EDUKASI MATERI KEPENULISAN

Otak dan Tanda Bahasa dalam Keadaban Bangsa

Pada tanggal 6 September 2020, saya mengikuti zoominar yang diadakan oleh forum studi kebudayaan ITB yang mengundang nara sumber dari sisi ilmu neurosains bidang kedokteran, ahli bahasa – guru besar di ITB hingga ahli semiotika ITB. Tujuannya untuk mengupas perkembangan bahasa, menghubungkan dengan otak dan perkembangan berbangsa beberapa dekade Indonesia. Dalam zoominar ini tidak sekadar membahas secara fungsi kata namun dari berbagai perspektif yang lebih luas dan global. Bukan sekadar ‘anjay’ yang terdengar ramai diperbincangkan namun lebih dari itu, merembet hingga kondisi politik bangsa. Wah! Seperti apa itu?

Berikut ini rangkuman yang tadi sempat saya capture dan tulis pada buku catatan. Semoga bermanfaat.

Pre-Lude

Dipandu oleh Moderator, Pak Akmal Nasery Basral. Dengan topik perkembangan struktur bahasa dari sisi neurosains (otak) oleh Dr.dr. Taufik Pasiak dari Manado, Semiotika oleh Dr. Acep Iwan Saidi dan kajian kebudayaan oleh Prof. Yasraf Amir Piliang.

Bahasa merupakan wujud dari produksi pikiran yang dituangkan dalam bentuk kata-kata. Perkembangan struktur bahasa Indonesia dalam struktur bahasa berkaitan dengan proses kerja otak. Bahasa juga merupakan produk sosial masyarakat dan senantiasa mengalami metamorfosis.

Contoh perubahan kata terjadi di setiap era. Pak Akmal memberikan contoh, misalnya pada karya sastra lama, tahun 1970-an pernah kita kenal kata ‘bujang lapuk’ atau ‘perawan tua’ bagi seseorang yang belum menikah. Pada tahun ’90-an ditemukan pada teks-teks lama, kata itu berubah menjadi ‘lajang’ untuk menggantikan kedua istilah di atas. Pada tahun tersebut, terjadi peleburan gender, istilah lajang berlaku untuk perempuan maupun laki-laki. Setelah era reformasi, tahun 2000-an kita mengenal ‘lajang’ dengan istilah ‘jomblo’ atau dalam KBBI V disebut dengan ‘jomlo’ (kata baku).

Pun dengan istilah janda atau duda disematkan untuk seseorang yang kondisi biduk rumah tangga yang gagal yang pada akhirnya berubah menjadi orangtua tunggal (yang diserap dari luar, single parent).

Lalu, melihat fenomena ‘anjay’ yang lagi marak di masyarakat, seperti apa dan bagaimana struktur berfikir sebagai bangsa atau masyarakat saat ini?

Post blog ini saya pecah kedalam 3 postingan karena terlalu panjang jika dijadikan satu untuk semua materi oleh 3 nara sumber.

Otak dan tanda Bahasa dalam Keadaban Bangsa oleh Dr. dr. Taufik Pasiak

Sejarah kehidupan umat manusia selalu dituangkan dalam bentuk kisah. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi lebih mempresentatifkan pesan untuk mengirimkan pikirannya. Bahkan bisa dikatakan bahwa bahasa sama dengan pikiran. Dimana pikiran ini ada didalam diri kita (internal) dan dikeluarkan dalam bentuk bahasa (output).

Otak bagian depan merupakan otak yang memiliki kemampuan eksekutif yang memancarkan dalam bentuk bahasa. Dalam teori evolusi, otak menyimpan koneksi berbagai jenis memori, perkembangannya begitu pesat. Dalam bidang genetika, otak merupakan struktur yang menggambarkan kehidupan. Otak yang terkoneksi dan terus diasah, ia mampu berkembang, menelikung, memutar sehingga mampu membentuk volume otak.

Gut brain connection

Dalam sejarah manusia, koneksi otak ini melukiskan perkembangan otak manusia yang mempengaruhi pola pikir. Ketika dulu manusia menemukan api untuk memasak, maka struktur usus di perut juga berubah sehingga ada yang menyebutkan bahwa otak kedua (the second brain) manusia ada pada perut (terutama usus, karena memiliki struktur dan jalinan yang mirip dengan otak). Bahkan produksi seretonin ketika diteliti, lebih banyak dijumpai di perut dibandingkan otak. Seretonin ini memproduksi rasa bahagia atau hormon kebahagiaan. Itulah sebabnya ketika kondisi perut seseorang baik, sehat dan bagus, akan menunjang segala aktifitas dan cara berpikir yang bagus juga.

Belief Generating Machine

Otak diibaratkan mesin manusia yang hidup, ia memproduksi kepercayaan kita. Sehingga kita bisa menyimpan segala memori, sebab dengan adanya otak kita tidak kehilangan waktu hanya untuk menghafalkan segala sesuatu. Karena dari belief system inilah timbul berbagai hal bahasa tergantung atau dipengaruhi sosial, kebudayaan dan agama.

Jika manusia tidak memiliki rasa percaya, maka ia akan sulit bertahan hidup. Misalnya ketika diberi makanan, ia akan bertanya apa saja bahan, material, cara memproses dan seterusnya kepada sang pemberi, sehingga ia tidak akan segera makan dan waktunya habis hanya untuk meneliti sebuah makanan. Itulah kenapa, ketika kita makan, tidak perlu lagi menanyakan semua hal, sebab semua makanan yang pernah kita coba sudah terekam dalam sistem rasa percaya di dalam otak.

Side Effect, Homo Sapiend dan Primata

Bahasa, bisa dikatakan sebagai sesuatu harga yang harus dibayar mahal oleh manusia. Dalam kurun dua tahun ini, penelitian yang berkaitan dengan gangguan jiwa atau skizofrenia, baik halusinasi atau delusi dan waham, berkaitan pula dengan bahasa. Bahkan bahasa bisa menjadi sebuah beban yang bisa menjejaki kejiwaan manusia.

Pikiran sama dengan bahasa, dalam teori evolusi disebut sebagai satu benda yang sama. Jika terdapat bahasa yang salah maka itu menunjukkan pikirannya juga salah. Bahasa juga mengalami perubahan tergantung sosia yang berkembang di masa-masa tertentu, menciptakan kosa kata baru dan belum ada sehingga disepakati untuk ada dan digunakan bahkan bisa juga dilenyapkan. Misalnya dengan kosa kata tinggal landas yang muncul di era orde baru. Di era reformasi, kita mengenal istilah baru, pluralisme, seiring dengan adanya kebebasan berpendapat.

Bahasa merupakan proses pikir di kepala kita, merupakan hasil dari alam pikiran manusia. Prosesnya tidak sederhana. Pikiran atau bahasa bisa diganti-ganti dalam ekpresi perilaku, bahasa yang kita gunakan melukiskan apa yang kita pikirkan.

Bahasa sebagai fungsi eksekutif, hal ini berkaitan dengan memori. Memori berisi paket-paket bahasa. Contoh gangguan terhadap fungsi eksekutif ini dikenal dengan alzheimer yakni kondisi kehilangan memori sebab kerusakan otak sehingga merusak memori bahasa bahkan kehilangan self control.

Area Borca (central sulcus) merupakan area yang memproduksi bahasa. Hal ini berkaitan dengan eksistensi seorang manusia, jika kemampuan bahasanya rusak maka hal itu menunjukkan pikiran yang rusak. Bahasa juga melukiskan peradaban manusia. Bahkan terdapat istilah bahwa bahasa lebih kuat dari senjata sebab dalam sejarah, lingkungan sosial kita bisa mati hanya akibat kesalahan para pemimpin berbahasa. Dalam kondisi tertentu bahasa juga diproduksi untuk mengadu domba dan menciptakan masalah.

Dari sisi fisik manusia yang berbadan tegak (karena semua hewan melata tak bisa setegak manusia) maka tercipta rahang yang baik menimbulkan suara dan alfabet yang baik. Artinya, manusia secara visi diwakili oleh bahasa dan ekspresi-ekspresi manusia menunjukkan ekspresi memandang segala sesuatu dari sisi yang jauh.

Jika manusia salah bicara (slip of the tongue) biasanya terjadi akibat adanya stress (adanya tenanan) dan (error atau tidak sehatnya) hasrat seksual. Hal ini sering terjadi dan tampak di kalangan politikus. Dari teori modern, melukiskan bahwa apa yang ada di benak manusia, maka lidah itu bergerak dari pikirannya.

Terkait fenomena ‘Anjay’ yang merebak bukan tanpa sebab, bukan tidak kesengajaan tapi apa yang terucap di lisan itulah yang terlintas di hati. Maka tergantung kepada pikirannya lagi.

Setelah penjelasan ini, ada pembahasan lanjutannya.

Referensi :

Bagi teman-teman yang ingin mendapat materi pertama ini, bisa unduh di sini.

2 thoughts on “Otak dan Tanda Bahasa dalam Keadaban Bangsa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *