GEMAR RAPI

Materi Kulwap Gemari Baca dan Berbenah

Semangat Pagi 🙂

Materi kulwap kali ini insyaaAllah dibagi menjadi dua dengan dua narasumber. Khusus gemari Baca akan disampaikan oleh saya sendiri, Khoirun Nikmah. Sedangkan Gemari Berbenah oleh kang Aang Hudaya.

Adapun kedua materi tersebut kami tampilkan disini dengan menggunakan sandi (yang disebutkan oleh admin di grup).

Langsung aja ya kita mulai.

Gemari Baca

Mengapa mengangkat tema ini?

Karena dari gemar membaca, saya mendapatkan insight dan banyak ilmu yang bisa dipraktikkan, dan mengubah hidup. Salah satunya adalah ilmu tentang berbenah yang dari buku, kami baca dan praktikkan.

Jika kita sebagai seorang muslim, sudah jelas bahwa ayat pertama yang turun kepada Rasulullah SAW berbunyi ‘iqro’ yang artinya adalah baca. Bagaimana bisa membaca? sedangkan Rasulullah adalah sosok yang ummy (tidak mampu membaca dan menulis).

Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa membantah keorisinalitasan Alqur’an jika dilihat dari sisi riwayat. Ia datang dari Allah yang diantarkan oleh malaikat Jibril kedalam hati Rasulullah sehingga meresap dan mudah dihapalkan, bukan sesuatu yang dikarang-karang bahkan orang quraisy zaman itu membuat sya’ir untuk menandinginya, tidak ada yang mampu menandingi bahasa Alqur’an. Diturunkannya pun berangsur-angsur, selama kurang lebih 22 tahun.

Apa hikmahnya?

  1. Kegiatan yang mulia -bahkan turun pertama kali- yang perlu diperhatikan sebagai seorang muslim adalah membaca.
  2. Membaca tidak perlu terburu-buru, asalkan penting dan dijadikan sebagai kebiasaan sehari-hari.
  3. Kemuliaan akan didapatkan oleh generasi yang gemar membaca.

Manfaat membaca, selain menambah wawasan, juga mampu memberikan efek positif kepada diri kita. Seperti menjadi berpikiran terbuka, tidak mudah termakan hoax (terbiasa membaca teliti dan mencari sumber kebenaran informasi), mampu menarik inspirasi, memiliki imajinasi tinggi, kaya kosakata sehingga memudahkan untuk menulis. Selain itu, yang saya rasakan, dari aktifitas membaca, juga mampu mengembalikan mood yang buruk.

Apakah aktifitas membaca bisa ditularkan?

Sungguh bisa, apalagi jika dijadikan aktifitas sehari-hari. Selain itu, mampu membuat anak (yang sudah memiliki anak) untuk ikut serta dalam menggemari aktifitas baca.

Di rumah, kami memang tidak menyediakan televisi, sebagai gantinya adalah rak yang berisi buku-buku yang terupdate. Buku itupun tidak selalu harus membeli, kadang juga kami meminjam ke perpustakaan.

Bagi saya, aktifitas membaca ini merupakan kegiatan yang tidak pandang usia. Dari balita hingga lansia, semua bisa menggemarinya. Apalagi anak-anak. Manfaatnya banyak sekali.

Berikut manfaat aktifitas membaca untuk anak :

  1. Menambah kosakata anak.
  2. Meningkatkan keterampilan komunikasi.
  3. Mengenalkan konsep yang baru bagi anak.
  4. Melatih kemampuan berpikir, terutama berpikir logis.
  5. Mengembangkan imajinasi dan cakrawala pengetahuan.
  6. Membangun bonding/attachment dengan orangtua.
  7. Melatih konsentrasi.

Dan masih banyak lagi manfaat lainnya yang akan bisa kita dapatkan setelah mempraktikkannya bersama keluarga.

RKTIM memberikan tips agar anak gemar membaca.

  1. Sosialisasikan sejak dini. Hal ini berkaitan dengan komitmen kita sebagai orangtua untuk memberikan teladan pertama gemar membaca pada anak. Salah satu cara mensosialisasikan dengan cara dibacakan buku, dikenalkan bentuk buku, mengajak ke toko buku atau perpustakaan dll.
  2. Adakan kegiatan rutin membaca. Tidak perlu lama-lama, setiap hari bisa kita alokasikan beberapa menit saja (sesuaikan dengan usia anak) untuk membaca buku bersama.
  3. Libatkan Anak dalam memilih buku. Hal ini saya lakukan di rumah, anak jauh lebih antusias dan semangat saat ia memilih buku mana yang akan dibaca. Hal ini baru saya lakukan ketika anak berusia dua tahun, sebelumnya saya arahkan dan berikan. Terkadang jika dia bosan, saya pilihkan yang baru yang belum ia sentuh atau baca. Kadang tertarik, kadang tidak -justru memilih buku yang lain. Tak masalah, terpenting adalah anak merasa dilibatkan dan membuat ia lebih nyaman dan senang dalam aktifitas membaca.
  4. Pahami mood anak. Intinya pandai-pandai kita melihat kondisi atau situasi perasaan anak. Saat ia merasa siap dan antusias, saat itulah bisa kita ajak untuk membaca buku. Atau sebelum tidur, saat kondisinya sudah mulai tenang dan lelah, membacakan buku padanya akan menjadi sesuatu yang dikenang di masa depannya.
  5. Ciptakan suasana yang ideal atau nyaman. Bagaimanapun juga, kondisi yang berantakan dan acak-acakan akan membuat anak kurang nyaman bahkan membahayakan. Itulah sebabnya rumah rapi perlu diturunkan kepada anak, bukan rumah yang instagramable atau seperti etalase toko ya, melainkan rumah yang memang membuat anak nyaman berada didalamnya. Misalnya membuat mini library di pojokan ruang tengah, meletakkan buku pada posisi tinggi anak sehingga memudahkan untuk meraihnya, dll.
  6. Berilah ia penghargan/reward. Bagi anak-anak, hadiah kecil dan sederhana akan membuatnya gembira. Misalnya jika rajin membaca buku, weekend kita makan ikan di tepi danau, jalan-jalan ke kebun raya, dll. Reward berupa pengalaman jauh lebih mengesankan dibandingkan benda-benda. Saya pribadi berusaha menghindari reward barang, agar anak tidak terlalu ter-attachment terhadap benda-benda yang sifatnya akumulatif.
  7. Pesan Moral. Secara tidak langsung, pastikan ada pesan moral yang didapat oleh anak dari aktifitas membacanya. Misalnya di akhir halaman buku, kita selipkan nilai-nilai atau poin yang dipetik dari cerita yang ia baca. Karena kadangkala anak seringkali lupa dan bingung apa yang ia baca barusan. Sehingga sebagai orangtua, perlu kita berikan atau mengingatkan kembali nilainya. Atau pada saat anak lupa, bisa kita ingatkan degan cerita yang ia baca. Misalnya di rumah saya, anak lago ogah gosok gigi menjelang tidur. Maka, yang saya lakukan adalah mengingatkan kembali kepadanya cerita dari buku yang udah ia baca, tentang gigi, kuman, sakit dll. Anakpun tergerak untuk beranjak menyikat gigi.
  8. Pengulangan Bacaan. Dikarenakan simpul sarafnya yang masih bersambungan, tentu anak perlu repetisi untuk mengingat atau menancapkan nilai padanya. Pun dengan kosakata yang kita kenalkan, tidak bisa ia gunakan jika tidak diulang. Itulah kenapa perlu kita langsung gunakan dan bacakan lagi dan lagi. Dan jangan bosan juga ketika anak memilih buku A terus menerus padahal sudah berkali-kali ia baca, karena bisa jadi itu memang ia perlukan (untuk melihat kembali ceritanya) atau memang ia suka. Ikuti saja.

Closing statement #GemariBaca

Anak-anak memang mempunyai dunia sendiri, yang serba indah dan berwarna-warni. Tetapi bukan berarti mereka harus terus diperlakukan selalu dalam suasana anak kecil. Efeknya, ketika kita kebablasan meng’anak’kan anak-anak. Hingga pada usia mereka telah remaja, kita menganggapya sebagai anak kecil. Program yang kita buatkan adalah program anak-anak karena kita anggap mereka belum layak dan berpikir seperti orang dewasa walaupun mereka sudah baligh. Hasilnya bisa kita lihat seperti hari ini, cara berpikir dan bertindak anak muda kita masih seperti anak-anak.

Korelasi dengan aktifitas membaca juga demikian, ketika level baca anak sudah selesai, maka naikkan terus kualitasnya. Misalnya, jika dulu menggunakan buku bantal dan buku cerita bergambar sederhana, jika sudah lewat usianya, ya ganti, upgrade. Pun cara berpikirnya. Jika anak sudah bisa melakukan aktifitas A sendiri, maka jangan dibantu. Misalnya sudah bisa makan sendiri, memilih baju, buku dan membuka buku sendiri, menata buku sendiri bahkan memilih buku yang sudah mulai kompleks gambar dan ceritanya, sesuaikan hingga kita menjadi ortu yang memang betul membuatnya bersinar, bukan meredupkannya.

Gemari Berbenah

Materi ini disusun oleh Tim Kurikulum Gemar Rapi (@gemarrapi) :

Beberapa studi menyatakan bahwa anak-anak saat ini memiliki lebih banyak mainan dibandingkan dengan yang seharusnya mereka butuhkan ☝🏻 Padahal, dengan memiliki sedikit mainan, ada beberapa hal yang dapat menguntungkan anak kita.

  1. Membuat anak lebih kreatif 🤹🏻‍♀ Kebosanan itu baik untuk anak. Terkadang orang tua, menyediakan banyak sekali mainan dengan tujuan agar anak tidak bosan. Padahal bosan dapat memacu kreatifitas 😉.
  2. Anak lebih fokus saat bermain. Anak yang tidak terbiasa untuk fokus pada satu hal, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit dalam menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai dan susah dalam memutuskan sesuatu.
  3. Bila sudah punya saudara maka anak akan belajar untuk berbagi 👶🏻👧🏻
  4. Less stress. Banyaknya mainan dapat menyebabkan clutter. Clutter dapat memicu stress 😩. Dan stress bukan hanya untuk anak tetapi juga orang tuanya 🤭.
  5. Kita mengajarkan anak-anak untuk tidak konsumtif. Dengan terbiasa memilih mainan secara selektif mereka akan belajar untuk lebih bijaksana dalam memutuskan sesuatu dan mengajarkan conscious consumption.
  6. Orang tua lebih bahagia 😄

Setuju?

Bagaimana dengan jumlah mainan di rumah kita?

Mari kita cek…

Mitos atau fakta? 🤔

  1. Adanya anak-anak membuat rumah selalu berantakan.
  2. Anak adalah penyebab banyaknya jumlah barang di rumah.
  3. Berantakan adalah bukti kebahagiaan anak.

Coba kita bahas yaaa.

Anak adalah makhluk yang selalu meniru. Setuju?

Jadi, kalau anak kita asal saja meletakkan barang tidak sesuai tempatnya, mereka meniru siapa ya? 😄

Jadi, kalau anak kita mudah sekali minta dibelikan sesuatu, itu meniru siapa? 🤪

Jadi, kalau anak kita senang sekali menimbun barang-barang, seperti tidak pernah puas dengan yang sudah dimiliki, again, itu niru dari mana ya? 🤭

Iby Elly risman bilang, parenting is all about wiring ☝🏻

Wiring itu jalinan seperti kabel di otak yang terbentuk karena kebiasaan. Contohnya bila terbiasa hidup di antara orang-orang yang suka menunda pekerjaan, maka “menunda pekerjaan” lama-lama akan terbentuk menjadi jalinan memori yang kuat di otak sehingga akan menjadi kebiasaan yang terasa normal.

Nah, PR kita sebagai orang tua adalah bagaimana caranya agar tidak membentuk wiring konsumtif, berantakan, suka menumpuk benda, menganggap benda adalah sumber kebahagiaan dll.

Coba look in. Lihat ke dalam diri dan mengembaralah ke masa kecil kita. Bisa jadi, kita yang terbentuk saat ini mewarisi wiring yang bertahun-tahun tanpa sadar hasil menyerap dari orang-orang yang mengasuh kita.

Sampai di sini mudah-mudahan sepakat yaaa? 😄


Semua link sudah disampaikan pada waktu kulwap. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *