BEROPINI MINDFULNESS MINIMALIST

Minimalist Gadget Time

Saya tahu, ini berat. Namun, setelah setengah tahun plus dua pekan ini tidak produktif, saya menelisik gejala adiksi. Ya, saya ter-adiksi oleh gadget, terutama media sosial atau social media. Sungguh mencegangkan memang, sekali membuka gadget di pagi hari, hampir selalu memicu diri untuk ‘open aps’ and open again. Gejala otak yang tak menyenangkan akibat dari adiksi gadget adalah : kehilangan waktu.

Agak menggelikan sebenarnya, kenapa saya baru ‘memberontak’ hari ini. Mungkin efek dari kejenuhan yang luar biasa akhir-akhir ini, tepatnya sejak pandemi covid-19 menyerang ditambah kemarin di gemari madya sudah memasuki materi menata waktu- yang mau enggak mau harus saya baca dan saya praktikkan untuk diri sendiri. Mengulang membaca materi menata waktu seperti menjerumuskan diri ke dalam kubangan rasa bersalah. ‘Kenapa selama ini saya ter-adiksi oleh sosial media?’

Kenapa Sosial Media bisa menjadi Candu?

Pertama, menjadi wadah ekspresi diri. Mungkin sedikit klise ya, medsos sudah mendarahdaging di dalam kulit dan nadi karena secara reflek setiap hari dibuka. Hanya untuk mengunggah sesuatu, mencari berita yang viral hingga untuk melihat status teman. Menggelikan. Sebenarnya saya pribadi tidak terlalu memperhatikan orang lain mau mengunggah apa, tetapi, sekalinya saya membuka menu explore dan saya scroll up terus maka waktu saya habis karenanya.

Kedua, karena ia bekerja sebagaimana otak bekerja, tapi dalam bentuk intelligent artificial. Sebab otak mudah sekali bosan, switching. Berpindah dari satu konten ke konten lain. Bahkan jika tidak menemukan yang diinginkan, bisa mencarinya sendiri. Kini, algoritma juga bisa membaca apa yang diinginkan dan relevan sehingga apa yang disuguhkan membuat saya terhenti dan terserap karenanya.

Ketiga, karena kondisi. Jika sekeliling saya sibuk, sama-sama punya fokus maka untuk menghilangkan kejenuhan pribadi biasa lari ke gawai dan ujungnya berlabuh di sosial media. Jujur saja, lama-lama overwhelmed juga.

Dan masih banyak fakta terkait candunya sosial media di kehidupan saya. Oleh sebab itu, saya perlahan mulai mengurangi. Walau progressnya super slow dari beberapa waktu lalu namun saya mulai menghargai upaya ini.

Apa yang saya lakukan untuk mengatasinya?

Akhirnya, saya putuskan untuk menghapus aplikasi sosial media dari ponsel hari ini. Meliputi facebook, instagram, twitter dan beberapa aplikasi lainnya. Tersisa hanya slack dan whatsapp. Mungkin tidak akan ekstrim juga, karena saya mengikuti kelas yang juga mengharuskan online media sosial juga, namun sudah saya atur hanya membuka di waktu online kelas saja, dan itupun bisa dibuka melalui browser laptop (tidak harus dari aplikasi). Jadwal membuka facebook adalah Senin dan Selasa.

Sebenarnya ingin ikut menjalankan proyek 30 hari puasa gadget tapi saya sadar diri bahwa belum bisa diajak untuk ekstrim. Yang saya mampu saat ini hanya menghapus aplikasi, menjauhi ponsel minimal mengurangi dosisnya. Semoga bisa. Kita lihat ya, semuanya akan saya tuliskan di jurnal saya yang baru saja datang (kemarin sempat pesan disain kustom).

Kemudian meningkatkan well-being dengan self control.

Self Control

Self control atau pengendalian diri adalah kemampuan untuk mengatur dan mengubah respons diri untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan, meningkatkan perilaku yang diinginkan, dan mencapai tujuan jangka panjang. Penelitian telah menunjukkan bahwa memiliki pengendalian diri adalah bagian penting dari well-being (kesejahteraan hidup).

Pengendalian diri meliputi disiplin, tekad, ketabahan, kemauan, dan ketangguhan. Caranya bisa dengan melatih diri untuk menahan diri, menunda kepuasan. Kemampuan untuk menunda kepuasan, atau menunggu untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, adalah bagian penting dari pengendalian diri. Jujur saja, misalnya hari-hari ini saya ingin sekali pindah rumah, tidak ngontrak lagi, namun apa daya rumah sendiri masih perlahan progressnya tergantung kemampuan finansial yang di era pandemi ini sungguh menurun tajam. Maka, sabar adalah kunci.

Dari semua itu, ego juga berperan penting. Saya masih belajar dalam hal ini. Semoga bisa!

Terakhir, sebuah inspirasi :

2 thoughts on “Minimalist Gadget Time”

Tinggalkan Balasan