DAILY

Mindful Writing

Akhir-akhir ini, saya merasa kehilangan selera untuk menulis. Namun, sejak mengubahnya menjadi kebutuhan, untuk jeda, setidaknya sadar napas saat menulis, saya merasa lebih rileks dan nyaman. Ya, saya mencoba membawa kondisi mindfulness kedalam aktifitas menulis.

Sebagai seorang penulis yang masih menajamkan jam terbang, mindful writing ini sungguh membantu. Setidaknya melatih fokus saya, sebagaimana ketika awal saya menyadari gerak napas, pun kini berpindah ke gerak jemari, secara bertahap membuat saya semakin lincah, ringan, namun terarah.

Bagi saya, menulis bukanlah sekadar aktifitas biasa. Bukan pula aktifitas ‘iseng’ belaka. Lebih dari itu, menulis adalah terapi. Dan di sini, saya ingin melakukan terapi bersama meditasi diri.

Bagaimana langkahnya?

Disclaimer! Ini hanya berbagi pengalaman pribadi, bukan sebagai guru atau mentor mindfulness ya. Dan karena saya seorang muslimah, tentu saya akan melekatkan di awal dengan perjalanan spiritual saya.

Langkah pertama, sadar napas, sadar niat.

Ya, di awal, sebelum menulis, saya akan bernapas dan mengatur waktu. Sambil berdoa dan meminta petunjuk pada Allah, agar tulisan itu tidak sia-sia, tidak mubazir, jikapun tak ada manfaat yang diambil oleh orang, setidaknya saya menulis untuk diri saya sendiri, tulisan yang bermanfaat untuk saya pribadi sebagai penulisnya sekaligus pembaca pertama.

Setelah itu, setiap tarikan napas, akan saya selaraskan dengan gerak jari jemari otot tangan. Dengan demikian, saya tetap fokus.

Langkah kedua, bye-bye monkey mind.

Ya, pikiran melantur atau ide yang menari-nari di kala aktifitas menulis berlangsung kerapkali menghinggapi. Langkah kedua ini, saya akan menepis, atau membereskannya di saat sedang break. Setidaknya, saya tidak terlalu lelah sebab beban dari pikiran melantur itu cukup fluktuatif. Langkah kedua ini, saya lakukan dengan menarik napas, sadar, kemudian melanjutkan langkah jemari kembali.

Langkah ketiga, Fokus Sampai Finished

Ya, hanya tiga langkah ini saja. Saya merancang sesuatu apapun sampai akhir. Kendati belum diselesaikan saat itu juga, setidaknya saya sudah tahu ujungnya akan kemana dan ada dimana. Karena jika tidak difokuskan, segala hal tak akan pernah selesai. Sebab tulisan yang baik, adalah tulisan yang tamat. *remindermyself

Selain tips di atas, sebagai seorang muslimah, saya mulai mencoba menghadirkan mindfulness dalam islam, muraqabah, merasa diawasi Allah dengan adanya dua malaikat penjaga setiap hari. Dengan kesadaran ini, saya merasa lebih yakin bahwa saya tidak sendiri dan saya harus mampu melakukan segala sesuatu dengan ikhtiar yang optimal dan sungguh-sungguh.

Selain itu, dengan melekatkan nilai ini, saya jadi sering mengingat akan kematian. Dan itu merupakan hal yang mengetuk keimanan. Sebagaimana dalam hadist.

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’

Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan