Menikah satu juta delapan ratus

Hari ini ada adik sepupu suami menikah di Depok, di sebuah gedung. Tetapi kami tidak bisa hadir sebab kondisi anak dan suami sedang tidak fit. Syahid masih demam, panas. Setelah sarapan pagi, beberes, mencuci, menjemur dan mandi aku membuka file komputer. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi. Tetiba saya gulirkan senyum, jadi ‘ingat masa-masa’ itu πŸ™‚

Berkelebat segala hal yang dulu kupikir berat, ternyata mudah. Apalagi? kalau bukan pernikahan. banyak orang pusing saat menjelang pernikahan (tepatnya : biaya) maklum seumur hidup satu kali (kecuali yang mau menikah berkali-kali- kayak bapakku. Ngomongin bapak jadi inget maharnya bapak ke ibuku hanya sepuluh ribu rupiah- dan itupun uangnya dari kakek. Plus pakai segala kebohongan hiks. Ah skip dah. Tar malah baper hehehe).

Kemarin suami melamarkan adik laki-lakinya ke dataran tinggi Gayo, minimal 60juta (what? dalam hati saya itu mah bisa buat beli rumah cash bertahap hehehe). Teringat juga beberapa teman yg rela ‘menunggu’ waktu agak lama hanya untuk mengumpulkan uang resepsi bernilai ratusan juta. Membayangkan uang ratusan juta wah rasanya gimana gitu, wkwkwk maklum uang segitu mah bisa buat bisnis yak (atau bisa buat daftar sertifikasi konMari di Inggris xixixixi). Ya setiap daerah memiliki adat, namu nsemua itu tergantung dan kembalikan lagi kepada keluarganya. Gak semua orang memegang adat kuat- kalau berat- kenapa dipegang. Terpenting kan sesuai syari’at πŸ˜€

Pagi ini juga ada adik sepupu melangsungkan pernikahan di gedung di Depok. Wah barokalloh ikut bergembira saya karena semakin banyak para lelaki yang semakin dewasa dan mandiri dari ortunya. Ya sih identifikasi kemandirian terkadang terlepas setelah menikah -walaupun banyak yang sudah mandiri sejak di bangku sekolah- (nunjuk hidung suami dan diri sendiri hihihi). Sekolah biaya sendiri, menikah juga biaya sendiri. Itu yang kami rasakan dulu.

Kami menikah pada bulan syawal, Agustus 2014 silam. Biaya? hanya satu juta delapan ratus rupiah saja πŸ˜€ hehehe, maklum baru lulus kuliah bahkan saya baru saja yudisium harus membayar biaya wisuda sendiri (masih inget biaya wisudaku waktu itu minjem duit ke teman sebesar 500 ribu- dicicil bayarnya setelah menikah).

Menikah dengan sangat sederhana, dari mulai persiapan ala kadarnya, jamuan bahkan kenduri juga sederhana. Dibantu gotong royong para tetangga, diriku berazzam untuk menyederhanakan semuanya. Terpenting sah dan berkah πŸ™‚

Waktu itu tidak ada proses resmi lamaran sebab jauh jawa barat dan jawa timur. Lamaran hanya melalui telpon. Sebelumnya suami menemui ibu ketika ibu menengok saya di Surabaya pada tahun 2013. Kemudian tahun 2014 tidak berjumpa lagi, berjumpa saat akad nikah.

Oia, kami -bahkan sebelum menikahpun- memang suka menuliskan pengeluaran harian dan bulanan dan tahunan (semacam punya ‘radar kebiasaan’ yang sama hahaha). Maka wajar ketika membandingkan pengeluaran rumah tangga vs pengeluaran awal menikah vs pengeluaran para saudara dalam pernikahannya. Berasa jauuh wkwkwkwk.

laporan

Dari laporan keuangan tersebut kutemukan laporan di file tahun 2014 di sheet pertama- Agustus 2014 saya menemukan rincian biaya pernikahan kami, hihihi.. Sangat simple. Sederhana. Untuk membuat udanganpun tanpa dicetak. Undangan di media social untuk teman dibuatkan oleh sahabat saya (Siti Fariya -Teknik Perkapalan 2009 ITS). Tidak dicetak, hanya dipasang di cover facebook πŸ™‚

Undangan Nikmah-Aang
Dipasang di cover FB kami πŸ™‚ -big thanks to Riya :’)

Undangan khusus tamu kenduri juga (tetangga datang mendoakan) cukup saya ketik sendiri di ms.word kemudian difotokopi 25 lembar, distaples sendiri πŸ˜€

Semua biaya hanya 1,8jutaan saja itu sudah masuk semua rincian makan. Kokinya keluarga sendiri yakni emak tersayang, dibantu para tetangga. Piring, gelas, wajan dsb pinjam ke PKK. Semuanya serba cepat dan akurat. Tgl 19 akad nikah dan makan sederhana menyambut tamu sampai sore (asar). Tgl 19 malam packing untuk persiapan acara beastudi di Malang, tgl 20 berangkat ke Malang. Sangat cepat. Berikut rincian biaya pernikahan kami πŸ™‚

biaya menikah

What? Murah banget yak. Iyaa hahahaha..terpenting setelah menikah mau berjuang bersama. Wujudkan cita-cita bersama, bantu kedua keluarga dan terpenting adalah tetap optimis. Allah akan memberikan kecukupan bagi orang-orang yang mau hijrah dan beribadah pada-Nya. bukankah pernikahan adalah awal mula sebuah ibadah bersama? πŸ™‚

Menikah itu mudah dan murah, yang tinggi adalah gengsinya πŸ˜‰

Bagi saya bukan letak di awal seberapa besar dan banyak namun setelah menikahlah yang terpenting, sikap, tanggungjawab dan pembinaan dari suamilah yang terpenting dan paling utama.

Semangat semua yaa.. tiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Semoga menjadi ibroh untuk kita semua agar menjadi manusia yang bijak dan dewasa dalam menghadapi sebuah masalah.

Rumah tangga itu berat jika tanpa ilmu, berat jika tanpa awarenessΒ dan akan berat jika sejak awal tidak menetapkan visi misi πŸ™‚

So, bagi yang masih jomblo..banyak-banyak berdo’a detail, ikhtiar sekuat tenaga dan melayakkan diri πŸ™‚

Sebab jodoh adalah ‘cerminan diri’. Berproseslah, bersungguh-sungguhlah dan Allah akan memberikannya di waktu yang tepat dan cara yang tepat.

Dulu saya sering merinci do’a. salah satunya adalah ingin punya suami yang memiliki banyak saudara (karena saya anak tunggal, krik krik krik), beda kampus, orang yang sabar, suka kebersihan, wangi, suka berbenah, mau diajak berjuang bersama, menikah sederhana dan masih banyak lagi. Dan ternyata 98% Allah kabulkan πŸ™‚

Alhamdulillah πŸ™‚

Kamu juga pasti bisa… πŸ™‚

One Reply to “Menikah satu juta delapan ratus”

  1. […] mantap bahkan sebelum kami berdua lulus, sudah meniatkan untuk segera membentuk keluarga dengan pernikahan dan inilah momentum sebenarnya dalam berproses untuk menjadi keluarga yang menggerakkan perubahan. […]

Tinggalkan Balasan