3.4 BUNCEK KUPU-KUPU IBU PROFESIONAL

Jurnal Tahap Kupu-Kupu Pekan 1

Memasuki tahap terakhir, setelah ‘bersemedi’ menjadi kepompong, kini saya dan teman-teman sudah keluar menjadi kupu-kupu muda. Begitulah analogi tahapan belajar di kelas Bunda Cekatan. Di pekan pertama, kami diminta untuk mengikuti program mentorship dengan sistem peer mentoring, yakni di satu sisi menjadi mentor, di sisi lain sekaligus menjadi mentee.

Mencari Mentor

Setelah menyaksikan peta belajar saya yang ‘penuh’, sudah kenyang, hanya menunggu praktik berkelanjutan, menyelesaikan naskah buku, maka dalam program ini saya memilih mentor di luar tema program. Yakni VBAC (vaginal birth after cesaria), sebuah konsep ilmu untuk mempersiapkan diri melahirkan jalan normal pasca operasi caesar. Hal ini mendukung dengan kondisi saya yang sedang hamil muda, saya benar-benar membutuhkan topik ini bersama ahlinya.

Alhamdulillah, dipertemukan oleh Allah, berjodoh dengan mentor yang sudah menjalani sertifikasi Doula VBAC advanced. Beliau adalah Kamilah Dzikrina. Sejak awal menyaksikan brosur yang terpampang pada album bursa mentor, saya langsung ngeklik begitu saja. Tidak melihat-lihat lagi yang lain, fokus satu. Tepat di hari senin, setelah menyimak Magika bercerita, saya membubuhkan komentar sekitar pukul 3 sore. Konon, komentar berlaku seusai berjalannya pukul 3 sore itu.

Dag, dig, dug menanti pengumuman, akhirnya saya terpilih. Alhamdulillah, Mbak Kamilah langsung menggali apa kebutuhan saya dan juga harapan mengikuti program mentorshipnya. Apa yang sudah saya tuangkan, Mbak Kamilah konfirmasi kembali, sudah sesuai atau belum, termasuk teknis dalam berdiskusi. Sejauh ini, saya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang beberapa diantaranya sekilas sudah saya tuangkan saat perkenalan. Jadi tak sabar menunggu pekan-pekan berikutnya.

Seleksi Mentee

Saya hendak membagikan pengalaman menulis saya di penerbit besar. Maka, saya membuat poster pun berkaitan dengan hal itu. Alhamdulillah, ada yang tertarik. Namun saya hanya mampu memilih 2 personil saja. Mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran yang dibagi kesana-kemari.

Sampai saat ini, perkenalan dari kedua mentee cukup jelas dan menarik. Walau kendala saya hanya pada tenaga untuk mengetik di messenger terbatas, dikit-dikit perut rasanya diaduk, mual efek kehamilan trimester pertama, saya berusaha membalasnya walau hanya dengan emticon terlebih dahulu.

Jadwal dan alur juga belum saya siapkan, intinya saya tidak menyiapkan materi khusus. Sebagai mentor, Magika mengingatkan, bahwa kita tidak boleh membentuk mentee, melainkan memberikan arah, jalannya saja.

Baiklah. Bismillah. Semoga pekan selanjutnya semakin terang benderang ya. Amin.

Tinggalkan Balasan