IBU PROFESIONAL KELAS MATRIKULASI

#NHW2 – Matrik – Checklist Indikator

Pagi ini memasuki pekan kedua kelas Matrikulasi IIP. Tugas pekan ini adalah checklist indikator sebagai ibu profesional.

Mengingatkan kembali kepada visi-misi keluarga kecil kami yang merupakan bagian dari visi misi keluarga.

Saya orang yang to the point, setelah saya jelaskan maksud minta indikator maka terbitlah isian whatsapp dari suami berikut ini. 😁

Indikator untuk khoirun nikmah dalam berproses menjadi istri dan ibu yang sukses shaliha adalah sebagai berikut :

1. Senantiasa membuat suami ridho, karena ridho Allah ada dalam ridho suami

2. Mendidik anak dengan kasih sayang dan sentuhan tauhid, karena ibu adalah madrosatul lil aulad

3. Saling mengingatkan dalam kebajikan (fatabiqul khoirot)

4. Allah dulu, anak, suami, barulah karir

5. Selalu terbuka dalam berkomunikasi

6. Senantiasa berbakti pada orang tua (birrul wa lidain)

7. Disiplin, ini kunci kesuksesan

8. Jangan lelah menuntut ilmu dunia dan akhirat

9. Jangan segan menegur suami jika lalai

10. Tunaikan kewajiban, insya Allah hak dengan sendirinya akan terpenuhi

Tertanda,

Aang Hudaya

Okeh itu tulisan suami saya😁

Lalu saya akan mulai menjabarkannya, anggaplah itu sebagai batu pondasi untuk memaparkan detailnya.

Sebenarnya selama ini kami berdua suka menuliskan apapun, mulai dari rules didalam rumah (5R), standar pagi, siang dan malam hingga list to do dari harian, bulanan bahkan jangka waktu sekian sekian tahun. Kenyataannya memang butuh komunikasi lagi, mana yang tercapai dan mana yang harus dikejar atau diulang 😂 soalnya setelah beres dicentang ⚠️✔️  menganggap semua beres. Padahal ngga begitu juga..

Tulisan ini menjadi bahan instropeksi diri dan pengingat mana saja yang perlu saya lakukan ke depan.

Sebagai perempuan, kita juga butuh karakter profesional. Sebab perempuan jika tidak diberi ilmu, tidak dilatih apalagi tidak sadar bahwa perannya sangat krusial maka kehidupan akan carut marut. Betapa banyak di timeline media sosial dan portal online berita perempuan yang amoral mulai dari jadi pelakor (perebut laki orang), menganiaya anak hingga perbuatan yang tidak terpuji lainnya. Lantas laki laki juga demikian kan? Namun titik poinnya disini ada pada pengasuhan dari sosok ibu (perempuan) yang melahirkan generasi. Maka seperti yang Bu Septi katakan bahwa “mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi” masyaaaAllah🤗

Sebagai sosok individu saya juga memiliki indikator sendiri karena sebelumnya saya juga seorang gadis (sebelum menikah) yang memiliki impian, cita dan goals yang beberapa belum tercapai.

Sukses sebagai pribadi/individu menurut saya adalah saat kita sudah “selesai” dengan urusan sendiri.

Parameter saya adalah sudah “mengenali diri sendiri” secara total, mampu mengelola diri dengan baik (emosi, dan manajemen waktu untuk diri) dan menemukan passion.

Secara detail dan terperinci

1. Mengenali diri

Sudah berjalan pengenalan diri ketika zaman kuliah. Disana sempat bertemu dengan psikolog di medical centre kampus dan bertanya hasil observasi ‘curhatan’ saya.

Tahun kemarin saya mengenali diri dari tulisan tangan. Ada teman yang ahli dalam membaca tulisan tangan saya  disanalah saya tahu sekaligus terapi.

Di tahun yang sama juga (2017) saya mengetahui karakter dari Stifin dan trial Talent Mapping. Di tahun ini saya tahu lebih detail hasil talent mapping saya.

Maka setelah saya kenal dengan diri sendiri, saya tahu mana yang harus saya kejar. Salah satunya adalah writing therapy. 

Saya harus banyak belajar berbagai gaya bahasa, mode tulisan dan juga menuliskan berbagai macam genre karena menceritakan sesuatu agar bisa dipetik faedahnya oleh oranglain tanpa bermaksud menggurui itu tidaklah mudah . Maka saya perlu banyak belajar itu ke depan dengan bimbingan beberapa penulis mentor.

2. Mampu mengelola diri dengan baik

Ini menjadi PR besar untuk saya sebab masih terus bergelut dengan waktu untuk menemukan pola kebiasaan. Tidak mudah memang namun harus mengeliminasi rasa malas, bad habit dan pemikiran yang harus direcovery.

Target harian minimal mengerjakan 80% dari ceklis pekerjaan harian. Jam kerja menjadi mompreneur, tanpa ART dan mengasuh anak terkadang tumpang tindih dengan kebutuhan pribadi (re : me time).

Kebutuhan psikis pribadi saya adalah menulis, membaca buku dan curhat ke suami. Maka saya alokasikan waktu (walau masih acak) yakni rutin menulis setelah bangun tidur di pagi hari, membaca buku saat membersamai anak dan curhat ke suami sewaktu waktu (baik via medsoc maupun secara tatap muka).

3. Menemukan passion

Nah ini alhamdulillah saya sudah menemukannya, passion saya adalah menulis dan berbenah- tidying (declutter and organize). Untuk menulis, saya bergabung bersama komunitas blogger perempuan, sedangkan untuk berbenah saya membuat komunitas konMari Indonesia (KKI) tahun lalu.

Sebagai istri

Indikatornya sudah jelas dari suami bahwa saya harus mendahulukan Allah kemudian suami dan anak, barulah pekerjaan atau karir. Wah ini rasanya memang masih berat bagi saya. Huahahaha butuh pembiasaan.😂

Untuk mendahulukan Allah insyaaAllah diusahakan sholat tepat waktu ketika adzan. InsyaaAllah ngga menunda nunda (ingetin terus ya abi -lagi baca blog ini kan hehe 🤗). Juga menambah amalan sunnah. Tilawah one day one juz.

Untuk suami, ini kita perlu rutin komuniksi lagi ya, pembinaan subuh juga, juga couple time. Untuk couple time bisa satu pekan sekali atau dua pekan sekali kalo sibuk. Isinya evaluasi keuangan dan uneg uneg.

Secara pribadi saya akan membenahi penampilan, sesuai request suami wkwkwkwk. Jilbab yang ngga disukai suami akan saya jual atau donasikan. Hehehehe

Juga big problem PR besar adalah memasak. Kayaknya memang harus diajari lagi, minimal suami bisa jadi tuthor di saat libur. Berikan motivasi juga supaya saya mau bersemangat memasak 😂 saya akan belajar resep masakan satu bulan 2x ya (trial).

Untuk anak, masuk ke kategori sebagai ibu. 🤗 Okey!

The Last one..

Sebagai Ibu

Ini PR banget, saya suka membuat kurikulum di paud. Mengisi timeline tapi untuk anak sendiri belumm😭 pokonya wajib ain bulan februari Syahid harus punya kurikulum di rumah! okeh referensi sudah ada, tinggal praktiknya dan eksekusi playdaily nya.

Syahid anak laki laki berusia 2,5tahun. Akhir juli nanti dia berusia 3tahun. Masih banyak yang harus saya kejar untuk stimulasinya. Salah satunya terapi bicaranya.

Detailnya setiap hari dia harus saya ajak membaca buku saat bermain maupun saat menjelang tidur. Karena di rumah tidak ada televisi juga jadi sebenarnya Syahid sudah suka membaca (dibacakan oleh talking pen) sejak kecil ia melihat umi abinya selalu membaca buku.

Juga usaha untuk sosial emosinya saya mengajaknya keluar rumah minimal saat di paud. Sambil mengajar, sambil melihat Syahid bermain bersama teman temannya. sebab saya jarang keluar rumah 😂

Dulu sebenarnya saya sering emosi nggak jelas sebab innerchild belum beres. Maka dengan menuntaskan innerchild taaun lalu dia mau berdamai dengan saya dan mau menerima semua ini dengan lapang dada, saya mensyukurinya. Alhamdulillah.

Mungkin itu sedikit dari indikator checklist saya. Sebenarnya ada ratusan ceklis di buku pribadi tapi nggak baik dipublish disini. 😂

#NHW #2

#Kuliah Matrikulasi Batch #5

#Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

5 thoughts on “#NHW2 – Matrik – Checklist Indikator”

  1. Inspiring banget mbaaa. Aku jadi pengen ikutan nulis blog. Heheh. Fyi kita se grup d cacabun. Kenal konmari juga dr mba nikmah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *