sederhana, Hadir si Sini dan Saat ini
  • Penulis : Desi Anwar
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman : 191 halaman
  • Tahun Terbit : Juli 2019 (cetakan pertama)
  • Genre : Non-Fiksi
  • Isi : Tentang pemikiran, pengalaman dan kisah hidup Desi Anwar.

Review

Buku ini termasuk buku yang ringan dan enak dibaca, saya sendiri lebih bisa santai namun lebih cepat membacanya dibanding buku lain karena halamannya yang tidak terlalu tebal. Tidak ada 200 halaman secara keseluruhan, menjadikan buku ini cocok sebagai teman perenungan. Bebas dibaca dari arah mana saja sebab setiap babnya saling lepas atau tidak berkaitan (bersambung) sebagaimana buku how to. Buku ini termasuk non-fiksi self help yang saya baca setelah going offline. Jadi mode terbalik, seharusnya membaca buku ini dulu ya karena going offline adalah buku lanjutannya.

Dalam buku ‘Hidup Sederhana’, saya diajak ‘berjalan-jalan’ menelusuri setiap kejadian yang dialami Desi Anwar dari waktu ke waktu yang setiap babnya terkandung pesan mendalam. Hidup sederhana dalam buku ini berkaitan dengan pola pikir, kebiasaan dan sikap diri. Jika teman-teman mencari cara konsep berbenah barang, atau teknis berbenah, tidak ada pada buku ini ya, namun mindset berbenahnya masih bisa kita dapatkan dari buku ini. Terdapat 53 pemikiran serta opini yang disampaikan oleh Desi Anwar yang dituangkan dalam 53 chapter yang ringan.

Melanjutkan Langkah Ke Depan

Salah satu chapter yang cukup relate dengan kondisi saat ini adalah berjudul ‘melanjutkan langkah ke depan’ yang menurut saya cukup ‘nampol’ kepala ini. Bagaimanapun terkadang ada salah satu sisi jiwa kita yang ingin menolak kondisi kini dan merindukan kondisi masa lalu, ada rasa sedih sekaligus kecewa yang juga turut serta. Namun, melanjutkan langkah ke depan adalah bagian penting dari upaya diri kita menyederhanakan hidup.

page 62

Desi Anwar mengisahkan tentang bagaimana sosok ibunya yang mengajarkan dirinya untuk bersikap pragmatis terhadap rasa kecewa atau kegagalan. Dan fokus melanjutkan langkah ke depan. Menurut ibunya, tidak ada satupun yang layak membuat kita depresi dan kecewa, dan sebab bahwa kondisi itu bisa merenggut kemampuan kita untuk menikmati hidup dengan segala pasang surutnya, maka tak selayaknya kita demikian.

Dalam hidup ini, jarang sekali segala sesuatu menjadi seperti yang kita inginkan atau tetap sama demikian. Padahal dengan menyadari bahwa apa yang tak kita inginkan hadir, itulah yang membuat hidup menjadi menarik dan layak dijalani. Kalau dalam bahasa motivasinya, ‘kita jadi bertumbuh dan menumbuhkan’.

Dengan memandang hal diatas dan kita meyakini bahwa dengan menyederhanakan hidup, pikiran dan sikap, maka beban kita akan terangkat. Saya sendiri merasa buku ini seolah-olah diri saya sedang berbicara pada diri saya sendiri sebab setiap pemikian Desi Anwar yang ia tuliskan, nyata dan agak mirip dengan masa lalu saya.

Saya pernah terpuruk sebab masa kuliah bukanlah masa yang menyenangkan dan nyaman untuk jiwa dan raga pribadi namun saya takut dan malu jika menyerah. Maka sehari-hari saya lalui bak zombie berkeliaran, tak tentu arah, melakukan aktifitas ala kadarnya, dengan kondisi apa adanya, berjuang dengan kemampuan yang sebenarnya sangat tidak optimal. Dari pengalaman itu, saya menjadi sadar, ada pola pikir yang salah. Alhamdulillah, setelah hijrah, lulus kuliah, menikah, saya justru lebih banyak belajar dan berdaya setelahnya. Didampingi suami yang seratus persen support hal baik, selalu memberikan pandangan positif dan tak pernah menghakimi.

Kini, saya semakin bersyukur. Bahwa saat itu saya tidak lari dari kehidupan yang menyakitkan dan memporak-porandakan. Justru saya hadapi walau langkah kaki sulit sekali untuk ditarik, berat. Setelah melalui itu semua, saya menjadi semakin bersemangat untuk belajar di universitas kehidupan yang nyata dan benar-benar menggembleng diri untuk berdaya, produktif dan bertumbuh.

Menggenggam Hari Ini (Carpe Diem)

Di bab terakhir, Desi Anwar mengulas tentang bagaimana pikiran bekerja dan betapa pikiran kita seringkali mengidap the monkey mind (pikiran melantur). Ia menceritakan tentang saudaranya yang memutuskan pacarnya dan berniat untuk tidak menghubungi lagi sebab masalah pikiran padahal baru jadian. Pacar saudaranya itu terlalu banyak berpikir dan membuat waktu yang mereka terlewatkan, kurang menyenangkan dan membuatnya tertekan.

Alasan itulah yang membuat Desi Anwar terkejut sekaligus takjub, betapa hidup di hari ini, detik ini, masa ini adalah persoalan bagaimana pikiran bertindak. Saudaranya itu tidak pernah mencemaskan masa depan, mengungkit masa lalu sebab fokus hidup di detik kini. Istilah itu disebut dengan carpe diem.

Penutup

Jujur saja, saya baru mengenal buku ini dan tahu sosok Desi Anwar tahun 2020 lalu padahal saya sering menonton videonya secara tak sengaja dan beliau adalah seorang jurnalis senior, news anchor andal kebanggaan Indonesia. Seniornya Najwa Shihablah. Namun Desi Anwar lebih kuat kepada komunikasi internasional sebab kemampuannya sudah tingkat dunia.

Saya tak mengenalnya karena saya tak memiliki televisi, hihi. Maka, siapapun yang punya channel TV dan terutama menonton tayangan berita dari RCTI hingga CNN tentu familier dengan Desi Anwar. Sosok yang pernah mewawancarai tokoh besar secara langsung, mulai dari Bill Gates, Dalai Lama, Richard Branson, Richard Gere, Kitaro, George Soros, Karen Amstrong dan banyak kepala Negara serta tokoh internasional lainnya.

Dan terakhir, jika teman-teman ingin melihat betapa Desi Anwar adalah sosok hebat yang juga hidup minimalis, ada di vidio berikut. Semoga terinspirasi!

Sampai jumpa di next post blog saya, tetap akan saya bedah buku lanjutannya Desi Anwar. Stay tune ya!

See you~

2 thoughts on “[Review Buku] Hidup Sederhana”

  1. Waah makasih mba, ulasannya. Ternyata ini republish dari buku yg aku punya (terbitan 2014). Kayaknya beda di layout dan minus foto2 ya. Buku sblmnya lumayan byk foto2 😁 bagus bukunya.

    1. Wah iya, yang awal yang dokumentasi foto traveling atau perjalanannya Desi Anwar tahun 2014. Tapi saya belum baca yang itu. Hehe.

Comments are closed.