DECLUTTERING & ORGANIZING EDUKASI REVIEW

KonMari VS Fumio Sasaki

Sebenarnya hanya ingin menuangkan uneg-uneg bahwa akhir akhir ini mulai bermunculan dan ramai pembahasam seputar ‘tidying art’. Paling fenomenal memang Marie Kondo ๐Ÿ˜ 

Lantas bagaimana metode yang lain? menurut saya (ini opini lho yaa jadi ngga setuju juga ngga apa apa๐Ÿ˜‚) setiap metode pasti ada plus dan minusnya. Ngga da yang sempurna sebab kesempurnaan hanyalah milik sang Pencipta. Dan semua metode yang ada adalah hasil dari pemikiran manusia, dimana otaknya itu tetap bukan dia sendiri yang menciptakan kan ๐Ÿ˜‚ #mulaiNgaco 

Nah to the point aja deh!

Lagi heboh juga beberapa nama yang didengungkan daatang dari Jepang selain Marie Kondo. Yak, ada Danshari dengan the simple life-nya (2010) jadi ‘seangkatan’ lah muncul bareng Mba Marie Kondo. Kalo yang hebring terbaru nih Mas Fumio Sasaki (2017) denga konsep minimalisnya.

Kali ini saya mau membahas konsep KonMari VS minimalisnya Mas Fumio Sasaki. Kalau Danshari saya belum beres baca, secara metode jelas beda. Inti Danshari di RDS (reduce, dispose and separate). 


Well.. saya bahas dari bukunya dlu aja deh. Hehehehe

Saya pilih buku Marie Kondo yang pertama (2010) dengan bukunya Ms Fumio Sasaki yang pertama (2017) -saya sebut mas, soalnya banyak yang mengira doi cewekk hehehe ๐Ÿ˜‚

Didalam buku the life changing magic of tidying up Marie Kondo menceritakan setiap pengalaman dengan kliennya. Bagaimana kisah itu menjadi sebuah ‘pondasi’ dasar dan bahkan filosofi dirinya sehingga menemukan dan membuat formula ‘konMari’ method yang kita kenal saat ini.

Sedangkan mas Fumio Sasaki di halaman depannya ‘menunjukkan’ foto foto dari setiap orang yang telah ‘move on’ dari maksimalis ke minimalis. Agak menggoncang pikiran nih ๐Ÿ˜‚ semakin kedalam dan mendalam hingga akhir bukunya ternyata dia punya inspirator yg ‘simple life’ bahkan dalam memilih baju, yakni Mbah steve Jobs ๐Ÿ˜. Didalam bukunya juga dia mereview sedikit Danshari dan KonMari. 

Itu dari segi awalan buku yak.๐Ÿ˜๐Ÿ™„

Selanjutnya saya bahas dari personal, secara mereka juga beda.

Mbak Marie Kondo secara usia lebih muda (1985) sedangkan mas Sasaki ini sedikit tua (1979- selisih 9tahun dg ibuku ๐Ÿ˜‚ ibuku kelahiran 1970). Walaupun lebih tua tapi mas Sasaki ini masih single lho. Hohoho…

Latar belakangnya juga beda.

Mbak Marie Kondo sejak kecil emang ‘storage geek’ ๐Ÿ˜‚ suka berbenah nggak habis haabis. Sampai sempat frustasi karena rumahnya yg (nampak) rapi mudah sekali balik berantakan. Sejak kecil mbak Marie juga udab hobi baca majalah, buku dari berbagai metode decluttering. Endingnya dia kombinasikan semua dengan shintoism dan fengshuism (benee gak istilahnya ๐Ÿ˜…) intinya : kita perlu ‘memiliki awareness’ pada setiap barang kita, memanusiakannya dan juga menganggap mereka punya energi sehingga bisa ‘nularin’ ke kita secara nggak langsung.

Kalau mas Sasaki menurutku karena sejak awal udah terdeteksi hoarders (doi ngaku di bukunya sih๐Ÿ˜… ) kemudian semacam tobatlah, dengan alasan nggak sehat, cape dan bosan plus jomblo ๐Ÿ˜ฅ jadinya ingin berubah secara totalitas ! dari maksimalis menjadi minimalis. Hanya menyimpan barang seminimal mungkin. Sampai sampai kemudian dia hanya hidup dalam apartement yang luasnya hanya 20 (dua puluh) meter persegi aja ! waw!

Lalu.. apa pendapat saya tentang kedua personil diatas?

Sebagai emak emak plus istri, saya prefer Marie Kondo lah. jelasss.. 

Fumio sasaki mungkin cocok untuk individu seperti doi yang masih hidup sendiri, single. Kalaupun berkeluarga, harus dan wajib juga punya pasangan (dan anak) yang juga mau minimalist. Bagaimanapun juga hal itu pasti akan mempengaruhi pada kondisi kejiwaannya. ๐Ÿค” secara prinsip sih oke, tapi ada beberapa poin yang saya ngga setuju. hehehe

Di sisi lain..

Marie Kondo berkeluarga, punya anak dan punya kehidupan yang menurut saya sudah tertata dan profesional. Membagi waktu dengan dirinya sendiri, bisnis, keluarga dan anaknya sudah tokcer. 

Itulah kenapa saya membuat kelas intensive nggak sekedar cukup berkonMari (shokyuu) aja. Karena ada sisi lain setelah semua itu beres yang perlu dilatih (di chukyuu dan jyoukyuu class). Berbayar? ya iyalaaah.. meramu kualitas materi dan menemukan fasil yang tokcer untuk hal tersebut membutuhkan tenaga, materi dan pikira yang ngga sedikit hihihi.. ๐Ÿ˜Œ bayarnya juga murah lho, 3level semua hanya 100ribu. Udah gitu klo gak lulus boleh ngulang.. seumur hidup. 

Sesuai jargon, visi misi konmariindonesia.com yaitu #menatadiri #menatanegeri

Salam, spark joy! ๐Ÿค 

3 thoughts on “KonMari VS Fumio Sasaki”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *