3.2 BUNCEK ULAT-ULAT IBU PROFESIONAL

Jurnal Pekan 2 – Tahap Ulat Bunda Cekatan – The Mental Unload for Self Love before Managed Time

Memasuki pekan ke-2 di tahap ulat, kini kami memasuki gua gelap yang hanya berisi suara dan kerlip cahaya. Pada pos jurnal kali ini, saya bagi menjadi 5 sub-topik pembahasan, yaitu :

  1. Proses memilih media belajar yang saya lakukan untuk menyediakan ‘Ini Potluckku’ selama berada di gerbang goa pengetahuan.
  2. Potluck yang saya sediakan untuk teman-teman dalam goa pengetahuan.
  3. Proses mencari ‘Ini Makananku’ meliputi makanan utama dan berbagai kudapan.
  4. Isi ‘makanan utamaku’ yaitu cerita tentang lanjutan perjalanan peta belajar yang menjadi hidangan utama selama menjadi ulat.
  5. Potluck teman yang saya jadikan makanan pekan ini.
  6. Materi kudapan yang sudah dihidangkan di kelas pada hari Senin 15 Februari 2021 Jam 14.00 WIB dengan Tema Komunikasi Produktif berjudul “Mendisiplinkan anak usia 2-12 thn dengan metode 123 Magic” Bersama Riefki Amalia Purple.
  7. Kesimpulan.

Oke, mari kita mulai!

Podcast : Pilihan sebagai Media Belajar Pekan Ini

Apa itu podcast?

Menurut wikipedia, podcast bisa disebut dengan webcast atau siaran web. Siniar atau siaran web tanalir adalah serangkaian berkas media digital yang diterbitkan sewaktu-waktu dan sering diunduh melalui sindikasi web. Kata ‘podcast’ mengalahkan istilah ‘webcast’ dalam bahasa sehari-hari, karena meningkatnya kegemaran iPod dan umpan web. Jadi, untuk generasi 90-an yang gemar menyimak radio, kini sudah ada radio dalam bentuk siaran tunda dan bahkan bisa diunduh, kita sebut dengan podcast.

Kenapa podcast?

Pertama, karena memang pada momen pekan kedua ini, diminta untuk mendengar dan mendengar. Kondisinya ada didalam gua belantara perjalanan. Jadi, media podcast ini menurut saya yang cocok sebagai media pembelajaran.

Kedua, sudah lama tidak mengisi podcast. Tahun lalu, saya sempat membuat akun di anchor namun tidak saya rawat sebagaimana mestinya.

Ketiga, ingin cek kemampuan bersuara. Ternyata saya perlu belajar lagi, terutama harus menyiapkan draft manuskrip dulu, di kelas ini saya tidak melakukannya dengan optimal sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk melanjutkan ‘ngulik’ podcast lagi nanti.

Potluck ‘Ini Makananku’

Potluck kali ini tetap harus sejalan dengan CoC Ibu Profesional, dan saya menangkap bahwa ini potluck adalah hal yang sduah dikerjakan dan bahkan masih ditekuni hingga kini, maka saya membuat potluck berisi suara perjalanan berbenah saya memangkas clutter. Karena durasi hanya 3 menit, rasanya saya belum optimal dalam penyampaian. Memang lebih jago dan bagus public speaking suami dibanding saya, namun dari sini saya jadi lebih banyak belajar lagi untuk bagaimana menyuarakan suara. Semoga lebih istiqomah. Amiin.

Isi podcast saya di sini.

Proses Mencari Makanan Pekan ke-2

Sesuai dengan peta, makanan saya sudah jelas saya atur sejak awal membuat peta belajar. Di pekan kedua, saya sudah memiliki jadwal untuk menyimak materi mental unload dan memanfaatkan live coachingnya.

Jika pekan pertama saya melahap ilmu ‘managed distractions’ maka pekan kedua, saya fokus pada mental unload. Adapun untuk kudapan, saya memilih di FBG yang selaras dengan yang saat ini saya kerjakan.

The Mental Unload : Isi Makanan Utama Pekan ini

Judul Materi : The Mental Unload, Clearing the Mental Clutter of Parenthood.
Coach : Denaye Barahona, P.hD.
Platform : Website simple families, live coaching on zoom, dan Workspace on Slack Apps.
Durasi : 11 Febaruari-18 Febaruari 2021.

Sesuai dengan jadwal yang saya lingkari, saya mengikuti kursus mental unload dengan rincian materi 4 step. Setiap materi disampaikan didalam website, kemudian ada penugasan, didiskusikan di slack dan diadakan live coaching 2 kali.

  • Step 1 : Unpack it. Tanggal 11 Februari 2021.
  • Step 2 : Understand it. Tanggal 14 Februari 2021, sekaligus live coaching part #1
  • Step 3 : Reduce it. Tanggal 16 Februari 2021.
  • Step 4 : Maintain it. Tanggal 18 Februari 2021, kemarin.

Dan hari ini, tanggal 19. Saya merangkumnya, intisari dari makanan utama saya.

Perjalanan Coaching

Sejak awal masuk kelas, saya dan teman-teman peserta mendapat tantangan untuk kesuksesan menata mental. Yaitu saya harus menahan diri untuk tidak mengucapkan ungkapan dalam percakapan, seperti “Saya sibuk”, “Saya sangat sibuk”, “Hidup itu sibuk”, “Hidup itu gila”, atau variasinya di sana. Jika ada orang yang bertanya “Bagaimana kabarmu?” – jadilah orang yang kreatif dengan jawaban tanpa menggunakan kata-kata ‘busy’ dan sejenisnya tadi.

Sebabnya adalah kata-kata yang kita gunakan berdampak besar pada pikiran kita. Jika kita sering menggunakan ekspresi seperti ini, itu seperti kita sedang mencuci otak diri sendiri.

Termasuk dalam hal menjaga kerahasiaan dalam grup global ini. Apa pun yang dikatakan dalam kelompok komunitas harus dirahasiakan di antara anggota kelompok. Itu termasuk tidak mengirim ulang atau membagikan apa pun, dengan siapa pun. Sebab ada percakapan pribadi dan intim yang dibagikan oleh anggota dan diharapkan para peserta menghormati itu.

Beberapa insight selama mempelajari mental unload :

Step pertama, unpack it. Disini saya belajar tentang ‘no busy talk’. ‘ my why’, ‘my seesaw’ dan mengubahnya serta ‘the power of awareness’. Di tahap ini saya harus melakukan visualisasi. Dari sinilah saya memahami bagaimana cara menimbang stress, memperhatikan respons tubuh serta respons komunikasi yang selama ini belum dibongkar. Ibarat iceberg, gundukan gunung, selama ini terlihat permukaannya saja, adapun dalamnya perlu digali lagi.

Step kedua, understand it, saya menuliskan beberapa lembar (range 100-500 lembar) tentang segala hal yang saya anggap clutter kemudian mengurainya. Selama ini terasa sulit ibarat sedang bermain playdough, warnanya saling teraduk, tercampur, menjadi tak terkenali campuran warnanya, maka perlu dibongkar kembali. Di sinilah saya diminta untuk membaginya kedalam 3 kategori sesuai penjelasan kelas, yaitu worry, executing, planning. Dari ketiga itulah saya mulai bisa memahami mental saya secara jelas.

Step ketiga, reduce it. Disini saya belajar untuk letting go dan berdamai dengan diri sendiri.

Step keempat, maintain it. Menata ulang kembali mental dengan beberapa mantra, afirmasi positif dan self talk.

Itulah makanan utama saya di pekan kedua.

Mencicipi Potluck Teman

Karena maish berkaitan dengan parenthood dan makanan utama saya, maka saya mencicipi di album potluck ‘Keluarga dan Parenting’. Disini saya belajar tentang tips mengajar efektif dan menyenangkan. Kebetulan anak saya memang sedang daring sekolah online usia TK, jadi pas banget saya menyimak kudapan ini.

Tipsnya ada 6.

  1. Pembukaan, membuat pembukaan dengan berdoa dan meluruskan niat.
  2. Ice breaking.
  3. Sampaikan materi dengan melibatkan anak didik (interaktif).
  4. Gunakan media dan metode pembelajaran yang seru dan menarik.
  5. Evaluasi diselingi permainan.
  6. Apresiasi

Dan yang paling penting adalah menyampaikan materi pembelajaran dari hati, karena apa yang dari hati akan sampai ke hati anak-anak.

Materi Kudapan : Mendisiplinkan anak usia 2-12 thn dengan metode 123 Magic

1-2-3 Magic is a discipline program that focuses on implementing. time-outs for inappropriate behaviours. It helps adults gain control. of their own emotions and eliminates a lot of talking.

Originally published: 1995
AuthorThomas W. Phelan
Original language: English

Apa itu 1-2-3 Magic?
Prinsip dasarnya adalah orang dewasa terlalu banyak bicara. Kita mungkin pernah membuat kesalahan dan kebanyakan (mungkin) kita berpikir bahwa anak-anak adalah orang dewasa mini. Kita berasumsi bahwa anak-anak berpikir tentang berbagai hal dengan cara yang sama seperti kita, jadi saat kita mencoba menjelaskan berbagai hal dengan sangat detail kita berharap anak menangkapnya, padahal tidak. Wkwkwkwk.

Thomas W. Phelan, Ph.D. adalah seorang psikolog klinis yang menerbitkan edisi pertama dari bukunya yang sangat populer, 1-2-3 Magic: 3-Step Discipline for Calm, Effective, and Happy Parenting pada tahun 1995. Sejak itu Edisi keenam dari buku ini jadi gebrakan di seluruh dunia

Bagaimana cara kerjanya?
Ketika anak melakukan sesuatu yang ingin rasanya menghentikannya, kita diminta untuk berkata, “Itu satu.” Dan kita menunggu lima detik. Jika mereka belum berhenti, kita lanjutkan berkata, “Itu dua.” Kita menunggu lima detik lagi, dan jika mereka masih belum berhenti, maka kita berkata, “Itu tiga.” Dan kita diminta untuk diam sejenak untuk mengambil napas.

Kunci dari metode ini adalah hitungan dan tanpa kata-kata cukup hening aja- “Itu satu. Itu dua. Itu Tiga.” – kemudian diam. Kita release emosi dulu. Setelah waktu menyendiri selesai, emosi netral, kita tidak perlu mengobrol dengan anak. Mereka hanya diizinkan untuk terus bermain apa adanya kecuali jika sudah membahayakan diri.

Gagasan dengan lebih sedikit berbicara dan sedikit emosi ditujukan agar orang tua bisa menghindari ledakan emosinya sendiri, tidak akan memberikan ancaman kosong, dan tidak membentak anak-anak.

Dalam FBG Bunda Cekatan, dirangkum dengan 3 tahap. Yaitu :
1. Tanpa Bicara.
2. Tahan Emosi.
3. Lembut dan Tegas.

Kesimpulan

Pekan ini penuh dengan ilmu. Hampir-hampir kekenyangan menengok potluck dari berbagai album. Kalau saja tak berpegangan pada peta, bisa gak gerak ini badan saking asyiknya ngemil Wkwkwkkw.

Tak sabar menunggu pekan selanjutnya! Ada kejutan apa lagi ya?

Bibliografi

  1. Website & course The Mental Unload simplefamilies.com/member-login/
  2. FBG Bunda Cekatan Batch 2.
  3. Wikipedia

Tinggalkan Balasan