BLOGGER PEREMPUAN EDUKASI

Kebangkitan Umat dengan Ekonomi

Tahun 2017 lalu, tepat harian Republika mengangkat topik ini. Kebangkitan ekonomi umat islam perlu di Indonesia. DIkuatkan oleh Iqbal, anggota DPD RI yang merupakan penasihat Koperasi EsDeDe mart -merupakan koperasi berlatar semangat Aksi 212 yang pertama digagas di Indonesia.

“Dengan PDB 33,5 persen dari total PDB Asean, perdagangan Indonesia harusnya tidak mandeg di posisi 14 persen dari total perdagangan Asean,” ujar Iqbal dalam keterangan pers pada Republika.ย Selengkapnya bisa dibaca disini.

Tepat pada acara halal bihalal di hari ahad kemarin, saya turut mendapatkan tausiyah sekaligus motivasi dari Ustadz Sadari tentang pentingnya perekonomian umat ini.

Bagaimana tidak penting?

Jika kita membaca shiroh, jelas 9 dari 10 shahabat Rasulullah Muhammad SAW merupakan orang kaya. Hanya 1 orang yang hidupnya pas-pasan, pas-pasan pun bukanlah orang yang miskin. Rasulullah juga merupakan tauladan sempurna, sejak kecilnya sudah terbiasa dengan berdagang, remaja berbisnis dan tepat di usia 40 sudah bebas finansial-tentu gaya hidup Rasulullah sangat sederhana karena memang dijaga oleh Allah untuk tidak berlebih-lebihan.

Bayangkan saja, jika para shahabat Rasul saja orang kaya, sangat mampu menopang dakwah islam di masa itu. Bahkan hijrah tak membawa apapun namun sebongkah batupun bisa diubahnya menjadi emas (dinar) hanya dengan berusaha (dagang).

Lucu sekali jika saat ini kita lihat bersama, justru posisi itu tidak ada pada jiwa umat. Bahkan mulai marak doktrin-doktrin menyesatkan seperti “tidak apa miskin, yang penting masuk surga?”

Hmmm, kenapa tidak membaca sejarah? justru sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga itu orang yang andal, kaya dan tidak rapuh! mereka bukanlah orang-orang yang ‘membebani’ oranglain sebab kemiskinannya. Merekalah yang justru berusaha untuk menerapkan hadist ‘lebih baik orang yang tangannya diatas daripada di bawah’ dan ‘Allah lebih menyukai orang yang kuat dibandingkan yang lemah’. Jelas maknanya bukan?

Adalah hal yang menggelikan juga memaknai gaya hidup Rasulullah dan Shahabat secara sepotong-potong. Bagaimana mungkin, seorang CEO, pebisnis andal seperti beliau-beliau bisa menyebarkan dakwah islam jika dirinya tidak kuat tidak berdaya? dan kini lihatlah..hampir sektor perekonomian kini dipegang oleh non-muslim yang jelas-jelas dalam sejarah nabi mereka tidak ada satupun yang berdagang sebagaiman Nabi Rasul kita.

Bahkan di Indonesia- kata Ustadz Sadari, dari 100%, 85%nya dikuasai orang asing (bukan WNI asli), sisanya 15% dikuasai oleh WNI. Dari 15% ini hanya 3% saja yang dipegang oleh muslim (berKTP islam) dan tidak lebih dari 1% muslim yang paham islam. Hiks.

Bahkan di Tajurhalang ada seorang chinese -berkeyakinan konghucu yang punya nenek moyang muslim yang taat, saat ditanya ustadz Sadari, dialognya gini :

Ustads : Koh, kenapa kau tak masuk islam saja? kan nenek koh orang yang terkenal islamnya yang taat.

Kokoh : Waduh, Tadz islam itu ribet. Masa mau dagang pagi disuruh sholat, siang sholat, sore sampai malam sholat, lalu kapan dagangnya??

Ustadz : kalau misal kelak nenek koko masuk surga, kokoh di neraka gimana koh?

Kokoh :tak apalah ustadz, kan yang masuk surga tuh dikit, yang masuk neraka banyak banget. ntar di neraka saya bisa jugalah dagang disana.

Ustadz : hah?!

Setelah menceritakan hal itu, ustadz Sadari menggelengkan kepalanya sambil berkata : “Demikianlah, betapa keyakinan untuk dagangpun seorang koko rela hingga ke neraka, Lantas kenapa orang islam malu??”

Mendengar kisah itu, saya pribadi jadi terkesiap. Bagaimana mungkin umat ini bangkit jika kondisinya (ekonomi) lemah?

Bukankah kelemahan ekonomi mendekatkan seseorang pada status fakir? dan kefakiran itu mendekatkannya pada kekafiran/kekufuran? naudzubillahimindzalik ๐Ÿ™

Kini, saya pun merenung…

Kenapa tidak berprinsip >> kaya raya, hidup penuh berkah dan bisa bantu agama Allah serta dakwah?

Sebab jelas, kemiskinan itu akan membuat seseorang jauh lebih mudah berprasangka buruk pada Allah. Padahal Allah kehendaki kita untuk berprasangka baik padaNya.

Bahkan kini, untuk dakwah pun butuh pulsa. Butuh bensin, butuh usaha.

Jika kita tidak kaya, lalu bagaimana bisa mendidik generasi ke depan dengan sempurna? Bukankah Allah sudah peringatkan dalam surat An-Nisa ayat 9

ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุฎู’ุดูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ ุชูŽุฑูŽูƒููˆุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ู’ููู‡ูู…ู’ ุฐูุฑู‘ููŠู‘ูŽุฉู‹ ุถูุนูŽุงูู‹ุง ุฎูŽุงูููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง ุณูŽุฏููŠุฏู‹ุง

 


Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Wallahu’alam

*janji saya untuk menuliskan ini, selesai ya. Alhamdulillah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *