DECLUTTERING & ORGANIZING MINIMALIST

Minimalis (Part 5 – Mainan Anak)

Mainan anak, ini tentu kebutuhan dan jumlahnya berbeda-beda setiap keluarga. Saya pribadi saat menulis blog ini masih memiliki satu putera saja, kebetulan tipenya juga kinestetik dan lebih enjoy dengan DIY (do it yourself) alias mainan yang tidak dirancang pabrik.

mobil-mobilannya dia simpan di potongan kardus yang sudah dibentuk (pembuat DIY : abi)

Dulu saya mengira semakin mahal dan semakin banyak saya mengumpulkan mainan untuk puteras saya, semakin baiklah pertumbuhannya. Sayangnya tidak selalu demikian, justru setelah saya perhatikan (bisa dibaca di kategori tugas kelas saya di Ibu Profesional) mayoritas anak saya beraktifitas dengan menggunakan DIY-nya.

Karena saya juga mengajar paud, setiap mainan yang putera saya kurang suka dan tidak dia gunakan lagi, serta-merta saya hibahkan ke paud. Kini, di usianya yang 4 tahun, anak saya hanya menyisakan lego dan bricks yang dia suka saja. Ada beberapa jenis mobil-mobilan juga yang diatas tadi. Selebihnya, DIY. Bahkan hobinya -memasak- pun menggunakan alat dari dapur betulan.

mainan plastik yang tersisa

Di rumah, jumlah yang terbanyak masih dicapai oleh buku anak (walaupun itu sudah berkurang dibandingkan sebelum saya menerapkan minimalis). Saya hanya menyimpan beberapa buku yang masih digunakan, anak suka, dibutuhkan dan memang awet.

Putera saya lebih menyukai sesuatu barang yang bisa disentuh dan dimainkan seperti dari alam liar -biasanya dia rajin mengumpulkan daun, biji, batu, kerikil dari luar. Itulah sebabnya, mainan di rumah sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah mainan anak pada umumnya. Selain itu, kemanapun pergi, setiap dia meminta mainan, kami ajak menabung dan berpikir terlebih dahulu, bisa jadi itu hanya digunakan sesaat. Berbeda setiap putera saya meminta beli telur, tepung dan bahan yang bisa diolah (biji kacang hijau misal) itu jauh lebih bermanfaat dan tidak meninggalkan waste.

Selain itu, putera saya lebih menyukai pemberian pengalaman dibandingkan barang. Misalnya saat dia sudah berhasil meraih sesuatu, kami hadiahkan dia untuk pergi jalan-jalan, makan enak, atau membuat sesuatu dibandingkan membeli barang yang sifatnya konsumtif/akumulatif.

Tentu setiap keluarga punya pertimbangan khusus, apa yang saya dan suami sepakati disini untuk hidup minimalis belum tentu sama langkahnya dengan pembaca disini. Itulah kenapa di metode Gemar Rapi, ada unsur personalized dan fleksibilty. Setiap orang berbeda titik mulai dan prosesnya.

Semangat, being minimalist 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *