My concern

Hai, hai. Kali ini saya akan menceritakan perjalanan decluttering saya dalam kurun empat tahun ini (terhitung dari 2014- setelah menikah) 😀

Sejak kecil saya menyukai aktifitas decluttering (sepaket dengan organizing) namun saya tidak mendalaminya. SD saya berbenah di rumah tetangga dan saudara, SMP dipanggil guru untuk berbenah, SMA juga demikian berbenah di rumah seorang guru yang super elit mewah rumahnya. Kuliah menjadi ketua penanggungjawab kebersihan di asrama di beastudi etos kampus ITS (menggunakan metode 5R). Hingga saya berjodoh dengan cowok yang juga memiliki passion yang sama, alumni IPB.

awal mula saya tinggal di Bogor hanya membawa beberapa tas saja. Kami menikah tanpa modal, sehingga setelah akad nikah selesai yaudah langsung travelling plus pindahan ke Bogor dari Lumajang, Jawa timur. Karena tidak banyak yang memberikan kado, maka barang bawaan tidak banyak.

 

 

Mulanya hidup dengan sedikit barang terasa nyaman, cukup aja dan tidak ribet. Namun setelah kami pindah kontrakan yang lebih besar (dari ukuran 60 meter persegi menuju 120 meter persegi) barang yang kami anggap cukup itu ternyata nampak sangat sedikit. Maka keinginan untuk menambah- terutama buku dan rak buku- mulai menjangkiti diri. Sehingga pada suatu kondisi saya sadar, wah jika dibiarkan terus menerus nafsu belanja saya bisa jebol keuangan. Belum lagi dana darurat yang belum terkumpul. Haha.

Menerapkan 5S didalam rumah membuat kami cukup disiplin namun laju kedisiplinan belanja berbanding terbalik dengan harapan awal. Kemudian saya mengenal KonMari yang menyadarkan diri ini untuk menerima dan mengangkat kembali semangat berbagi dalam bidang berbenah, berlanjut ke less waste, hingga konsep minimalist serta Lagom.

Semoga bermanfaat yaa 🙂

enjoy your reading!