SELF HEALING

Ikhlas sebagai Detak Kehidupan

Judul di atas telah saya bagikan pada agenda liqo sesi kultum pas giliran saya kemarin, Selasa 3 Agustus 2021. Referensi saya dapat dari buku di rumah, salah satu buku yang tak saya lepas (declutter) sejak kuliah. Jadi, buku ini termasuk penting dan cukup sentimental bagi saya. Dari judul ‘Sehat Berpahala, Nikmat di Dunia, Dahsyat di Akhirat’ karya dr. Egha Zainur Ramadhani.

Didalam buku tersebut membahas beberapa topik terkait hati. Ada Ikhlas, Khusyuk, Sabar, dan Syukur. Namun di sini saya hanya membahas seputar ikhlas karena menurut saya, sangat relate dengan kondisi saya sepanjang terpapar covid-19. Saya membaca ulang buku ini, dan seperti awal memilikinya, 10 tahun silam (buku ini saya beli pada tahun 2011), masih tertampar dan merasa diingatkan berkali-kali. Sampai-sampai saya harus merenung dan menghela napas beberapa kali untuk meresapinya.

Amalan penting yang mutlak dimiliki setiap kita, sekaligus standar perilaku untuk sukses menjalani hidup, adalah ikhlas, sang detak kehidupan.

Apa itu Ikhlas?

Ikhlas berasal dari bahasa Arab, yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Dari bahasa asalnya, ikhlas berasal dari kata “akhlasha” yang berarti bersih, murni, dan jernih.

Adapun dari segi istilah, para ulama memberikan pendapat beragam sesuai dengan kecenderungan dan spesialisasinya masing-masing.

Imam al-Mar’asyi : “ikhlas adalah kesamaan amalan seorang hamba yang dilakukan secara lahir dan batin.”
Artinya orang yang ikhlas biasanya amalannya akan sama, baik ketika ia seorang diri maupun ketika berada di tengah-tengah orang yang mengenal dirinya.

Imam Abu Qasim al-Qusyairi : “memaksudkan segala amalan dengan memfokuskan tujuan dalam ketaatan semata-mata hanya kepada Allah SWT.”

Ali Abdul Halim Mahmud : “keikhlasan adalah berlepas diri dari sesuatu selain Allah SWT, yaitu bersihnya perkataan, perbuatan, atau meninggalkan sesuatu hal dengan tujuan mencari ridha Allah dan pahala dari-Nya.”

Semua definisi di atas hakikatnya memiliki kesamaan pandangan, yakni ikhlas merupakan memfokuskan tujuan suatu amalan, hanya semata-mata untuk Allah dan kepada Allah, dengan menjauhkan diri dari tujuan-tujuan lain yang bukan kepada Allah SWT.

Dalam Alqur’an diumpamakan dalam Q.S An-Nahl : 66

وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ

66. Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.

Susu yang disebut di atas ‘labanan khalisan’ menggambarkan betapa dari dua hal yang sama-sama kotor, kurang baik, diantaranya bisa dihasilkan susu yang murni. Susu di sini ibarat ikhlas, motivasi lurus karena-Nya, meski sejuta kotoran jiwa berusaha mencampurinya.

Begitulah ikhlas, tidak ternodai sedikitpun oleh kekotoran jiwa ataupun motivasi sempit apapun. Terkotorinya dengan niatan lain, tak ubahnya susu yang telah tercemar. Bisa dibayangkan, jika sedikit saja tercampur -entah oleh darah ataupun kotoran- setetes saja tentu akan menimbulkan penyakit. Demikian resiko dari orang yang jauh dari keikhlasan, tinggal menunggu waktu, kapan penyakit akan menyerangnya, apakah di dunia atau ditangguhkan dalam pedihnya hukuman di akhirat, naudzubillahimindzalik.

Kenapa Harus Ikhlas?

Pertama, jelas sebagai syarat diterimanya amal. Karena tanpa keikhlasan, amalan seseorang ibarat jasad tanpa ruh. Dalam alquran surat Al-Bayyinah : 5

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Dan Rasululah saw bersabda :

“Sesungguhnya Allah itu thayyib (terlepas dari noda dan kekurangan), tidak menerima sesuatu kecuali yang thayyib…” (H.R Muslim)

Tanpa adanya keikhlasan, amalan yang dilakukan akan hilang sia-sia. Seringkali manusia mengalami kerugian itu, perbuatannya jadi tak berarti, karena tercampur niatan amalnya dengan niatan yang lain.

Kedua, ikhlas mutlak ada dalam sehat.

Terkadang saat cobaan datang mendera, sulit bagi seseorang untuk berpikir jernih yang seharusnya cobaan itu menjadi potensi meningkatkan derajat dan mendekatkan diri pada Allah. Tak heran terkadang yang dilakukan pun berpola instan, ingin secepat mungkin menyingkirkan rasa tak enak atau tak nyaman tersebut. Alamiah memang, tidak salah, namun pada sikap berikutnya itu ‘lupa’ sesungguhnya untuk menggantungkan kesembuhan hanya pada Allah, tapi pada terapis (doter atau pun juru obat) lainnya. Kelupaan yang berakibat hilangnya keikhlasan. Jika sembuh, terapis itulah yang dipuja, jika bertambah buruk, celaan padanya juga tak kalah hebat.

“Setiap penyakit ada terapinya. Ketika terapi diberikan tepat, penyakit itu tersembuhkan dengan izin Allah yang Mahakuasa.” (H.R Muslim)

“Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku.” (Q.S Asy-Syu’ara : 80)

Maka, seharunya kita ikhlas, menggantungkan diri pada Allah. Mendatangi terapis atau dokter hanyalah usaha manusiawi manusia. Sebab ikhtiar juga penting namun kesembuhan adalah hak prerogatif Allah.

Ada banyak penelitian terkait kunci ikhlas untuk sehat. Seperti konsep SEFT dan placebo. Tak heran banyak sekali orang yang bergulat dengan penyakit, usaha kesana-kemari untuk sembuh kenyataannya di saat terakhir, pasrah, dan memekikkan nama “Allah… Allah…” dengan ikhlas, Allah turunkan kesembuhan. Masyaa Allah.

Ketiga, ikhlas itu sehat. Fakta yang tak terelakkan bahwa seseorang lebih banyak sehatnya justru saat ikhlas terkandung dalam raganya. Keikhlasan mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif, dimana itu dapat memperbaiki mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Mekanisme ini terbentuk dari 2 cara : belajar dan mengingat. Mekanisme perbaikan dan pertahanan diri inilah disebut dengan istilah coping.

Coping memang tidak menyelesaikan masalah, namun membantu setiap manusia untuk mengubah persepsi dan meningkatkan kondisi yang dianggap mengancam. Misalnya saat terpapar covid, kondisi orang yang ikhlas dengan yang masih denial tentu berbeda. Orang yang ikhlas akan jauh lebih mudah recoverynya.

Namun coping juga dinilai efektif dan memiliki kedudukan penting dalam ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan bahaya (entah penyakit, kejadian menyedihkan yang menyerang psikis maupun fisik). Jika diteliti lebih dalam, berkaitan dengan hormon kortisol seseorang.

Musuh Abadi Keikhlasan

Mengupayakan keikhlasan memang tak mudah, banyak hal rintangan yang pasti berupaya untuk terjegal darinya. Dan musuh paling kentara dari keikhlasan adalah riya’. Hal inilah merupakan perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil,” sabda Rasulullah. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “riya’.! Dan Allah akan berkata pada hari kiamat terhadap mereka-mereka yang riya’, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riya’i, apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?” (HR Ahmad). 

Dr. Sayyid Muhammad Nuh menggambarkan adanya 3 alasan atau sebab yang menjadi motor penggerak timbulnya riya’.

  1. karena ingin mendapatkan pujian dan nama baik di mata manusia.
  2. khawatir mendapatkan celaan manusia.
  3. menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain (tamak).

Ali bin Abi Thalib mengemukakan ciri-ciri riya yang terdapat dalam jiwa seseorang, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri :

  1. malas untuk beramal jika seorang diri.
  2. giat beramal jika berada di tengah-tengah orang banyak.
  3. bertambah semangat dalam beramal jika mendapatkan pujian.
  4. berkurang frekuensi amalnya jika mendapatkan celaan.

Bagaimana cara Menjauhi Riya’?

Dalam hal ini beberapa ulama memberikan batasan. “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya karena takut dilihat orang kemudian tidakmau beramal , itu juga termasuk riya. Sementara beramal untuk manusia itu syirik, dan ikhlas terlepas dari keduanya (riya dan syirik)”. Pendapat ini memberi arti bahwa jangan karena takut riya, kemudian kita enggan beramal. Sebab pilihannya jelas, berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan keikhlasan. Baik saat sendiri maupun bersama manusia lainnya. Sebab Allah Maha Melihat.

Tips menjauhi riya :

  1. Tanamkan logika terbalik saat beramal.
    a. JIka ada yang menyanjung, ingat dia seolah tengah membuatmu kehilangan amal, segera sambung dengan memperbanyak istighfar.
    b. Jika ada yang mencela (misal : sok alim, dst.) segera sambung dengan kalimat hamdalah dan teruslah beramal.
  2. Biasakan variasi saat beramal. Terkadang sendiri dan sembunyi, terkadang terang-terangan dan bersama banyak orang. Dengan demikian insyaaAllah kita terfokus hanya pada Allah dalam kondisi apapun.
  3. Zuhud dan bersikap ‘cuek’ terhadap segala perhiasan dunia yang bersifat materi. Sebab memperturutkan nafsu duniawi sungguh mudah membuat orang tergelincir.
  4. Jangan hiraukan pembicaraan yang terkait dengan pembanggaan diri. Jika memungkinkan, menjauhlah. Jika tidak, bersikap positiflah dan perbanyak doa perlindungan pada Allah.

Demikian resume singkat dari kultum liqo, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan