EDUKASI IKIGAI MINDFULNESS

Olahraga, OlahPikiran dan IKIGAI

Semangat pagiiii

Fiuuh saya hari ini sudah 2x putaran komplek dan 7x putaran lapangan. Berkeringat dari ujung rambut hingga ujung kaki, senang banget! inilah kegiatan pagi setiap hari. Sebelum anak bangun, sebelum suami lari juga saya kudu bisa lari duluan. Bukan supaya langsing, bukaaaannnn. Badanku nih udah kurus, normal 45-50kg lah tapi saya sendiri masih 42kg xixixixi. Langsing? itu mah bonus aja 😀

Kenapa olahraga?

Supaya sehat, that’s as simple as we eat everyday, Setiap badan ada ‘haknya’ dan hak kita sebagai pemilik badan adalah ‘menjaga’ dan merawat badan yang dititipin Allah supaya tetap fit. Kalaupun misalnya sakit, semoga itu menjadi pengugur dosa-dosa 🙂

Kembali lagi ke topik olahraga. Selama ini saya berpikir apakah cukup dengan olahraga dan memakan makanan bergizi sehat? big no, ternyata juga kudu mengolah ‘pikiran’. Justru kuncinya ada di olah pikiran. Sejak tersertifikasi di training ‘everyday mindfulness’ rasanya semakin hari semakin menyenangkan. Sambil tetap menelusuri ‘ikigai’ mana yang cocok.

Apa itu ikigai? ini konsep (sekali lagi) dari Jepang. Entahlah kenapa bangsa jepang ini pinter banget mengkombinasikan apapun ya sehingga mampu ‘membuat istilah’ yang jika kita telusuri teorinya tuh dari barat semua hahahahaha. Misalnya konsep 5S, KonMari, decluttering, PDCA cycle, dan ikigai ini.

Seperti yang suami saya katakan di facebook statusnya

Saat seseorang terlalu ‘ngotot’ hanya mau melakukan yang ia sukai, padahal sama sekali enggak bisa menghasilkan uang yang mencukupi kebutuhan hidupnya, itu sama saja konyol.

Konsep dari Jepang ini bisa membantu kita untuk memahami persoalan itu. Konsep ini dinamakan: IKIGAI, yang bisa diartikan sebagai: sebuah alasan untuk hidup.

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai dan kita menguasainya, itu dinamakan PASSION.

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai dan sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, itu dinamakan MISSION.

Kalau yang kita lakukan itu kita menguasainya dan kita mendapatkan bayaran karenanya, itu dinamakan PROFESI.

Kalau yang kita lakukan itu kita mendapatkan bayaran karenanya dan sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, itu dinamakan pekerjaan (vocation).

Lalu 3 irisan …

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai, kita menguasainya, dan kita mendapatkan bayaran karenanya, maka kita akan merasa puas, tapi juga ada perasaan enggak bergunanya. Karena yang kita lakukan enggak sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang.

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai, kita menguasainya, dan sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, maka kita akan puas, senang merasa berguna. Tapi enggak bisa menghasilkan uang yang mencukupi kebutuhan hidup kita.

Kalau yang kita lakukan itu kita cintai, sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, dan kita mendapatkan bayaran karenanya, maka kita akan senang, bersemangat. Tapi selalu was-was, karena kita enggak menguasai yang kita lakukan.

Kalau yang kita lakukan itu sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, kita mendapatkan bayaran karenanya, dan kita menguasainya, maka kita akan merasa nyaman. Namun juga merasa hampa, ada yang kurang, karena kita enggak mencintai yang kita lakukan.

Dan kalau semuanya beririsan, yaitu kalau yang kita lakukan itu kita cintai, sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang, kita menguasainya, dan kita mendapatkan bayaran karenanya … itulah yang disebut IKIGAI.

Untuk menemukan ikigai, kita butuh menengok dan melakukan perjalanan yang jauh ke dalam diri sendiri.

Ketika kita menjalani hidup ini sesuai dengan ikigai kita masing-masing, kita akan hidup sehat, waras, bahagia.

Apakah pekerjaanmu sudah sesuai dengan ikigaimu?

Atau, sebenarnya pekerjaanmu selama ini hanya sebatas kamu mendapatkan bayaran, padahal kamu enggak mencintai yang kamu kerjakan, kamu enggak menguasainya, dan enggak sesuai dengan yang dibutuhkan banyak orang? hehehe jawab sendiri yaaa.

Nah, dari kolaborasi olahraga fisik, olah pikiran maka saya menemukan IKIGAI saya 🙂

Sebab IKIGAI bisa kita simpulkan saat diri kita benar-benar fit, sehat, waras dan juga dalam kondisi kesadaran penuh : mindfulnessnya bekerja 🙂

Untuk tau bagaimana olah pikiran selain bisa kita dapatkan dalam hal membaca hal yang positif, membaca buku juga ada praktiknya. Pernah saya share kemarin di Everyday Mindfulness

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *