EDUKASI

Kaizen

Pagi ini seperti hari yang lalu, karena tidak sholat maka bangun kesiangan. Baru ingat semalam gak sadar ketiduran begadang baca buku Seikatsu Kaizen dan pagi ini badan terasa pegal-pegal (tidur gak tertata).

Seikatsu Kaizen
Buku dari suami yang membuat diri ini tahu sejarah bangsa Jepang. Terutama proses awal tatanan pola hidupnya hingga saat ini.

Sampai dapur melihat suami sedang masak, membereskan bekal dan tersenyum “Umi kesiangan lagi ya”. Dari segi ilmu dapur memang suami lebih jago, masakannya lebih lezat dan tekstur makanan juga mampu menggugah selera. Berbeda jauh dengan diri saya yang hasil masakannya datar-datar saja. Heuheu.

Karena urusan dapur beberapa hari ini dihandle suami, saya kembali ke ruang depan : membaca gawai mumpung anak masih tidur. Gawai atau smartphone  memang layak menjadi barang primer zaman ini, entah bagaimana kondisinya untuk beberapa tahun ke depan yang pasti semakin menantang. Bisa jadi gak hanya smartphone mungkin ada alat komunikasi sejenis hologram (kayak di film-film heheh).

Seperti biasa, scroll up membaca grup IIP, ada pembahasan terkait menulis dan diri ini tersadar bahwa kegiatan menulis sejak kemarin lusa mulai bangkit lagi.

Rasanya gimana setelah menulis 3 hari berturut-turut lalu? kata Mbak Dhita di Grup IIP Bogor.

Waaah rasanya seneng banget gak nyangka bisa otomatis ini tiap pagi (sejak hari kamis) menulis blog yang sempat diabaikan. Ternyata menulis secara konsisten, di jam yang hampir sama setiap pagi seperti menjadi ‘alarm badan’ untuk menuangkan ide dan uneg-uneg. Beres menulis biasanya ploong, bebas.

Sebenarnya kegiatan menulis ini udah menjadi hobi sejak kecil dan berkaitan erat dengan hobi saya yang satunya : membaca. Namun menjadi lemah sebab tidak diasah secara tajam karena lebih suka membaca daripada menuliskannya kembali. Padahal ada banyak kongruensi antara buku yang satu dengan yang lain yang jika sedikit bisa saya review.

Saat ini mencoba berusaha (menulis blog) menjadikannya habit setiap hari. Sebagaimana program ODOP di IIP one day one post ini. Setidaknya dengan menulis setiap waktu dan menuliskan pengalaman keseharian, hal itu bisa terdokumentasi dengan baik, tidak hilang begitu saja. saya sempat mempunyai diary digital, sebelum punya anak sempat nulis rutin namun semakin hari semakin jarang dan blast, lupa.

Pun dengan menulis blog yang sudah menjadi ‘kebiasaan sehari-hari’ sejak kuliah. Di sela-sela kejenuhan mata kuliah terkadang iseng menulis hanya sekedar untuk meluapkan jatah kosakata harian, emosi, dan juga menjadi me time khusus. Setidaknya dengan menulis, hati terasa plong, lega. Sayangnya, konsistensi ini jarang dilakukan. Kini saya sadar, membaca buku banyak saja tidak cukup, butuh sebuah kebiasaan menulis kembali. Kemampuan mengasah otak.

Kemudian saya coba membuat review buku kaizen yang saya baca.

Kaizen berpandangan bahwa hidup kita hendaknya fokus pada upaya perbaikan terus-menerus. Kaizen mencakup perbaikan berkesinambungan yang melibatkan semua aspek. Jika dalam sebuah perusahaan maka ia melibatkan seluruh pekerjanya, dari manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat bawah.

Perbaikan seumur hidup memang harus dilakukan dari hal-hal terkecil. Konsisten dan ditularkan. Bahkan Jepang rela belajar dari Amerika dan Jerman sejak tahun 1800an silam. Bahkan saking ekstrimnya, cara berjalan, duduk, di tempat umum, cara makan, minum, menyapa orangpun mereka atur.

Mereka membuat peraturan yang diterapkan seluruh wilayah. Nasionalisasi tata perilaku dan budaya. Budaya jepang yang terdiri dari ribuan budaya dan bahasa lokal mereka kerucutkan hanya menjadi beberapa jenis saja. Selain itu, Jepang memang sengaja ‘membuat branding budaya negara’ untuk dianggap sebagai negara maju. Proses itu mereka lakukan secara konsisten melalui jalur tulisan, buku yang diterbitkan oleh beberapa tokoh, ilmuwan, para ahli, praktisi, penerbit jepang dan bahkan rakyat jelata. Sikap disiplin, jujur, hukum yang kokoh.

Ya, Jepang yang kita lihat saat ini sebenarnya adalah output dari pemerintah yang trial error selama kurang lebih 1,5 abad lalu.

Karakter orang Jepang
Orang Jepang di masa lalu sama seperti karakter orang awam dan umumnya negara Indonesia. Namun mereka mau berubah dan terpaksa diubah secara total oleh Negara sehingga layak menyandang sebagai warga negara yang maju. Ada syarat sebuah negara dikatakan maju. yakni SDM nya berkualitas dan berkarakter baik.

Dari buku itu, saya simpulkan bahwa jangan pernah melihat hasil yang nampak di depan mata. Apalagi melihat negara Jepang (ataupun negara yang lain-yang maju) secara berlebihan sebab sesuatu hal yang wah, berupa kecanggihan atau kemajuan otaknya itu membutuhkan tekad kerja keras untuk berubah. Melalui proses yang konsisten. Lihatlah sejarahnya, bagaimana mereka jatuh bangun membuat hal itu tercapai.

Semua butuh proses. namun jarang sekali orang yang mau menghargai, menikmati dan bahkan melihat secara utuh sebuah proses.

Mungkin itu dulu, tulisannya tadi niat mau ngasih testimoni ke grup IIP mala hmelebar kemana-mana hehehe. Kapan-kapan saya bedah lebih lanjut apa itu kaizen dan bagaimana prosesnya. Oia, ada lagi satu buku keren yang juga beres saya baca bulan lalu : The Power of habit karya Charles Duhigg.

See you later.

#ODOPPreMatrik
#MulaiMenulis
#IIPBogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *