REVIEW

Kamu Terlalu Banyak Bercanda

Seharian ini saya mencoba menyelesaikan post blog pagi hari. Kenyataannya, beberapa hal di luar jadwal justru mendistraksi diri. Wajar sih, saya punya anak, punya kehidupan nyata yang perlu diperhatikan. Namun ketika sekali terkuras dengan per-online-an, bak magnet, melekat amat kuat, hingga saya sadar, malam ini, saya belum menyelesaikan tulisan.

Blog ini memang saya dedikasikan untuk diri sendiri, mencatat waktu apa saja yang saya lewati hari ini. Karena ada beberapa buku yang saya baca, namun yang paling cepat dan bisa saya urai adalah ‘Kamu Terlalu Banyak Bercanda’ hari ini, maka tepat sekali jika saya posting saja. Sekalian mengeluarkan uneg-uneg.

Uneg-uneg hari ini ada beberapa yang di luar kendali. Saya tahu, jadwal hari kamis adalah diskusi di slack kelas 4 GM2 Gemari Madya. Namun karena mengurus dan membicarakan beberapa hal lain, jadinya terbengkalai dan entahlah, hari ini random sekali. Hanya siang hari yang cukup efektif, yaitu saat bermain bersama anak.

Baiklah, karena sudah larut malam, saya tuliskan saja isi buku sedapat yang saya tangkap.

Review Singkat

Sebenarnya ini buku lama. Hanya saja, saya baru menyempatkan baca, itu pun pinjam di perpustakaan, tahun ini. Judulnya menggelitik, namun isinya ternyata mampu mengusik. ‘Kamu Terlalu Banyak Bercanda’ merupakan buku genre flash fiction dan berbentuk Novel. Artinya ada tokoh atau karakter didalamnya. Buku ini merupakan sekuel dari serial sebelumnya, ‘Nanti Kita Cerita tentang Hari ini’ (NKCTHI) karya Marchella FP.

Tokohnya masih sama dengan buku sebelumnya, bernama Awan. Buku yang didalamnya penuh ilustrasi ini dibalut dengan sampul hardcover, tebal buku 18cm atau 194 halaman (walau dari sisi fisik, buku ini tidak menampilkan nomor halaman).

Alur cerita dari buku ini seperti sang Tokoh, Awan, membuka catatan dari kapsul waktu yang dulu ia tulis di saat masih muda. Banyak hal yang bisa ia pelajari dan petik dari setiap kejadian yang saat saya membacanya, begitu melekat dengan dunia saat ini.

Buku Fisik Pembuka 2021

Boleh dibilang, ini merupakan buku fisik pertama yang saya baca di awal tahun 2021. Karena semua buku yang masuk reading list Januari saya adalah buku elektronik (ebook). Jadi, saat pertama kali menyentuh buku secara fisik, kesan pertama saya adalah kangen. Ya, kangen menyelami dan menghidu lembaran kertas serta menikmati setiap goresan pena penulis.

Dan awesome! Buku karya Marchella ini memang benar-benar dia gores benar dengan font setiap kata yang tercetak adalah tulisan tangannya. Ia mampu mengikat antara tulisan, kisah, puisi, prosa, ilustrasi serta otentik diri dalam karya yang mengagumkan. Saya memang jarang membaca buku yang isinya singkat-singkat, seperti quotes atau tulisan yang mengharubiru seperti ini. Yang pernah saya ulas di blog ini sebelumnya malah quotes penyemangat di daily dosen karya A. Fuadi. Saya jarang membaca buku genre seperti ini. Takut terhanyut dan jadi baper. Namun buku ini memang sukses membuat baper sebab setiap kalimatnya yang sederhana nyata dan menyentuh kehidupan sehari-hari di sekitar saya.

Karena sebagai buku fisik pembuka awal tahun, saya menjadikan judul buku ini sebagai teguran diri. Bercanda boleh saja, asal jangan menggunakan kata ‘terlalu’. Sebab yang berlebihan itu, tidak baik. Buku ini menjadi pengingat bahwa masa-masa gelap itu ada sebelum datangnya terang.

Mungkin Kita Cuma Persinggahan

Ada beberapa kata yang tergores didalamnya, tentang persinggahan. Menurut saya kalimat yang muncul di sana begitu relate dan mengarahkan diri pada sebuah kesimpulan, penerimaan.

Pelajaran tentang satu sifat menuju sifat lainnya.
Mungkin kita cuma angan-angan tentang idealnya kata mereka yang terdengar.
Tak terbantahkan.

Belum sempat rasakan sedih terlalu mendalam.
Entah selamat atau sia-sia.
Belum sempat rasakan senang terlalu mendalam.
Entah pura-pura atau sia-sia.

-KTBB

Unik

Setelah NKCTHI sukses mendobrak dunia literasi yang antriannya luar biasa kala itu, KTBB juga masih menyimpan rasa decak kagum saya terhadap penulisnya. Keren! Dan sepertinya walau ada kloningan buku sejenis ini, saya kira tak akan bisa sama dengan kualitas Marchella mengemasnya. Ini mungkin bisa disebut dengan originalitas atau author’s voice miliknya.

Saran

Jangan membaca buku ini cepat-cepat. Karena enggak akan mendapat apa-apa. Sure! Buku ini lebih cocok dibaca dalam kondisi tenang, hening dan ambil napas setiap membuka setiap lembarnya. Jujur saja, saya perlu mengulang untuk membacanya.

Jika kalian ingin membaca buku self help, novel yang super ringan, mudah dicerna dan tidak perlu memakan waktu yang lama, buku inilah jawabannya.

Tinggalkan Balasan