DECLUTTERING & ORGANIZING MINIMALIST

Minimalis (Part 8 – Digital Clutter)

Membahas file digital, sumber utamanya biasanya dari memori utama atau internal ponsel. Kali ini, saya membahas bagaimana dan rutinitas saya meminimalisir clutter yang berasal dari file digital.

Jadwal berbenah file (ketika kondisi normal – tidak ada pekerjaan yang sifatnya urgent) saya rutinkan setiap malam minggu, seperti malam ini (sabtu malam). Tujuannya untuk evaluasi pekanan juga, file apa saja yang masuk kedalam ponsel dan sebisa mungkin saya rapikan segera (dengan memindahkannya ke laptop, mendiscard kemudian menatanya).

Adapun kondisi ketika saya tidak sempat (entah karena pekerjaan maupun ada agenda keluarga yang tidak bisa leluasa mengerjakan proses decluttering file digital ini) saya rapel sebulan dua kali. Yakni di tengah bulan dan juga akhir bulan.

Langkahnya, saya sambungkan kabel ponsel ke laptop. Kemudian akan muncul folder seperti ini.

internal & SD Card- external

Oia, ada cara lain juga tanpa kabel, saya menggunakan clouds onedrive yang sebelumnya sudah saya install di ponsel (karena hp nokia, bawaannya microsoft, semua terpusat kesana). Dengan menggunakan one drive, bisa langsung meng-cut file yang perlu dikurangi untuk dipindahkan sementara (seleksi selanjutnya tetap membuka dari laptop). Sayangnya cara ini kurang terekomendasi jika tidak familiar menggunakan onedrive (karena harus ada sinyal juga).

Baiklah, balik lagi ke cara yang manual, pakai laptop/PC.

Setelah tersambung, saya akan membuka internal saya. Biasanya akan muncul berbagai folder dari aplikasi yang terunduh. Kebetulan, ponsel saya memiliki aplikasi yang sedikit, sehingga folder yang muncul juga sedikit (ini tentu berbeda sebelum saya mengurangi aps).

Folder internal ponsel

Biasanya saya mengurangi mulai dari DCIM, kemudian folder yang lain, terakhir folder whatsapp (yang isinya agak banyak).

Untuk menghapus file corrupt atau mini file, klik folder thumbnails. Buka foldernya, hapus isinya. Walaupun kecil-kecil dan ringan, jika ponsel teman-teman jarang dibersihkan, akan terasa berat juga.

Untuk whatsapp juga sama, demikian.

klik thumbs, bersihkan isinya.

Khusus file media, biasanya saya hapus yang bagian sent (klik folder, kemudian klik semua file –>> delete). Adapun yang sudah masuk (images whatsapp, video dsb), saya cut- pindah ke folder laptop. Kemudian dari sana saya sortir kembali (hapus, pilih, hapus, buang).

klik ctrl+A –> delete

Proses menatanya, saya bagi maksimal 3 kali klik folder dalam 1 tampilan. Jika ada yang penting, saya masukkan ke google drive. Bahkan saya mempunyai beberapa email khusus untuk menyimpan file penting lainnya.

aku moving yang kiriman dari luar, untuk yang sent aku delete.

Ada juga file dengan format database dan juga enkripsi, khusus file itu, selama teman-teman butuh backup, simpan aja. Tapi perlu dicek dulu. Tapi saya pribadi selama ini tidak pernah menggunakannya, jadi saya hapus.

bisa cek disini, ini digunakan untuk membuka database dari file internal.

Menurut saya pribadi, digital clutter ini tidak akan parah jika kita memahami prioritas. Misalnya :

  1. install aplikasi seminimal mungkin, jika tidak dibutuhkan betul, lebih baik, un-install. atau tunda menginstallnya jika seandainya bisa diakses dari perangkat lain (misalnya laptop- untuk editing).
  2. jika ingin menyimak dunia maya, usahakan seminimal mungkin juga- karena BISA DIPASTIKAN SELALU MENIMBULKAN DISTRAKSI- sehingga buka ponsel seperlunya saja, jika mau menggunakan ilmu dari para pakar minimalis, buka hanya 2x sehari, pagi dan malam. Namun bagi para pebisnis online ini tentu bukan hal yang mudah. Tapi jika kita mau ikhtiar mengatur -minimal jam screen time- insyaaAllah bisa.
  3. gadget adalah alat, jika tidak kita kendalikan, maka kita akan dikendalikan olehnya. So, mari belajar menggunakan prioritas sama-sama (*ngomong ke diri sendiri).

Mungkin itu dulu -hanya sekilas ya- insyaaAllah berlanjut kapan-kapan. Sebenarnya luas bahasan digital clutter ini tidak sekadar berisi file namun juga decluttering dalam hal yang lain (pilihan waktu, tontonan, pertemanan dsb.)

Bagi yang belum baca edisi minimalist ini bisa ke menu ini. Atau kateori minimalist.

*bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *