EDUKASI MINDFULNESS

Mindfulness, Consciousness dan Self Healing

Selamat pagi!

Saya tulis disini tentang 3 poin itu supaya tidak mbolak-mbalik saya ngetik. 😂

Sebenarnya saya sedang menulis sebuah buku tentang ini karena berkaitan erat dengan pengalaman pribadi. Kesadaran saya setelah belajar itu, saya sadar bahwa kebanyakan teori sumber asalnya dari barat dan digali lagi itu diambil dari kitab suci agama Budha (termasuk pelatihan yang saya ikuti) maka saya sebagai muslim mulai menggali nilai-nilai dari islam. MasyaaAllah di islam sendiri lengkap, namun karena kurangnya publikasi terhadap istilah-istilah yang marak -sesuai judul diatas- sehingga kepenulisan untuk hal tersebut menurut saya perlu diperbanyak dari muslim sendiri.

Selama ini, mindfulness memang cukup banyak membantu. Misalnya mengatasi trauma, mental block hingga memperlancar karir dan passion. 

Kita sebagai manusia tentu diciptakan agar menjadi makhluk yang kuat. Allah SWT tidak akan membiarkan diri kita lemah, maka ujian selalu ada dan selalu hadir untuk kita pelajari. Baik ujian yang sumbernya oranglain maupun diri sendiri. Kabar baiknya, kita diberikan kemampuan untuk pulih diri yang diisitilahkannya ‘self healing’.

Jadi, apa itu >> Mindfulness, Consciousness dan Self Healing ?

Dalam pelatihan yang saya ikuti istilahnya tidak hanya Mindfulness namun juga ada lawan katanya, yaitu Mindlessness.

What is mindfulness? Phenomenologically, mindfulness is the feeling of involvement or active engagement. How do people achieve it? Learning to be mindful does not require meditation. It is the simple process of actively noticing new things.

Secara fenomologis, Mindfulness diartikan sebagai perasaan keterlibatan atau keterlibatan aktif dengan cara sadar terhadap apa yang ada di hadapannya kini. Dalam praktiknya, mindfulness tidak memerlukan meditasi karena prosesnya hanya perlu latihan dan latihan sepanjang detik untuk mengelola ketajaman diri kita.

Kebalikan dari mindfulness yaitu mindlessness. Mindlessness adalah keadaan pikiran yang tidak aktif -yang terutama ditandai oleh ketergantungan pada memori di masa lalu atau beberapa detik lalu. Misalnya ketika diajak makan oleh seseorang yang pernah menyakiti diri di masa lalu, namun kita menolaknya tanpa memberikan alasan tepat. Padahal dari orang tersebut, beberapa rekan lain malah mendapatkan pintu rezeki setelah makan (karena tidak sekadar makan, namun juga ada bahasan lowongan pekerjaan).

Didalam mindfulness, kita tidak menghindar perasaan yang negatif (seperti kecewa, sedih dsb.) namun kita mampu menyadari dan melihatnya tanpa merasa terbebani karenanya sehingga sikap yang dihasilkan di saat itupun mengantarkan kita kepada kebaikan-kebaikan..

Sedangkan mindlessness ini kontra darinya, ia akan terus melabeli dan membebani seolah itu otomatis (sebagaimana kebiasaan yang sudah mengakar) di setiap detik sehingga seseorang tidak mampu merasakan apa yang seharusnya diubah atau dilakukan dengan tepat di masa kini.

Mindfulness inilah yang saya pelajari dan saya ambil sertifikasinya 😂 karena didalamnya juga belajar self healing, berbeda jika hanya ambil self healing saja, belum tentu membahas mindlessnessnya.

Sedangkan consciousness ini merupakan keadaan atau kondisi terhadap kualitas kesadaran seseorang, baik oleh objek eksternal maupun internal dari dalam diri seseorang. Terdapat 3 level yang saya catat dari materi pelatihan itu, yaitu : conscious, sub-conscious, dan the unconscious.

Conscious ada di permukaan yaitu apa-apa yang kita tampilkan dan rasakan baik berupa perkataan maupun persepsi yang hadir di saat itu. Kemudian di bawahnya- subconscious, berupa memori atau pengalaman-pengalaman yang pernah menghampiri kita, ini bagian dari alam bawah sadar kita. Dan di bawahnya lagi, gundukan besar yaitu Unconscious yaitu kondisi dimana sifat ini akan muncul keatas dan mendesak seseorang jika kesadaran terhadap diri dan lingkungan sudah hilang.

Contohnya jika seseorang dimarahi bos, dalam kondisi sadar ia akan segera memperbaikinya dan berpikir bahwa memang dengan seperti inilah dia akan memiliki kemampuan yang meningkat. Namun ketika subconsciousnya yang muncul, ia akan memutar ulang memori kemarin untuk menyela perbaikan yang seharusnya sudah benar itu. Namun dalam kondisi yang tidak punya kesadaran, yang muncul dari dirinya adalah marah, sakit hati dan bisa saja memberontak. Jika hal itu diteruskan dan dimunculkan yang terjadi adalah dirinya bisa dipecat dari pekerjaan hanya karena sikap yang tidak tepat dimunculkan (unconsciusness).

Lalu, self healing ini dimana posisinya?

“All healing is first a healing of the heart.” – Carl Townsend

Allah SWT menciptakan manusia dalam kondisi yang sempurna dan unik, tidak ada satupun yang sama. Maha Suci Allah yang tiada Ilah selain dariNya- dalam hal inipun sebenarnya setiap diri kita, setiap orang memiliki kemampuan terapeutik (kekuatan menyembuhkan) untuk diri sendiri, yang disinilah kita bahas yaitu self healing (kemampuan pulih diri).

Tidak hanya yang berkaitan luka bathin, luka fisikpun -dalam kajian sains- sudah terbukti seperti saat terjadi luka atau cedera. Pembuluh darah kita ada beberapa yang rusak dan terjadilah perdarahan. Untuk menghentikan perdarahan tersebut, tubuh kita akan mengaktifkan serangkaian proses pembekuan darah dan penyembuhan luka yang prosesnya disebut hemostatis. Masyaa Allah ya.

Self-healing adalah sebuah proses sederhana membantu menyembuhkan luka batin dengan melibatkan kekuatan diri secara penuh untuk beranjak dan bangkit dari penderitaan. Tanpa bantuan orang lain, tanpa media apapun.

Self-healing membantu kita mengenali pikiran dan perasaan negatif yang selama ini mengurung diri kita (mengurung ini bukan mengurung fisik ya, tetapi mengurung mental).

Setelah mengenali dan menerimanya, kita akan mampu mengurai satu persatu masalah yang membebani pikiran dan perasaan kita tadi. Tujuannya bukan mengingat-ingat luka yang telah berlalu, tetapi mengajak kita untuk lebih memahami diri.

Banyak teori dan berbagai cara yang bisa dilakukan untuk melakukan self healing. Salah satunya dengan mindfulness. Khusus teori mindfulness yang perutukkannya berdamai dengan masa lalu (Relating to the Past) biasanya kita pakai mindfulness model AVP (seperti coretan di bawah ini).

AVP bisa pakai fokus nafas perut, bisa visualisasi dan juga menggunakan latihan fisik dan relasi. Pada praktiknya ketiga poin itu bisa dikerjakan sendiri.

Dengan mindfulness sebenarnya tidak terbatas hanya untuk mengobati diri karena kita membiasakan diri untuk mengelola pikiran, perasaan, dan lingkungan untuk menghubungkan titik-titik yang ada dalam pikiran kita. Kita jadi lebih bisa memaknai setiap peristiwa dan kejadian yang pernah kita alami dengan lebih sehat. Mindfulness dapat meningkatkan self-compassion (menyayangi diri, love innerself) dan kebermaknaan hidup.

Mindfulness bisa dilakukan dengan berbagai cara. Kalau saya pribadi melihat ini bagian dari memaknai kesadaran, sebagai muslimah saya bisa lakukan setiap sholat. Itulah kenapa jika kita gali lagi lebih dalam, makna ‘sholat mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar’ salah satunya jika kita bisa menjalaninya tidak sekadar ritual semata namun juga menjadi sarana yang Allah sediakan untuk meningkatkan mindfulness kita. MasyaaAllah ya.

Cara lain dari self-healing juga bisa dengan Self Acceptance

Self Acceptance yaitu kemampuan individu untuk bisa melakukan penerimaan terhadap diri sendiri, penerimaan diri sendiri melainkan sikap memandang diri sendiri apa adanya dengan merasa bangga dan berusaha untuk meningkatkan kualitasnya. Ini bisa diuraikan melalui tulisan, visual dan juga berbagai cara yang cocok untuk diri kita.

Terakhir, kita bisa juga berlatih untuk mampu menempatkan masa lalu pada tempatnya dengan kesadaran diri (mindful) di saat kita sudah mampu memaknai hidup. Maka spiritualitas inilah yang menurut saya pribadi berperan penting untuk menyembuhkan diri. Bagaimanapun juga, tujuan diciptakan manusia Adam di bumi sudah kita sepakati bersama-sebagai muslim- yaitu hanya ada 2 yakni berilmu dan bertakwa (dari artikel muslimah.or.id).

1. Mengilmui Tentang Allah

Allah Ta’ala berfirman

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).

Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu

2. Untuk Beribadah Kepada Allah Semata

Allah Ta’ala berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Ayat di atas jelas menyebutkan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah, hanya menyembah Allah semata. Ayat ini mengisyaratkan pentingnya tauhid, karena tauhid adalah bentuk ibadah yang paling agung, mengesakan Allah dalam ibadah.

Ayat ini juga mengisyaratkan pentingnya beramal, setelah tujuan pertama manusia diciptakan adalah agar berilmu. Maka buah dari ilmu adalah beramal. Tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan. Sebagaimana pohon, tidaklah ditanam kecuali untuk mendapatkan buahnya. Karena ilmu adalah buah dari amal.

Wallahu’alam bishowab, semoga tulisan singkat diatas bermanfaat.

Salam,

Khoirun Nikmah di Bogor

24/6/2019 09:28

3 thoughts on “Mindfulness, Consciousness dan Self Healing”

  1. Jazakillah khairan katsirah. terimakasih atas sharing ilmu yang sangat bermanfaat.
    Izin bertanya, bagaimana caranya jika saya ingin mengikuti juga pelatihan mindfulness?
    terimakasih sekali lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *