HALAQAH KAJIAN ISLAM

Memaknai Ujian dalam Alquran

Agenda halaqah kemarin, diskusi seputar Ujian. Dalam Alqur’an tertuang dalam beberapa ayat berikut :

  1. Al-Ankabut : 2-3
  2. Al-Baqarah : 155-157
  3. An-Nahl : 96
  4. As-Sajdah : 17
  5. Az-Zumar : 10
  6. Al-Fussilat : 35
  7. Dan masih banyak lainnya.

Mengenal Al-Ibtila

Dalam Bahasa ‘Arab, ujian hidup disebut sebagai ‘Al- Ibtilaa’ yang tentu saja maknanya berbeda dari Al-Bala. Dalam sebuah kitab Al-Ibtila, dijelaskan perbedaan ini.

Jika bala, kita wajib berlindung diri dari hal ini. Walau bala itu sendiri juga merupakan mihnah ujian, dan juga minha, anugerah. Sedangkan Al-Ibtila sifatnya ujian hidup, dan ini belum menjadi bala’ maka tidak ada do’a berlindung dari ibtila’ ini. Al-Ibtila ada untuk mengetahui kualitas. Dan didalamnya merupakan bentuk dari proses ujian berjalan. Maka, hasilnya bisa saja menjadi baik atau buruk.

Al-Ibtila, ujian hidup, tidak selalu jelek atau negative. Pun dengan bala’, ada yang baik dan ada juga yang jelek. Baik Al-Ibtila’ maupun Bala’ punya 2 potensi, sama-sama :

  1. sebagai minha, atau anugerah.
  2. sebagai mihna, ujian yang cenderung buruk.

Namun, Alquran menyandingkan ujian bukan dengan mihna, melainkan minha (anugerah). Sehingga fixed, seorang mukmin jika diuji = itu menjadi anugerah untuknya.

Setiap diri kita, tentu pernah menguji orang lain. Pun dengan Allah, namun Allah menciptakan ujian, berbeda dengan manusia.

Perbedaan Manusia dan Allah dalam Menguji

Tujuan manusia menguji orang lain :

  1. Ingin mengetahui keadaan orang yang diuji yang belum diketahuinya. Misalnya ingin mengetahui karakter orang jujur atau tidak, maka ia mengujinya.
  2. Agar muncul kualitasnya. Misalnya ingin menaikkan tingkat seseorang, seperti atasan menguji bawahan, atau murid diuji gurunya.

Adapun Allah, tidak memerlukan tujuan nomor pertama. Karena Allah Maha Mengetahui MakhlukNya. Allah yang menciptakan manusia juga.

Tapi Allah menguji manusia tidak lain Adalah Allah ingin memunculkan kualitas manusia itu. Bagus atau rendah. Kualitas manusia diukur oleh Alquran dengan seberapa tinggi rasa : sabar, syukur, lisannya serta respon terhadap ujian tersebut.

Kata Rasulullah, manusia itu nggak akan sempat mengomentari orang lain (misalnya mengomentari sikap orang lain) sebab mukmin pasti akan disibukkan dengan aib sendiri. Sebab, lisan pun ujian baginya.

Al Ibtila dalam Alqur’an

Dalam surat Al-Baqarah : 124

۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Arab-Latin: Wa iżibtalā ibrāhīma rabbuhụ bikalimātin fa atammahunn, qāla innī jā’iluka lin-nāsi imāmā, qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu ‘ahdiẓ-ẓālimīn

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Tadabbur dari kata :

  1. ‘ibtila’ di sana, artinya ujian untuk Ibrahim.
  2. kalimaat, artinya ujian yang sangat berat lagi banyak (dalam Bahasa Arab, ia lebih dari 3x).
  3. fa’atammahunn -> bentuk reward untuk Ibrahim, yaitu iman, dan zurriyat.
  4. Zurriyat –> keturunannya dijadikan mulia. Kita tahu bahwa Ibrahim Adalah Bapak Para Nabi, hingga keturunannya Adalah Nabi Mulia kita, Muhammad SAW.

Dalam Bahasa ‘Arab, fitnah adalah al-ibtila (ujian hidup). Ujian hidup adalah bagian dari fitnah. Namun, fitnah ada banyak jenisnya, dan tidak terbatas pada dunia. Misalnya fitnah kubur, fitnah dunia.

Fungsi Al-Ibtila

Setidaknya memiliki 2 fungsi :

  1. untuk melihat kualitas kita, baik atau rendah?
  2. berkaitan dengan iman terhadap takdir Allah, ada yang baik dan ada yang buruk. “Tidak ada yang menimpamu, semuanya sudah tercatat.”
    Dalam At-Taubah : 51 disebutkan bahwa takdir itu dengan kata ‘lanaa~’ padahal menurut ahli ilmu, seharusnya ‘Alaina.
    Makna lana >> takdir itu milik kita, semua takdir itu baik, karena Allah yang menciptakannya, Sifatnya diberikan, sehingga ujian pun diberikan adalah milik kita.
    Sedangkan ‘Alaina >> bermakna menjadi sedih, tidak beruntung. Namun Alquran tidak menggunakan kosa kata itu. Subhanallah…

Q.S At-Taubah : 51

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Arab-Latin: Qul lay yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā, huwa maulānā wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

Artinya: Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.

Ujian Orang Beriman adalah Sunnah Robbaniah

Dalam Hud : 7

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِنۢ بَعْدِ ٱلْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ هَٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

wa huwallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmiw wa kāna ‘arsyuhụ ‘alal-māi liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa laing qulta innakum mab’ụṡụna mim ba’dil-mauti layaqụlannallażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn

Artinya : “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

Dan Al-Mu’minun : 115-116

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

a fa ḥasibtum annamā khalaqnākum ‘abaṡaw wa annakum ilainā lā turja’ụn

  1. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْكَرِيمِ

fa ta’ālallāhul-malikul-ḥaqq, lā ilāha illā huw, rabbul-‘arsyil-karīm

  1. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.

Ujian bagi orang beriman pasti terjadi (sunnah Robbaniah), ujian di sisi Allah, tidak selalu berupa kesengsaraan melainkan juga keindahan. Luar biasanya adalah, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak melihat amal yang terbanyak (aksanu ‘amalaa), melainkan amal yang paling baik (ahsanu ‘amalaa) (Hud : 7). Sesuatu amal yang baik (ahsan) memiliki syarat hanya 2, yaitu :

  1. amal yang paling Ikhlas -karena Allah saja.
  2. ‘amal yang benar – maka, ini harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Dari kedua ayat itu jelas bahwa, semua manusia ciptaan Allah, diuji. Apalagi orang-orang beriman. Tentu ujiannya lebih tinggi lagi.

Ujian tertinggi dalam Alquran

Ujian tertinggi, atau paling berat ujiannya adalah :

  1. Para Nabi
  2. Orang semisal Nabi
  3. Orang yang semisal, semisal Nabi
  4. orang yang semisal- semisal -semisalnya Nabi
  5. dst.

Seseorang diuji sesuai kadar atau kualitas agamanya. Jika tebal maka ujiannya berat. Jika tipis, diuji sesuai dirinya.

Ujian Ada untuk Membersihkan Kesalahan Kita

Mukmin dilarang untuk menantang musuh dan juga dilarang untuk meminta kematian.

Dalam sebuah Hadist, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), yang paling sholeh dan seterusnya. Seseorang diuji berdasarkan agamanya, jika agamanya lemah maka ia diuji berdasarkan agamanya. Dan ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga  meninggalkan sang hamba berjalan di atas bumi tanpa ada sebuah dosapun” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 143).

Ujian ini akan terus hadir, menimpa seorang hamba sampai hamba itu berjalan di muka bumi ini dan sudah tidak punya kesalahan. Artinya, setiap ujian ada dalam rangka menghapus dosa-dosa kita.

Ujian Tidak Boleh Diminta

Mukmin dilarang untuk berkhayal menemui musuh (mengharapkan musuh datang) dan juga dilarang meminta kematian jika ujian itu tiba.

“Nabi salalahu alaihi wasalam bersabda: Janganlah kamu berharap-harap bertemu musuh. Tetapi apabila kamu menjumpai mereka, maka bertahanlah.” Hadits ini termaktib dalm kitab Al Lu’lu wal Marjan.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kamu menginginkan mati. Hendaknya, ia tidak berdoa meminta mati sebelum datang waktunya. Dan, sesungguhnya apabila orang itu telah mati, terputuslah amalnya. Padahal, umur seorang Mukmin itu sesungguhnya justru akan menambah kebaikan kepada nya.” (HR Muslim).

Adapun jika sudah merasa hopeless misalnya penyakit berat, Rasulullah mengajarkan untuk berdoa yang baik : “Ya Allah, hidupkanlah aku jika baik untukku. Dan wafatkanlah aku jika itu juga baik untukku.”

Beratnya Ujian Penyeru Kebaikan

Para da’i atau penyeru kebaikan tentu memiliki ujian berat. Sebagaimana Para Nabi juga diuji. Ujian para Nabi itu berat, Pun demikian dengan orang beriman yang mengikuti jejak Rasulullah, mengibarkan agama Allah. Mengapa berat?

  1. Mereka menyeru da’wah, mengajak menuju Allah tetapi mereka diperangi oleh mereka yang mengajak kepada toghut (setan).
  2. Mereka menyeru kepada al-Haq, tetapi mereka dilawan oleh para pembela kebatilan.
  3. Mereka memberi petunjuk, dilawan dan dimusuhi oleh pembela kebatilan.
  4. Mereka mengajak pada yang Ma’ruf tetapi secara langsung juga berhadapan dengan mereka yang gemar terhadap kemungkaran.

Pentingnya Istirja’

Dalam Al-Baqarah : 155-157

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

  1. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ụn

  1. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

ulāika ‘alaihim ṣalawātum mir rabbihim wa raḥmah, wa ulāika humul-muhtadụn

157.Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Jika diurutkan, ujian dalam Alquran sudah diurutkan tingkatannya :

  1. rasa takut
  2. rasa kelaparan
  3. kekurangan harta
  4. kehilangan jiwa
  5. buah-buahan.

Dan Allah memberikan Kabar Gembira pada orang-orang yang bersabar. Yaitu yang ber-istirja’. Dengan hal itu Allah mengangkat derajatnya. Tidak tanggung-tanggung, Allah berikan :

  1. solawat.
  2. kasih sayang.
  3. hidayah

Ketiga hal itu langsung dari Allah. Mengapa?

  1. Tujuannya agar kita berzikir.
  2. Allah ingin kita Bahagia, bahkan dalam ini kita dipaksa mendapatkan kasih-sayang Allah.

Ujian itu Pasti

Dalam Q.S Muhammad : 31

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبْلُوَا۟ أَخْبَارَكُمْ

Arab-Latin: wa lanabluwannakum ḥattā na’lamal-mujāhidīna mingkum waṣ-ṣābirīna wa nabluwa akhbārakum

Artinya: 31. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Disini jelas bahwa jihad dan bersabar tidak dinilai dari ucapan melainkan perlu diuji. Siapa yang mujahid (jihad) dan siapa yang sabar.

Surga Diiringi Hal-Hal yang Tidak Menyenangkan

Dalam Q.S Al-Baqarah : 214

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

am ḥasibtum an tadkhulul-jannata wa lammā yatikum maṡalullażīna khalau ming qablikum, massat-humul-bau waḍ-ḍarrāu wa zulzilụ ḥattā yaqụlar-rasụlu wallażīna āmanụ ma’ahụ matā naṣrullāh, alā inna naṣrallāhi qarīb

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa :

  1. Jalan menuju surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak kita sukai. Bukan jalan yang mulus, melainkan jalan yang penuh rintangan.
  2. Ujiannya sama seperti orang-orang terdahulu : masalah harta (ba’sa), fisik/rasa sakit badan (dhoroo’), dan jiwa (dzon). Kini ketiga masalah itu jelas terpampang di kehidupan kita. Terutama zaman ini, seperti penyakit jiwa di era social media.
  3. Pertolongan Allah itu dekat, maka mukmin dilarang berputus asa.

Surga tidak ada kesengsaraan, sebaliknya neraka penuh sengsara.

Didalam surga penuh kenikmatan, sebaliknya di luar surga pasti sengsara. Sebagaimana di bumi. Alquran menyebutnya dalam beberapa hal bahwa dalam surga itu : tidak lapar, pakaian indah, tidak haus, tidak terpapar matahari (ada rumah-rumah). Namun, menurut Ibn. Taimiyah, surga di dunia ini sudah Allah berikan, yaitu berupa iman. Maka, dengan iman, kita bisa menikmati keindahan surga. Walaupun masih di dunia.

Neraka dikelilingi oleh syahwat

Dalam hadits qudsi,

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, Dia mengutus Jibril untuk melihat surga, Allah berfirman, ‘Lihatlah ke surga dan lihatlah apa saja yang telah Aku sediakan untuk para calon penghuninya!’ Maka Jibril pun mendatangi surga, kemudian melihat surga dan segala sesuatu yang telah Allah sediakan untuk para calon penghuninya. Kemudian, Jibril kembali kepada Allah dan berkata, ‘Demi keperkasaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang surga kecuali dia pasti ingin memasukinya.’

Lalu Allah memerintahkan agar surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci, kemudian Allah berfirman kepada Jibril, ‘Kembalilah ke surga dan lihatlah apa yang telah Aku sediakan bagi para calon penghuninya!’ Maka Jibril pun kembali ke surga. Ketika itu, surga telah dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai. Kemudian, dia kembali kepada Allah dan berkata, ‘Demi keperkasaan-Mu, sungguh aku takut kalau tidak akan ada seorang pun yang dapat memasukinya.’

Allah berfirman, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah segala sesuatu yang telah Aku siapkan untuk para calon penghuninya!’ Maka dilihatlah neraka. Sebagian menghantamkan diri kepada sebagian yang lain. Lalu Jibril kembali dengan berita tersebut dan berkata, ‘Demi keperkasaan-Mu, tidaklah ada seorang pun yang mendengar tentang neraka kemudian ia berniat untuk memasukinya.’

Kemudian Allah memerintahkan agar neraka dikelilingi oleh hal-hal yang diinginkan oleh hawa nafsu. Allah pun berfirman, ‘Kembalilah ke neraka!’ Jibril pun kembali ke neraka. Setelah kembali darinya, Jibril berkata, ‘Demi keperkasaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada yang selamat dari neraka, kecuali ia pasti memasukinya.’”

Maka, ketika kita melihat kedua tempat kekal itu diciptakan, perlu kita renungi :

  1. mau masuk ke neraka maupun surga, semuanya sama-sama berjuang. Sama-sama menghabiskan waktu dan tenaga. Misalnya yang solat malam berjuang melawan kantuk, yang ke diskotik malam hari juga sama mengorbankan tenaga bahkan uangnya.
  2. walau demikian, kita bersyukur, Allah senantiasa melihat kita. Sehingga malu rasanya jika kita berjalan dan berjuang kepada kondisi yang Allah tidak ridho.

Perbedaan Orang Memandang Ujian

Setidaknya ada pandangan :

  1. Jabbariyah, menganggap diri manusia hanya wayang. Maka mereka tidak ingin melawan apapun. Misalnya, corona, tidak menggunakan masker dengan dalih ini semua sudah ujian, mau mati ya mati saja.
  2. Qodariyah, menganggap manusia hanya berusaha sendiri, faktor takdir tidak diikutsertakan.
  3. Washatiyyah, inilah kita, kaum Nabi Muhammad. Bahwa perlu kita berikhtiar dan setelahnya wajib bertawakkal (iman pada takdir).

Rasulullah bersabda, diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhu berbunyi sebagai berikut: 

عْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Nabi Muhammad pun bersabda, “I’qilha wa tawakkal” (tambatkanlah terlebih dahulu (untamu) kemudian setelah itu bertawakal-lah). >> kisah seorang mau solat, untanya dibiarkan. Rasulullah menegurnya, itu perbuatan yang dilarang. Jadi tetap wajib berusaha, kemudian tawakkal.

Kisah Ujian dalam Alquran

Dalam kitab al-ibtila wa atsaruhu fii hayatil mu’minin kamaa jaa til qur’anil kariim, Jika dirangkum, terdapat 2 :

  1. Ujian sebelum umat Nabi Muhammad.
  2. Ujian di masa dan setelah Nabi Muhammad.

Untuk ujian umat sebelum Nabi Muhammad ada :

  1. Adam
  2. Ibrahim
  3. Ujian-ujian Bani Israil
  4. Kaum Luth
  5. Kaum Yunus

Kisah Ujian Nabi Adam

Dalam Al-Baqarah : 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wa iż qāla rabbuka lil-malāikati innī jā’ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj’alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a’lamu mā lā ta’lamụn

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Inti dari ayat itu :

Bumi dirusak, tidak layak menjadi khalifah di bumi karena tidak bertasbih dan tidak mensucikan Allah.

Namun Allah lebih tahu, dengan memberikan ilmu pada Adam. Dan hanya Allah yang menciptakan segala makhluk, selalu ada manfaat dari setiap ciptaanNya. Misalnya babi, fungsinya bisa menyerap virus. Itulah kenapa babi dilarang dimakan, karena ia penuh dengan penyakit.

Jika dicek. Ternyata syarat dari malaikat, yang layak menjadi khalifah di bumi adalah :

  1. Tauhid, orang yang mensucikan Allah.
  2. Tasbih, orang yang berzikir pada Allah.
  3. Dan Allah menambahkan ilmu.

Sehingga dalam islam, tiga itulah syarat yang perlu kita selami dan sematkan dalam diri.

Adam diciptakan dengan fitrahnya, yaitu adanya syahwat. Sifatnya, setiap yang dilarang, penasaran, disukai. Maka, untuk mengendalikan ini, penting pendidikan, tarbiyah.

Iblis pun menggoda Adam. Iblis menekan jiwa Adam sehingga penasaran, kepo. kemudian memunculkan rasa was-was. Disinilah ada bisik-bisik setan, bahkan Iblis sampai bersumpah untuk mendekati pohon (syajaroh). Iblis memberikan nama itu dengan al-khuld (keabadian)- dalam Q.S Toha :120.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ ٱلشَّيْطَٰنُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

fa waswasa ilaihisy-syaiṭānu qāla yā ādamu hal adulluka ‘alā syajaratil-khuldi wa mulkil lā yablā

  1. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Disinilah kuncinya, manusia itu ‘gila’ terhadap keabadian (takut hilang, jika relevansi zaman ini : sudah diingatkan Rasulullah. Penyakit manusia adalah wahn -cinta dunia, takut mati. ini warisan dari sifat fitrah Adam).

Setan itu hanya sampai di pelataran hati, adapun pilihan, kembali pada manusia. Sebab hati/jiwa manusia, dalam genggaman Allah. Manusia hanya bisa memilih, iman atau setan.

Indahnya bahasa dalam Alquran, menyebutkan setiap kesalahan manusia dengan sebutan tergelincir (An-Nahl : 94). Tergelincir atau terpeleset ini artinya : bisa bangun lagi, perlu kita bantu bangun (jika ada saudara yang salah), pentingnya saling menasihati dan memberi peringatan.

Sifat dan karakter Adam ini diturunkan ke anak-cucu. Kita perlu belajar darinya.

  1. Adam lupa terhadap perintah Allah. Itulah kenapa orang beriman perlu untuk selalu menerima nasihat. Jika karakter Adam menerima nasihat dan mau bertobat, sebaliknya Iblis, ia membantah nasihat (ini kalau dikorelasikan hari ini, menyalahkan orang lain). Maka, penting untuk ngaji terus.
  2. Tidak ada tekad kuat dalam diri Adam dala mmengikat ilmu (masuk kedalam adab menuntut ilmu). Ilmu akan dating untuk orang yang berlelah-lelah diri, bersemangat dan memiliki antusias tinggi. ketika tidak ada tekad, sebagaimana Adam, maka ia menjadi masalah.

Jenis Ujian Manusia di Dunia

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

zuyyina lin-nāsi ḥubbusy-syahawāti minan-nisāi wal-banīna wal-qanaṭīril-muqanṭarati minaż-żahabi wal-fiḍḍati wal-khailil-musawwamati wal-an’āmi wal-ḥarṡ, żālika matā’ul-ḥayātid-dun-yā, wallāhu ‘indahụ ḥusnul-maāb

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Jika diurutkan, ujian manusia berupa Wanita, anak-anak, harta benda, kuda pilihan (kendaraan). binatang ternak (toko, usaha) dan ladang (sumber penghidupan).

Ujian Terbesar : Al-Amwal & Al-Aulad

Jika disorot, Alquran menyebut kosakata anak dan harta lebih banyak dari yang lain. Maka, bisa dikatakan bahwa ujian terbesar, berat dan banyak adalah Harta (Al-Amwal) dan Anak (Al-Aulaad). Keduanya disebut berpotensi sebagai fitnah dan musuh. Sebab keduanya ini menjadi ujian terbesar kita semua. Di sisi lain, jika keduanya ini terkelola dan terdidik dengan baik, menjadi variable kebesaran luar biasa.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan :

  1. Al-Amwaal (harta) sebagai sumber manfaat, artinya memiliki nilai kebermanfaatan.
  2. Al-Aulaad (anak-anak) menjadi sumber kekuatan dan pertahanan.

Jika keduanya digabung untuk di jalan Allah, maka kita memiliki kebermanfaatan dan pertahanan luar biasa. Jika memiliki kedua ini, maka akan menjadi manusia mulia.

Harta dalam al-Qur’an disebut dengan istilah al-mal (dalam bentuk mufrad) atau al-amwal (dalam bentuk jamak). Begitu besar perhatian al-Qur’an terhadap masalah harta sehingga kata al-mal dengan berbagai bentuk katanya disebut sebanyak 86 kali (mufrad 25 kali, dan jamak 61 kali).

Allah menyebut harta dengan sebutan : khoir (baik) dan qiyamah (tegak berdiri). Artinya, harta ini jika di tangan orang mukmin, akan memuliakannya dan menjadikannya baik. Sebaliknya, jika tidak ada, membuatnya hina dan tidak berperangai baik (hari ini, mukmin seperti buih).

Demikian dengan anak-anak, jika terdidik baik akan disyukuri. Jika tidak, akan menjadi musibah.

Dalam Alquran kebanyakan harta disebut terlebih dahulu daripada anak-anak. Namun ada 2 ayat yang mana anak disebut dulu, kemudian harta. Yaitu Q.S Al-Imran : 14 (berkaitan dengan syahwat) dan At-Taubah : 24 (berkaitan dengan mahabbah).

Jika berkaitan dengan anak, ia pasti berkaitan dengan cinta. Sebab anak lebih dekat dengan kehidupan kita daripada harta. Anak butuh apa, ortu rela mengorbankan semua. Namun hari ini banyak ortu yang mengorbankan anaknya hanya demi mencari harta. Ketika anak tumbuh tidak sesuai dengan apa yang diridhoinya, menyesal lah di hari senja.

Fakta membuktikan, harta yang dikumpulkan sejak mudah hingga tua tidak membuat Bahagia. Ada juga harta yang terkumpulkan dengan berdarah-darah, seketika ludes ketika diuji oleh anaknya. Maka, Ketika dahulu lebih memilih harta daripada anak, anak sering dikorbankan, tidak dipedulikan demi mencari harta. Saat senja, menyesal sebab tidak adanya anak yang solih-soliha.

Fitrahnya manusia, mencintai anaknya, maka anaknya akan didahulukan. Sedangkan harta ketika menjadi ujian, ia akan didahulukan juga. Pada intinya keduanya beradu antara sebagai cinta dan fitnah (ujian).

Wallahu’alam bisshowab.

Referensi

  1. kitab al-ibtilaa’
  2. Kajian ustadz Budi Ashari
  3. https://tafsirweb.com/558-surat-al-baqarah-ayat-124.html
  4. https://tafsirweb.com/3067-surat-at-taubah-ayat-51.html
  5. https://tafsirweb.com/37116-surat-hud.html
  6. https://tafsirweb.com/37145-surat-al-muminun.html
  7. https://www.republika.co.id/berita/q9ubou430/jangan-berharap-kematian
  8. https://tafsirweb.com/37098-surat-al-baqarah.html
  9. https://tafsirweb.com/37257-surat-muhammad.html
  10. https://tafsirweb.com/37098-surat-al-baqarah.html
  11. https://muslimahdaily.com/khazanah/muslim-digest/item/511-masya-allah-inilah-rahasia-penciptaan-surga-dan-neraka.html
  12. https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/makna-hadits-bekerjalah-untuk-duniamu-seolah-kauhidup-selamanya-hwmYf
  13. https://tafsirweb.com/37098-surat-al-baqarah.html
  14. https://tafsirweb.com/37137-surat-thaha.html
  15. https://tafsirweb.com/37100-surat-ali-imran.html


Tinggalkan Balasan