DAILY

Jurnal Tahap Kupu-Kupu Pekan 8

Pekan delapan merupakan pekan terakhir di fase tahap kupu-kupu bunda cekatan. Kali ini, isi jurnal berkaitan dengan aliran rasa serta selebrasi perpisahan bersama mentor dan mentee.

Aliran Rasa Bunda Cekatan

Saya mulai dari aliran rasa sepanjang mengikuti kelas bunda cekatan ini, dari tahap telur, ulat, kepompong hingga terakhir di kupu-kupu. Pada awal mula menjadi telur, saya bersemangat menggali diri tentang hal spesifik apa yang hendak saya jalani. Di tahap ini, saya fokus pada satu passion yang memang ingin saya asah dan kilaukan kembali, yakni mengatur waktu sebagai seorang penulis serta upaya untuk menyelesaikan naskah yang mangkrak. Setelah itu saya menyusun materi yang akan saya pelajari sepanjang tahap ulat, makan lahap, makan banyak.

Pada tahap ulat-ulat, ada fase berkumpul memilih keluarga. Tentu saya masuk di keluarga ‘time management’ dari sana saya juga berbagi pengalaman melalui facebook live (dipaksa ini ceritanya) terkait ‘minimalist time management’. Resumenya bisa dibaca di sini.

Setelah 8 pekan makan lahap, saya masuk di tahap kepompong, ‘puasa’. Di tahap ini, walau hanya berlangsung selama 4 pekan puasa (jurnal puasa pekanan) namun juga ada tantangan 30 hari (T30). Pada tahap T30 ini saya salah memilih fokus, seharusnya menyelesaikan naskah buku, saya justru membuat tantangan menulis novel -yang itu bukanlah bidang keahlian saya- maka hasilnya pun roller coaster, tidak konsisten. Bahkan saat menulis jurnal T30 rasanya malas-malasan. Namun dari proses puasa pekanan ‘puasa gadget’ saya mendapat manfaat yang cukup signifikan. Kemudian, saya masuk di tahap terakhir, kupu-kupu.

Aliran Rasa Tahap Kupu-Kupu

Berbeda dari tahap sebelumnya yang rakus makan kemudian puasa eksterm saat menjadi kepompong, di tahap ini lebih living slowly, tak banyak makan, kalaupun makan ya hanya secukupnya dan juga berbagi melalui sebuah program yakni mentorship. Saya pribadi memilih mengikuti mentoring yang berkaitan dengan kondisi, sedang hamil, maka mempersiapkan kehamilan dengan ilmu ini sangat saya butuhkan.

Sepanjang 8 pekan, yang saya lakukan adalah 5 pekan menanti hari Selasa, karena setiap Selasa merupakan jadwal tatap muka saya dengan mentor melalui zoom meeting. Pekan ke 6 hingga terakhir ini, karena kondisi saya masih isolasi mandiri, zoom meeting off, tak ada lagi pertemuan. Namun sepanjang program ini, saya sangat bersyukur mendapat mentor yang sabar dan mendukung penuh. Bahkan beberapa referensi serta hal yang saya butuhkan juga dikirimkan ke rumah melalui ekspedisi. InsyaaAllah di jurnal ini juga saya ingin merayakan selebrasi sekaligus penutupan program.

Perubahan yang saya rasakan sepanjang kurang lebih 6-7 bulan ini cukup banyak. Selain ilmu, wawasan, pemahaman serta kebiasaan baru juga pertalian silaturahim yang terasa dalam. Terutama di tahap kupu-kupu yang sifatnya privat. Saya berharap silaturahim ini terus terjalin.

Selengkapnya saya rangkum perjalanan 7 bulan ini melalui video :

Atau jika diurutkan melalui jurnal :

  1. Tahap telur-telur (4 post jurnal) di sini.
  2. Tahap ulat-ulat (8 post jurnal + 1 aliran rasa +1 resume live FBG) di sini.
  3. Tahap kepompong (4 post puasa pekanan+30 post T30) di sini.
  4. Tahap kupu-kupu (8 post blog jurnal) di sini.

Kenapa Bertahan di Tahap ini?

Saya sudah berkomitmen sejak awal, bahkan ketika memasuki program hotel transcity mulai membayangkan apa saja yang akan saya lakukan, saya harus menyelesaikannya. Pernah membahasnya juga bersama teman-teman di regional terkait tugas-tugas yang diberikan dari angkatan pertama. Selain itu, saya pernah berjanji juga pada Bu Septi untuk segera menyelesaikan kelas Bunda Sayang (tahun lalu) batch 5, untuk bisa masuk di Bunda Cekatan Batch 2 ini. Kebetulan waktu itu, Januari 2020, saya mendapat pesan dari Bu Septi langsung, ketika beliau meminta saya menjadi pendongeng tamu di kelas Bunda Cekatan Batch 1. Status saya masih mahasiswi Bunsay kala itu. Itulah salah satu motivasi pendorong saya untuk terus maju hingga menyelesaikan tahap ini.

Di luar itu semua, saya memang agak perfeksionis. All or nothing at all. Ketika sudah nyemplung di suatu hal, maka saya mau tak mau akan basah seluruh badan. Artinya, jika iya maka totalitas, jika tidak mau ya tak akan saya sentuh sama sekali. Terlihat dari post blog yang saya susun untuk setiap kelas, saya selalu berusaha untuk ‘penuh’. Entah ini kekurangan atau kelebihan diri, yang jelas terkadang cukup menguras energi. Tapi selama ada tujuan di ujung, saya akan terus maju. Mungkin termasuk tipe challenger. Dan saya berusaha untuk tak terlalu merasa ditantang sebenarnya, inginnya biasa-biasa aja. Terkadang memang perlu ‘jeda’. Beberapa jurnal saya juga saya buat jeda (bukan setorannya) melainkan aktifitas. Semoga ke depan, saya bisa kontinu meneruskan walau tidak berada di situasi perkuliahan.

Dan kini, kondisi ransel bekal saya cukup ramai dibandingkan di awal mulai. Hal yang saya rasakan sepanjang proses ini adalah bagaimana saya belajar cara belajar. Dan tentunya semakin pesat di kala ada pendampingan mentor di tahap kupu-kupu. Alhamdulillah.

Selebrasi Penutupan Mentoring sebagai Mentee

Saya adalah satu-satunya mentee dari mbak Kamilah. Beliau merupakan certified VBAC Doula yang juga mendalami beberapa metode atau edukasi di bidang persalinan, healing, terutama berkaitan dengan spiritualitas. Di pekan keenam hingga terakhir, saya masih berkomunikasi melalui facebook messenger. Namun selasa kemarin benar-benar lupa, saya ketiduran sehingga baru ngeuh membaca pesan di malam hari. Sehingga selebrasi tatap muka melalui zoom meeting tak terlaksana.

Pada kesempatan jurnaling inilah saya ingin menyampaikan terima kasih, jazakillahukhair -untuk ke sekian kali- pada Mbak Kamilah atas bimbingan serta ilmu yang diberikan selama program mentoring berjalan sekaligus supporting tools yang telah diberikan pada saya. Semoga Allah membalas kebaikan dengan pahala berlipat serta amal yang tak terputus, Aaamiin.

Terima kasih atas buku-buku yang saat ini masih terus saya baca. Juga sharing ilmu serta pengalaman yang bisa saya petik sebagai catatan pembelajaran ke depan. Termasuk beberapa hal yang berkaitan dengan pola pikir dan spiritualitas.

Karena sempat berbincang melalui whatsapp juga, mbak Kamilah mulai bergiat untuk hidup ramah alam, salah satunya membuat ecoenzym, maka di sini saya ingin memberikan oleh-oleh berupa file bebas akses yang telah saya masukkan kedalam tautan google drive berikut, semoga mbak Kamilah jika membutuhkan sewaktu-waktu bisa mengunduhnya.

Saya mohon maaf jika sepanjang menjadi mentee terdapat sikap yang mungkin membuat Mbak Kamilah kurang berkenan, atau kurang aktif dan lebih sering berkeluh kesahnya dibanding menanyakan materi yang dipelajari. Buku yang berkaitan kehamilan dari mbak Kamilah baru saya tuntaskan 2 eksemplar, masih ada 2 eksemplar lagi yang menjadi PR. Saya ingat apa yang mbak Kamilah pesankan, “kalau bisa trimester 2 sudah praktik, tak lagi belajar teori. Kejar terus sebelum trimester 3 sebab trimester 3 sudah saatnya masuk kedalam ‘goa’, fokus persiapan persalinan”. MasyaaAllah, semoga Allah mampukan saya untuk bisa berproses hingga hari-H nanti ya mbak. Aaamiin.

Selebrasi Penutupan Mentoring sebagai Mentor

Terakhir berkomunikasi dengan kedua mentee, sepekan lalu di pekan ke-7. Sejak saya suspected covid-19, pendampingan yang saya lakukan tidak optimal. Alhamdulillahnya tepat di sharing materi terakhir, pekan 6 bisa saya rampungkan tanpa kendala. Dimana pada waktu saya recording materi pekan 5, saya langsung melanjutkan recording pekan 6. Sehingga saat pekan 6 (pekan dimana saya mulai isolasi mandiri), materi tinggal saya bagikan. Selesai.

Pekan ke-7 dan 8 sudah tak ada yang saya bagikan selain merayakan kemajuan dan saya ingin menutup sesi ini dengan nyaman. Sebab sudah tak ada pertemuan lagi, bahkan rencana untuk false celebration pun failed, maka saya tuangkan di sini saja.

Saya secara pribadi mohon maaf kepada Mbak Dian Maresta dan Mbak Chendra jika sepanjang program ini ada yang kurang berkenan atau pendampingan yang kurang optimal, baik dari sisi sikap maupun perkataan, saya mohon maaf. Semoga apa yang sudah kita jalani bersama, bisa menumbuhkan ke depan. Saya juga ikut belajar dan mendalami beberapa hal yang berkaitan dengan dunia kepenulisan juga sepanjang program berhalan.

Sesuai janji saya, materi pdf akan saya berikan di akhir sesi. Yakni di masa penutupan ini. Materi bisa diunduh pada tautan ini. Dan video youtube, saya kira sudah tersimpan pada chat messenger ya. Dan ada beberapa tambahan post blog yang mungkin bisa dibaca nanti jika luang. Post blog ini saya tulis sepanjang kelas bunda cekatan, tahap ulat-ulat berjalan. Ilmu yang saya pelajari berdasar mind map yang saya susun ‘time management as a writer’ :

Tips untuk Mentee

Mungkin ada kalanya saat kita menulis dan membuat kontrak ‘birth date’ di awal, cukup kesulitan menepati atau ada force majeure yang tak terkendali. Akhirnya, berantakan naskah yang akan diselesaikan. Tak mengapa, misalnya kondisi saya di bulan Juli yang seharusnya rampung proses editing jadi tertunda, sepanjang 3 pekan tak menyentuh laptop (isolasi mandiri 14 hari + 10 hari). Apakah kecewa? ya, manusiawi tapi tetap lihat ke depan. Mungkin ada beberapa hal yang perlu kita selesaikan saat ini.

  1. Target boleh kaku, tapi cara sebaiknya fleksibel. Jika memang target selesai tak terpenuhi, tetap lanjutkan. Terpenting kita bisa ‘berdamai’ dengan masalah yang ada di hadapan kita aja dulu. Tak perlu bersikeras, karena pekerjaan menulis bukan pekerjaan otak, melainkan hati. Jika hati kita nyaman, insyaaAllah lancar. Berbeda proses editing, ia pekerjaan otak (kepala) untuk memangkas segala lemak narasi yang mengganggu.
  2. Jika memang tak bisa menulis, tetaplah membaca. Entah artikel, blog, dan lebih bagus lagi, membaca buku. Biasanya kita mandeg bukan karena tak pandai merangkai kata, atau tak ada ide, melainkan kekurangan kosa kata yang bahan bakunya dari proses membaca.
  3. Supaya tidak lelah, berkali-kali mengganti outline, sebaiknya matangkan dulu di awal. Pisahkan proses riset dengan menulis, proses menulis dengan editing. Semua memiliki ‘kandang waktu’ tersendiri. Timeline umum : riset – menulis – editing.
  4. Pahami diri. Jangan mudah terbawa arus. Misalnya karena lagi booming suatu tren, laris, kita ikuti. Sebaiknya jangan. Be genuine, tetaplah jadi diri sendiri.
  5. Penulis merupakan mitra penerbit. Tetap jalin komunikasi hangat walaupun belum ada naskah yang diselesaikan. Tetap konsultasikan progress. Dan akan jauh lebih baik jika sudah memiliki mentor (boleh itu editro, boleh tim penerbit) jika memang ingin dipublikasikan massal. Adapun untuk self publishing, pastikan sudah memahami kualitas dari percetakaan dan akad serta legalitasnya.

What’s Next?

Sebenarnya ini sesi yang sudah saya siapkan di pekan-8 untuk berdiskusi ke depan akankah seperti apa perkembangannya. Saya pribadi boleh dihubungi melalui whatsapp maupun media sosial jika memang ada hal-hal yang masih ingin ditanyakan. InsyaaAllah saya akan menjawabnya sepanjang saya mampu. Dan semoga apa yang sudah dipelajari dan dipraktikkan, bisa kontinu dilaksanakan secara mandiri. Tujuan besarnya, saya berharap karya mentee bisa terpublikasikan dengan lancar. Aamiin.

Demikian jurnal, aliran rasa sekaligus selebrasi penutupan program tahap mentorship yang bisa saya tuliskan. Semoga kita semua bisa terbang dan semakin kuat mengepakkan sayap sebagai kupu-kupu yang indah -versi masing-masing- dan sampai jumpa lagi, insyaaAllah di tahap selanjutnya. Bunda Produktif? Aamiin.

Tinggalkan Balasan