EDUKASI INNERCHILD

INNER CHILD

Pernah gak kita melakukan atau merespon sesuatu secara tidak sadar alias reflek begitu aja? Di saat kondisi kita sedang bosan, sendirian, marah, stres atau lelah…? Pernah marah ga jelas (bukan PMS ya guys). Namun reflek itu membuat kita menyesal.. se-menyesal menyesalnya.

Contoh paling mudah adalah saat kita memiliki anak, seperti mata rantai.. respon kita sungguh tidak sehat, misalnya dalam kondisi tertentu (marah/emosi) yang biasanya kita sabar membersamai anak, tetiba melihat hal sepele -SEPELE GUYS- tanpa kita sadari respon kita tidak sewajarnya pada anak, misal marah, teriak, ngamuk, dan segala hal yang itu (sebenernya) kita tau di teori parenting tidak boleh kita lakukan.

Atau di saat punya masalah dengan pasangan atau keluarga atau siapapun. Respon diri kita bisa jadi mundur, maju meringsek atau bahkan menarik diri- cuek. Itu merupakan wujud dari sikap yang tanpa kita sadari kita lakukan.

In popular psychology and analytical psychology, inner child is our childlike aspect. It includes all that we learned and experienced as children, before puberty. The inner child denotes a semi-independent entity subordinate to the waking conscious mind.

Seperti itulah wujud innerchild kita. Di bidang ilmu psikologi dan analisi, innerchild ini merupakan salah satu hal populer yang dipelajari. Innerchild ini sekumpulan folder sangat besar yang menjadi memori anak (tabungan emosi) dalam hal segala aspek yang ia lihat, rasakan, pelajari dan itu ditimbun dalam kurun waktu emas (kita sebut fase- tercerdasnya otak/golden age) dalam masa sebelum pubertas. Memori inilah yang menjadi bagian dari entitas pikiran alam bawah sadarnya.

 

Pikiran alam bawah sadar inilah yang mendominasi respon di saat kita dewasa kelak. Respon reflek terjadi di kala kita ‘lupa kesadaran’ atau istilah gaulnya ‘lagi gak sadar/gak inget Tuhan’ gitu. istilahnya saat sedang BLAST -bored, lonely, angry, strees, tired- maka yang terjadi adalah respon alam bawah sadar, sebentar aja responnya tapi menyakitkan. Misalnya, dulu pas aku masih kecil, setiap kali ibuku marah maka ia akan banting pintu, lempar barang dan menyendiri tidak menyapa siapapun. hal itu terjadi berkali-kali konsisten dan selalu kuingat, maka sejak aku balita, aku jarang bisa mengekspresikan apa yang kumau, lebih kepada kupendam dan jika sedang marah atau lagi punya masalah maka aku cenderung menghindar, menarik diri, menyendiri dan menepi dari keramaian. Jika sedang stress maka aku (jadi persis seperti ibuku) lebih suka diam, mengalihkan aktifitas 9jadi males banget atau tiduran atau baca buku- abai pada kewajiban) dan bahkan bisa juga marah-marah luar biasa (dengan melempar/merusak barang). hal ini reflek tanpa kusadari, namun mulai kuminimalisir.

Bahaya gak sih?

BA-HA-YA karena merusak produktifitas dan sifat penurunan. Kita gakmau kan punya anak yang sama persis (sifat jeleknya) dengan kita. Kita mau anak kita jauh lebih baik sifatnya, misal lebih tekun, sabar, percaya diri, kreatif, membanggakan dll. Orangtua selalu berharap lebih pada anak-anaknya namun orangtua tidak mau belajar dan memberikan nutrisi (otak) lebih baik pada anaknya. Nutrisi ini bukan sekedar makanan atau fisik, melainkan pola asuh dan pendidikan didalam rumah.

Pernah gak melihat seseorang yang sukaaaaa banget lihat TV atau main game tanpa kenal waktu. Hal ini bisa jadi saat ia masih kecil, ya itulah pelampiasan ’emosinya’. Gakbisa ngomong ke orangtua ‘yg superior’ maka ia bicara pada ‘yg lain’ benda benda mati sekalipun. Kita gakmau kelak pola asuh buruk orangtua kita turunkan pada anak cucu kan? maka innerchild ini perlu ‘dirangkul’ diobati.

aku pribadi masih belum ‘beres’ dengan innerchild apalagi sejak kecil gak pernah deket dengan bapak (padahal parenting islam menganjurkan cinta pertama anak harusnya diajarkan oleh ayahnya- dengan memberikan deskripsi cinta yang bertanggungjawab- dipenuhin tuh tangki emosi cintanya. kalau anak laki-laki dg ibunya, supaya tidak ada kejadian menyimpang), istilahnya ‘anak emas orangtua’ anak pertama contoh untuk adik-adiknya (tapi aku anak tunggal jadi ga punya adik ya). Namun faktanya aku justru dinyatakan oleh (pernyataan bapakku snediri) kalau ‘anak yang dibuang’ karena faktanya memang gak diurusi, tiap ketemu dicaci, tiap kusamperin ke rumahnya justru diancam2- sejak ortu pisah. maka wajar jika aku pernah punya perasaan ‘dendam’ pada laki-laki. aku merasa baik-baik saja jika aku tidak menikah (gila banget ini, untung jaman itu belum ada arus pelangi-LGBT- bisa-bisa kecemplung disana tar naudzubillah).

nah, segala hal memori masa lalu di waktu kecil ini mengendap di alam bawah sadar kita. maka jelas, setiap orang punya respon berbeda pada sesuatu, karena masa kecil tiap anak jelas berbeda.

 

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Pertama, CLEANSING. ini gak mudah, membutuhkan proses dan kesabaran tinggi. Memahami diri sendiri (innerchild) kita ternyata tidak mudah. terbukti saat aku mulai cleansing, diri kecilku gakmau menoleh. ia seolah cuek, marah, diem, gak respon saat kupanggil. Seolah ia sudah ‘nyaman’ dengan dirinya selama ini, padahal aku pribadi sebagai orang dewasa sungguh pengen segera cleans all. ternyata gak bisa cepat, sampai detik inipun tetap berjalan untuk cleans semua hal menyakitkan di masa kecil. aku paham ortuku (ibuku) saat itu sangat tidak bahagia apalagi menikah disebabkan diguna-guna oleh bapak (duda). sehingga pelampiasannya pasti kepadaku, aku gak menyalahkan ibuku sebab ibu pasti (sebelum diguna-guna) punya dambaan hati lain (ah kisah SMA ibuku kalau dijadikan novel bisa mengharu-biru lho yang baca). Intinya ini smeua adalah ujian, saat berpisah dengan bapak, diri kecilku merekam semuanya. Semua kepahitan itu. Jika kalian melihat ortu bercerai saat kalian sudah usia remaja/menuju dewasa, maka hal itu tidak akan terlalu menyakitkan sebab memori masa kecil kalian sempat diisi hal-hal baik dan harmonis. sedangkan diriku sejak usia 1tahun hingga balita (sebelum TK) melihat hal buruk setiap hari maka wajar sempat kubenci orangtuaku (namun saat ini sudah kumaafkan- hasil cleansing di medical centre ITS).

Kedua, YAKINLAH bahwa diri kita mau belajar dan mau menjadi manusia yang lebih baik. Gak ada ceritanya di dunia ini seseorang gak mau berubah lebih baik. itu FITRAH basic kita sejak kecil, jika masa kecil kita suram maka tugas saat ini adalah belajar supaya hal itu tidak menimpa/ kita timpakan pada anak kita, sebab pengasuhan adalah memberikan contoh model pengasuhan selanjutnya pada nak. Kata Bunda Kiki Barkiah, setiap aktifitas kita yang kita lakukan bersama anak, setiap detik akan ia pelajari dan akan ia sampaikan pada keturunannya kelak. maka jangan sampai hal itu terjadi menyakitkan.

Ketiga, BAHAGIA. ini lah kunci utamanya. bahagia itu gak melulu soal uang guys. Perasaan nyaman, tenang dan penuh kesyukuran merupakan faktor timbulnya rasa bahagia. Orang yang punya mobil mewah belum tentu bahagia (mungkin sebab cicilan, wwkwkwkwk) atau orang yang hidupnya (nampak) biasa aja bisa jadi ia mampu mengelola rasa bahagia di dadanya. Intiny kita harus tau cara kita sendiri untuk bisa bahagia. kalau aku pribadi gak suka nongkrong, ngobrol di luar. Mungkin sebagian emak2 sudah ‘plong’ dan bahagia jika semuanya ia keluarkan melalui obrolan di forum-forum tetangga (nongkrong). kalau aku justru plong di kala jemari ini menyentuh tuts tuts keyboard di depan komputer seperti saat ini, inilah faktorku bahagia. Jadi gakbisa diganggu gugat kalau udah duduk sepagi ini didepan komputer. Wkwkwk

Okeh, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memahami diri sendiri, membahagiakan jiwa diri sendiri dan mempu menabrkan rasa bahagia itu untuk sekitar kita.

Good morning guys, have a nice friday 🙂

4 thoughts on “INNER CHILD”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *