MATERI KEPENULISAN

Kaizen Writing Workshop Batch 1

#KaizenWritingWorkshop Batch 1 yang disebut oleh Bu RT (baca : Dee Lestari) sebagai angkatan bersejarah, dan saya bangga menjadi bagian darinya.

Ya! selama sepekan lalu, dari tanggal 28 April – 2 Mei 2020 saya mengikuti workshop full kepenulisan Dee Lestari. Yaitu menulis dengan konsep Kaizen dan pengalaman Bu RT menulis dari 1993 hingga 2020 yang dibongkar habis-habisan di sana.

Angkatan ini bersejarah karena :

1. Inilah kelas kepenulisan yang pertama diadakan langsung oleh Bu RT karena sepanjang karir kepenulisannya, beliau belum pernah mengadakan kelas (selama ini hanya diundang sebagai pembicara/pemateri di berbagai lini).
2. Inilah kelas pertama yang bisa ber’foto’ bersama dan bertatap muka, karena pada angkatan selanjutnya menggunakan konsep webinar (satu arah, peserta tidak mendapat akses untuk menampakkan wajah dan suaranya -locked).
3. Inilah kelas pertama yang ada grup WA alumninya, haha! melebur menjadi satu tanpa pandang bulu. Ada dosen, artis, wartawan, news anchor, therapis, penulis ternama, pemuda, SAHM, WAHM dari generasi baby boomers, milennials, hingga x,y,z disini. Terharu akutu setiap hari chatnya ribuan.

Dan tentu, karena mayoritas yang mengikuti adalah kami yang sudah membaca karya Bu RT dan mengagumi gaya bahasanya (author’s voice) yang khas dan mengikat. Saya sendiri menyukai perahu kertas sedari awal membaca (pas kuliah) dan tak pernah lupa jalan cerita serta tokohnya. Mengikat dan melekat.

Dari sini, saya menjadi tahu bahwa apa yang selama ini saya kerjakan, tuliskan dan lakukan sungguh kosong! HAHAHA, alias akutu kalau nulis ternyata ambyar karena emang belum tahu rahasianya. Dan ketika mengikuti kelas workshop ini, bukannya puas. Seluruh referensi yang digunakan Bu RT, saya beli dan mulai saya baca dam menjadikan saya semakin tahu bahwa saya enggak tahu apa-apa selama ini. Jadi semakin haus dan semangat untuk praktik, terutama genre fiksi.

Yang membuat saya senang juga, Bu RT tahu kalau pesertanya ini enggak hanya penulis fiksi namun juga non-fiksi. Nah, saya jadi semakin semangat memperbaiki naskah non-fiksi saya yang rencana disetor awal mei ini ke editor, nyatanya pas saya cek, kudu rombak totaal. Beruntung belum saya serahkan, jadi sambil merombak ini saya sambil belajar terus referensi yang Bu RT beri.

Rasanya setelah mengikuti kelas bagaimana?

Berdebar! ya, segrup setiap hari bersama manusia-manusia keren itu, membuat bangun pagi saya menjadi ceria. Selalu ada berita, info dan cerita yang disajikan setiap kami chatting sama-sama. Apalagi nih kemarin, pas semua hopeless nyolekin mas Didiet Maulana enggak dibalas, berasa ngerti banget lah kesibukannya, ehh taunya malam dibaca dan beliau mau share buku yang sedang dibacanya. Seketika grup histeris dan ramai lagi hahaha.

Pokonya, alhamdulillah. Ini semua karena Allah telah mempertemukan dan mempersatukan hati kita semua. Selalu ada jalan dan selalu ada tantangan. Saat ini tantangannya adalah mengerjakan tugas dari kelas! Semangat!

Thank you so much to my dear husband Aang Hudaya yang super support dari awal agar saya mengikuti #KaizenWritingDee insyaaAllah apa yang sudah kita investasikan, memberikan efek baik dan berharga untuk keluarga kita.

Tinggalkan Balasan