IBU PROFESIONAL

Jurnal Pekan 4 – The Jungle of Knowledge (Membuat Peta Belajar) Bunda Cekatan batch 2

Bismillah, Alhamdulillah sudah memasuki pekan ke-4 setelah tiga pekan lalu heboh dengan telur-telur. Kali ini, kaki melangkah ke penjelajahan selanjutnya, gua ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Magika bahwa kelas Bunda Cekatan tak lagi ‘disuapi’ sebagaimana dulu di kelas Bunsay dan Matrikulasi. Di sini, saya harus menentukan langkah dan tujuan belajar secara mandiri dengan runut dan sistematis.

Cek Jurnal Telur

Pekan keempat adalah pekan penentu langkah, maka salah membuat keputusan di sini, akan tersesat nanti selama perjalanan yang insyaaAllah agak panjang (kurang lebih 6 bulan ke depan). Namun, sebelum membuat peta perjalanan, saya harus cek kembali ketiga telur lalu.

Telur hijau di pekan ke-1.
Telur merah di pekan ke-2, keterampilan yang penting dan mendesak.
Telur oranye di pekan ke-3, jadi pijakan dalam membuat peta. Jurnal Tautan klik disini.

Alhamdulillah! Fixed!

Saatnya membuat peta yang ‘saya banget’.

Langkah Membuat Mind Map dalam The Jungle of Knowledge

  1. Ambil kertas kosong.
  2. Tulis nama projectnya.
  3. Tulis tujuannya.
  4. Uraikan ilmu yang dibutuhkan.
  5. Bingkai.

Saya pun mulai mencoba dengan mencorat-coret bagan sederhana.

Jurnal Pekan-4

Setelah mencorat-coret, saya membuat disain sederhana dari aplikasi canva. Tidak terlalu ramai, namun memang itulah yang insyaaAllah membuat saya berbinar.

versi lembaran jurnal

Jika dilepas sendiri seperti ini :

Lima ilmu yang saya dalami dan praktikkan untuk menunjang manejemen waktu saya sebagai seorang penulis. Tujuan jangka panjang, semoga apa yang saya praktikkan, rasakan, dan rumuskan nanti bisa saya bagikan kepada publik.

Detail Peta

Dilihat dari gambar besar, peta saya memang tampak sederhana. Namun bagi saya itu sungguh kompleks. Terdapat 5 hal yang insyaaAllah saya pelajari, praktikkan dan siapkan medianya. Tinggal pelaksanaannya saja yang belum.

Saya menyadari, kegemaran diri terhadap aktifitas menulis menjadi rutinitas. Namun masih random dan selama ini masih amburadul penataan waktunya. Itulah kenapa beberapa naskah mangkrak dan belum bisa saya selesaikan sebab terhambat pada kondisi diri yang belum konsisten terhadap pengelolaan waktu. Maka saya menguraikan satu demi satu kedalam mindmap tersebut.

  • Project : Well Written Strategy for Becoming the Authors By Khoirun Nikmah.
  • Goal : “I hope that 2021 can be more productive and finish my book manuscript.”
  • Topic : Time Management by Nikmah as a writer.
  • Knowledges :
    1. Manage Distractions at work
    24-hours in a day are never enough, as a mom, I know that parenthood is heavy. I have to learn how to manage it. I will learn ‘simple families foundations’ with Denaye Barahona, P.hD.
    2. Mental Unload
    Do you feel like you are carrying the weight of the world on your shoulders? Yes, I feel like that. I’ll start 7 days to lighten my overworked mama brain on program ‘mental unload’ with Denaye Barahona, P.hD.
    3. Mastery Mindset
    I’ve been reading and watching a lot of Carol Dweck’s work lately. It’s brilliant. Her research, seemingly quite simple, encompasses most all of the mental competencies in two mindset concepts – fixed versus growth. I’ll recalling and reframing again my mindset in 2021 with that Carol Dweck’s mindset.
    4. Micro Habits
    Micro habits are an action that requires minimal motivation or effort to complete. The idea is over time; a micro habit will slowly build on top of itself and result in something significant. My resources : some books of this matter that I have (Atomic Habits by James Clear, The Healthy Habit Revolution by Derek Doepker, The Power of Habit by Charless Duhigg, and Tiny Habits by BJ Fogg).
    5. Mind Map your Books
    How to create my book project with mind map, it’s the first time that I’ll try on this year! My resources : some books about mind map by Tony Buzan. Or mind mapping for writers by Alice Porterman.

Jika dijabarkan, peta saya seperti ini :

the Details ‘The Jungle of Knowledge’

Sepanjang dua tahun lebih enam bulan (Agustus 2018-Desember 2020) rasanya menulis 7 buah buku dimana hanya 2 judul buku yang ‘solo’ rasanya belum optimal dalam berkarya. Melihat beberapa guru, dan beberapa mentor mengatakan bahwa produktifitas saya menurun hingga akhir 2020, ingin segera ‘bangkit’ untuk bergerak walau faktanya sungguh berat.

Di satu sisi, sebagai seorang ibu yang memiliki amanah yang perlu perhatian ekstra serta sebagai seorang istri yang ridho dan setiap langkah perlu ridho suami, menjadikan kebiasaan menulis manuskrip dari kontrak penerbitan buku tidaklah mudah. Saya pribadi, lebih mudah menulis blog karena formatnya lebih bebas dan tanpa ‘gangguan pikiran’, sementara menulis buku, rangkaian yang harus saya fokuskan membutuhkan persiapan, mulai dari melakukan riset dan seterusnya. Bahkan di saat buku sudah jadi pun, saya tidak bisa berpangku tangan, harus melakukan penyuntingan atau self -ERR (pernah saya tulis prosesnya di sini) terlebih dahulu, sebelum dan selama masuk ke meja editor atau penerbit (prosesnya bolak-balik).

Setidaknya, karena tersedia 6 bulan untuk berproses, maka saya ambil 5 ilmu yang menurut saya penting. Kelima ilmu ini sebenarnya masih bercabang, namun beberapa ada yang sudah fokus karena merupakan program sebuah kelas yang saya ikuti.

Mental Unload

Bagi pembaca yang belum tahu apa itu mental unload, berikut ini teaser dari kelas yang saya ikuti. Pembelajarannya pun dilakukan secara mandiri karena tinggal log-in as member didalam website.

Beliau adalah Denaye Barahona, penulis favorit sekaligus panutan saya dalam hal parenting dan berbenah. Saya pernah membahas bukunya di post blog ini. Dan tahun ini, insyaaAllah start pekan ini, saya mengikuti dua kelas beliau yang ada pada website simple families.

Setidaknya membutuhkan 7 hari untuk belajar sekaligus mempraktikkan step by stepnya. Tahun lalu sebenarnya sempat saya ikuti, namun ala kadarnya. Maka, tahun ini bismillah, saya serius melanjutkan.

Mengapa saya memerlukan mental unload?

Sebab menulis merupakan perjalanan proses kreatif isi kepala, jika mental saya penuh dan clutter maka akan sulit menghasilkan karya yang bagus dan buku yang best seller. Dari buku-buku yang pernah ada, yang saya tulis, saya baru bisa merasakan best seller hingga mencapai empat ribu eksemplar lebih, baru satu kali, yaitu pada buku pertama. Selebihnya untuk buku yang lain, masih standar (di bawah dua ribu eksemplar).

Bagi saya, menulis adalah ikigai saya. Yaitu sesuatu yang merupakan gabungan dari mission, passion, profession, dan tentu juga bagian dari vocation.

Manage Distractions at work

Dua puluh empat jam dalam sehari rasanya tidak pernah cukup, apalagi sebagai seorang ibu, saya tahu bahwa menjadi orang tua itu berat. Saya harus berani untuk memasang ‘kacamata kuda’ -dalam hal ini- dari melihat berbagai model parenting yang menggiurkan. Namun karena distraksi bukan hanya sebab gadget dan derasanya informasi, namun lebih banyak berasal dari dalam rumah dan pikiran, maka saya harus belajar bagaimana mengelolanya. Saya akan belajar ‘simple families foundations‘ dengan Denaye Barahona, P.hD. Masih satu platform dengan mental unload, hanya beda program, tujuan dan tekniknya. InsyaaAllah saya ikuti setelah mental unload selesai.

Di sisi lain, saya juga memiliki beberapa buku seputar distraksi. Pernah saya ulas juga yang khusus distraksi gadget di sini. Ada juga yang belum saya ulas, belum selesai baca, yang ‘Don’t Feed the Monkey Mind’. InsyaaAllah juga akan saya pelajari.

Mastery Mindset

Atau -> Penguasaan Pola Pikir. Mindset ini penting. Saya telah membaca dan menonton banyak karya Carol Dweck akhir-akhir ini dan juga sebelum tahun 2021. Sepertinya sudah dua tahun lebih tak membahasnya bahkan bukunya sudah saya jual (efek discarding besar-besaran beberapa tahun silam). Yang saya suka dari karya Carol Dweck adalah idenya itu brilian. Penelitiannya, yang tampaknya cukup sederhana, mencakup hampir semua kompetensi mental dalam dua konsep pola pikir – fixed vs growth mindset yang mampu mengubah banyak hal.

InsyaaAllah, saya akan mengingat dan menyusun kembali pola pikir saya di tahun 2021 dengan mempelajari kembali pola pikir Carol Dweck tersebut.

Micro Habits

Bukanlah ilmu baru, namun perlu saya ulang dan terampilkan agar berdampak dalam waktu jangka panjang. Micro Habits atau Tiny Habits atau Smalls Habits atau Kebiasaan Mikro (in bahasa) adalah tindakan yang membutuhkan motivasi atau upaya yang minimal untuk menyelesaikan suatu usaha yang mampu menghasilkan kebiasaan yang menetap.

Micro Habits ini dilakukan semikro mungkin (kecil tapi fokus), perlahan-lahan insyaaAllah akan berkembang di atas capaian utama kita dan menghasilkan sesuatu yang signifikan.

Sumber ilmu saya: beberapa buku tentang hal ini yang saya miliki di rumah (ebook)

  1. Atomic Habits oleh James Clear.
  2. The Healthy Habit Revolution oleh Derek Doepker.
  3. The Power of Habit oleh Charless Duhigg.
  4. Tiny Habits oleh BJ Fogg.
  5. Bullet Journal oleh James Clear.
    Dll. (karena agak banyak buku yang membahas ini di rumah, nanti-nantilah saya cek lagi).

Mind Map your Books

Menarik nih, membuat peta pikiran untuk buku. Sebenarnya lebih mirip membuat outline namun lebih detail daripada outline. Selama ini saya belum pernah melakukannya, maka sya perlu ilmu tentang cara membuat mind map khusus penulis yang akan menerbitkan buku.

Sumber saya: beberapa buku tentang peta pikiran oleh Tony Buzan. Atau pemetaan pikiran untuk penulis oleh Alice Porterman.

Dan juga beberapa ilmu dalam paket komplitnya ‘Kelas Kaizen Writing batch 1’ Dee Lestari tahun lalu (modul lengkap tapi belum saya praktikkan). Maka, 2021 ini bismillah, PRAKTIK!

Untuk skills kepenulisan, saya ada beberapa buku dan juga direkomendasikan oleh Dee Lestari pada saat berada di kelas. Namun, khusus kelas Bunda Cekatan ini, saya tidak akan terlalu banyak membahas teknik kepenulisan, biarkan hal ini menjadi ranah privat diri.

Bismillah! I’m ready, insyaaAllah menuju proses selanjutnya. Menetaskan telur dan menjadi ulat. Amiin. Semangat!

Tinggalkan Balasan