MINIMALIST

Less is Now

Mengawali tahun baru 2021, Netflix menayangkan film dokumenter dari the minimalist yang dikomandoi oleh Matt Davella. Teaser, iklan dan selebaran dari teasernya saya tahu di bulan Desember 2020. Namun hanya selintas saja saya lihat. Dalam pikiran saya, “Ah, nanti aja kalau udah benar-benar tayang, kalau tertarik, saya lihat.”

Hingga pada awal Januari, Ibu Tata atau Mbak Put gemar rapi DM melalui instagram melalui unggahan storynya. Sehingga saya pun tertarik dan ingin menontonnya. Dalam waktu yang sama juga, Denaye Barohana, penulis buku simple happy parenting yang pernah saya bahas disini, juga membahasnya. Maka, saya pun menontonnya di netflix.

Bagi teman-teman yang ingin tahu, ada teasernya ini di youtube.

Setelah menonton episodenya, saya ingin menceritakan beberapa insight yang saya dapatkan. Sebenarnya, saya dan keluarga juga hidup minimalis, hanya saja memang belum paripurna karena masih ngontrak. Akan sangat terasa dan terlihat setelah nanti kami pindah rumah, semua barang lebih jelas posisinya. Saat ini ada beberapa barang yang masih tersimpan karena belum laku (dijual) dan beberapa barang yang belum ringkas karena posisi dan kondisi yang tak mendukung.

Background Kedua ‘Duo Minimalist’ yang Mendorong Perubahan

Ya, background kedua duo minimalist ini memang agak mirip. Keduanya adalah teman yang dekat sejak duduk di bangku sekolah. Keduanya juga memiliki latar keluarga yang cukup berantakan.

Joshua hidup bersama ibunya yang stres dan ayahnya yang menderita skizofrenia. Kemudian terpaksa pergi bersama ibunya yang juga menderita dari sisi kesehatan dan keuangan, keduanya hidup miskin. Dari sana lah Josh ingin mengubah hidup dengan menghasilkan uang sebanyak mungkin, bekerja sekeras mungkin dan mengumpulkan barang semewah mungkin. Hingga di titik kepergian ibunya, rumah tangganya yang berantakan, ia mulai menyadari, hidup ini bukan tentang ‘stuffs’ atau barang atau pencapaian melainkan ‘meaning’, ‘value’ yang menjadi legacy diri, untuk itu ia menjadi minimalist.

Ryan, bersama ayahnya ketika di usia remaja pernah bekerja di sebuah perumahan elit. Ia begitu kagum tapi tidak terlalu tertarik. Hingga suatu hari, ia bekerja di rumah yang cukup luas, walau tidak terlalu mewah dan penuh barang, terbersit ingin memiliki rumah seperti itu karena masih lebih bagus dibandingkan rumah kedua ortunya. Dan ia menanyakan pada ayahnya, berapa uang yang diperlukan jika ingin memiliki rumah mewah. Ayahnya menjawab, “lima puluh ribu dollar dalam setahun” (zaman itu). Patokan 50.000 dollar itulah yang ia jadikan acuan hingga akhirnya ia bekerja dan mendapatkan gaji itu bahkan lebih. Namun, ia merasa kosong, tidak bahagia walau sudah memiliki banyak barang yang diinginkan.

Menariknya, di saat impian sudah nyata, harta benda yang diinginkan sudah di tangan, justru jiwa mereka tak tenang. Singkat cerita, keduanya bertemu dan pasca keduanya keluar dari tempat kerja, mereka membuat blog theminimalist.com.

Dari vidio dokumenter yang berdurasi 53 menit itu, saya mendapatkan kesimpulan :

  1. Minimalist merupakan Upaya Terbebas dari Timbunan Barang dan Konsumerisme.
  2. Barang berkontribusi pada ketidakpuasan kita dalam berbagai cara. Misalnya ketika kita membeli sepatu merek A, puas di awal. Setelah dipakai, ingin beli lagi dengan bentuk yang berbeda dan seterusnya. Pada akhirnya kita tak punya rasa puas dan syukur dan lubang jiwa menjadi kosong menganga.
  3. Beberapa alasan orang depresi dan merasa kosong justru ketika memiliki banyak barang dan segalanya.
  4. Ada hal yang lebih dalam yang perlu dipikirkan dan difokuskan yaitu makna. Kita perlu makna, menjadi lebih baik atau sebuah kemajuan serta kebutuhan akan hubungan yang intim (relasi yang sehat).
  5. Pesan paling penting dari minimalis adalah karena kita bergantung pada semua benda atau hal yang salah dan justru mengabaikan sesuatu yang penting, di sinilah perlu minimalist.

Minimalisme adalah hal yang membuat kita melalui sesuatu, memberi ruang untuk hal yang terpenting dalam hidup kita dan itu sama sekali bukan barang.

-Joshua

Nilai video

Saya kasih rating 4/5 karena di sana ada penulis favorit saya, Denaye Barahona juga yang tampil sekilas di dalam dokumenter.

Selain itu ada CEO Greenpeace USA, Annie Leonard yang juga saya kagumi kiprahnya.

Kesimpulan

Hidup minimalis perlu waktu, setiap orang pasti akan memiliki ‘clicked momentnya’ masing-masing. Saya pun demikian, walau aslinya sudah minimalis secara natural. Saya sejak kecil dididik untuk tidak berlebihan dalam materi. Sebisa mungkin berlebih dalam karya. Adapun untuk barang, saya abadikan prosesnya beberapa tahun lalu dan saya tulis di sini.

Demikian post blog super singkat hari ini, karena ngetiknya pas sisa-sisa tenaga juga. Hari ini saya beres cek persiapan kelas yang saya ikuti hari senin, dan juga gemar rapi. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di post blog selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *