EDUKASI SUSTAINABLE LIVING

#GSLseries (Green and Sustainable Living) – My First Journal

Prelude

Hai, apa kabar semua? kali ini dengan semangat November aku berniat melakukan hal-hal yang sedikit menantang diriku untuk terus belajar keluar dari zona nyaman.

Maksudnya gimana, Nik?

Jadi, aku udah menulis sebagian uneg-unegku bulan lalu untuk menyetir diriku agar enggak begini-begini aja. Artinya aku harus melampaui batasan diriku yang selama ini agak excuse dengan keterampilan hidup yang berkaitan dengan lingkungan.

Bagi yang bingung, kalian bisa baca dulu di menu ini. Disana aku bahas garis besar ritme post blog ini ke depan. Walaupun kedengarannya masih sangat baru, setelah ditelisik ternyata beberapa hal yang aku lakukan selama ini- secara tidak langsung- sudah berkaitan dengan topik tersebut, sustainable living.

Terutama GSL ini merupakan istilah dari gemar rapi yang menempel pada metode. Yakni pada poin karakteristik serta pilar kedelapan gemar rapi. Penekanannya ada pada kata ‘ramah alam, sustainable, tidak konsumtif dan less waste’.

Materi GSL : Suplemen Lecture 3 Kelas Gemari Pratama

Nah, setiap membaca materi itu rasa-rasanya aku perlu juga mendokumentasikan prosesku disini. Tujuannya untuk diriku sendiri sih, yhaa siapa tahu suatu saat aku butuh, aku enggak perlu ngetik dan mikir lagi bagaimana menceritakan serta menjelaskannya.

Bulan lalu, aku ikut kelas scale up dengan tema sustainable living yang diisi oleh pakarnya, Mbak Deasi owner Green Mommy. Dari sana aku kayak dibimbing buat bikin jurnal, walaupun kilat, cukup singkat, tapi buatku ini cukup melecut untuk mau mengaplikasikan materinya.

Bukankah sesuatu yang kita peroleh itu baru akan disebut ilmu jika kita sudah mempraktikkannya? Itu keyakinanku, jika aku enggak praktik, itu sama artinya materi yang aku peroleh hanya lewat sebagai informasi semata.

Dalam praktik ini, aku enggak muluk-muluk juga, aku tahu diri, mengukur kemampuanku. Intinya aku akan menikmati proses ini dan mencoba menuangkannya satu per satu, pelan-pelan pada post blog ini. Entah ada yang mau baca atau enggak, aku enggak peduli, sebab tujuan aku nulis disini (balik lagi) di awal, kutujukan untuk diriku sendiri.

Lalu, apa yang akan aku lakukan sebulan ini?

Sesuai dengan materi yang disampaikan mbak Deasi juga, ada langkah-langkah yang harus aku kerjakan untuk menyusun jurnal sebulan ini.

  1. Tentukan berapa banyak keahlian yang ingin dipelajari.
  2. Kategorikan keahlian ke area hidup yang ada korelasinya.
  3. Buat rencana belajar mingguan.
  4. Eksekusi dan aktif bertanya/mencari. Berpartisipasi secara aktif baik langsung maupun tidak langsung.
  5. Sebarkan di media sosial/kampanyekan.

Nah, urutannya jelas kan ya? Bisa dikerjakan oleh siapapun dan dimanapun. Intinya Don’t just become follower. Dream it. Live it.

Aku sendiri mulai menyadari portofolio menulis jurnal ini penting. Mengimbangi suamiku juga, dia orang yang terorganize dan rapi banget dibandingkan aku. Maka dari itu, aku akui, ini penting dikerjakan mulai dari diri sendiri.

Tengah tahun lalu, Juli 2018, aku masih ingat, suamiku ngeyel minta ikut kelas belajar zerowaste. Kebetulan, aku pernah mengisi kulwap di sebuah komunitas bareng mbak Dk Wardhani. Mbak Dini mengisi zerowaste, aku mengisi berbenah KonMari-waktu itu.

Kemudian aku menghubungi mbak Dini untuk mendaftarkan suamiku itu. Karena suami cukup sibuk ketika itu, maka saat mendaftarpun suami minta tolong didaftarkan. Aku sendiri masih biasa saja, paling ikutan berpartisipasi saat KKI (komunitas konMari waktu itu) mengadakan tantangan plastic free july.

Setahun lebih berlalu, suami sangat konsisten dan meningkatkan kapasitas diri di bidang lingkungan, manajemen dan pelayanan masyarakat. Intinya, suami orang yang ekstrovert serta menyukai segala sesuatu yang sifatnya sharing. Aku juga suka sih, tapi aku lebih nyaman berbagi di tulisan, seperti menulis blog, menulis buku dan posting di media sosial.

Hidup berkelanjutan (sustainability) disini memiliki makna yang (masih) fokus kepada upaya pelestarian dan pemeliharaan sumber daya alam. Walaupun sebenarnya frasa kata hidup berkelanjutan itu sangat luas. Tapi lupakanlah definisi, mari fokus kepada aksi.

Langkah selanjutnya

Langkah pertama, menentukan keahlian yang ingin dipelajari. Terutama keahlian yang berkaitan dengan hidup sustainable. Apa saja kah itu?

Setidaknya ada 10 jenis keahlian yang perlu dikembangkan, detailnya aku tuliskan di post blog selanjutnya aja ya. Ini sebagai teasure aja.

Kemudian membuat kategori mana saja yang perlu digali, perlu dikembangkan saat ini (sesuai realita) serta rencana ke depan yang masih berkolerasi dengan kehidupan kita.

Selanjutnya, let’s dive it. Susun rencana mau belajar apa yang ingin kita gali dan pelajari setiap pekan. Ini cukup penting, mengingat selama ini aku cukup random melakukannya, itu cukup efektif, apalagi jika nanti disusun sistematis, tentu akan jauh lebih apik dan nyaman. Tapi intinya adalah belajarlah di saat otak dan hati menyatu, fokus, jangan multitasking- sebab multitasking itu hanyalah mitos (untuk poin ini aku bahas di post lain- pada menu mindful living).

Langkah selanjutnya, eksekusi, cari sumber dan belajar dengan baik. Intinya enggak bisa berdiam diri setelah menyusun jurnal ini.

Terakhis, share it. Jika menurut kita ini penting disosialisasikan, segera share ke media sosial. Siapa tahu ada teman-teman yang tertarik dan mau membacanya.

Oke itu dulu sebagai pembuka.

“We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.”

– Albert Einstein, Physicist

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *