DAILY RUMAH TUMBUH

Our Rainbow Garden with love in the Little House

Berkebun, merupakan hobi dan kegemaran suami dan anak kami. Kebetulan, bulan Januari 2021 kami kembali memanen hasil kebun di kontrakan mungil yang sebentar lagi akan kami tinggalkan menuju rumah baru. Benih dari biji yang ditanam bersama pada bulan Oktober 2020 lalu merupakan bagian dalam tugas BDR (belajar dari rumah) putera pertama kami yang baru duduk di bangku TK.

Saat itu, kami bertiga berbagi tugas. Suami sebagai pemandu proses bertanam, saya bagian dokumentasi, dan anak kami, Syahid Al-Fatih, sebagai eksekutor. Sebelumnya, benih sudah kami ambil dari sekolah. Media tanamnya sudah kami siapkan di rumah.

Vidio bulan Oktober lalu, sempat saya unggah di akun youtube :

Hasil sayur mayur yang kami panen mulai dari kacang-kacangan (kacang koro), kembang kol, tomat, daun bayam brazil, dan cabe.

Konon, jika tanaman dan daun bolong-bolong pertanda sehat tanaman itu. Karena tanpa pestisida kimia, semua alami. Kalau meminjam kalimat suami, “sedekah kepada makhluk hidup lain melalui tanaman”. Ya, mulai dari ulat, bekicot, hingga seekeor tikus yang menggigit sebagian kecil dari buah mentimun di belakang. Tak jadi soal.

“Toh, mereka tidak tamak, mereka hanya makan untuk memenuhi rasa lapar dan kebutuhannya saja.” lanjut suami, setiap menjelaskan hal itu.

Anak kami pun demikian bersemangat untuk mengolah sayur mayur itu, hobinya sama seperti abinya, memasak. Maka, kegiatan yang paling kami gemari dan membuat suasana rumah menjadi heboh serta antusias sehari-hari, dengan memanen sayur dari kebun kecil (baca : polibek dan pot) kemudian memasak bersama dan menikmati hidangannya.

Sayuran kami olah untuk makan sekali hidang, sekali habis. Karena memakan makanan fresh lebih dianjurkan untuk kesehatan. Biasanya anak kami ikut membantu, minimal, mengupas kulit kacang.

Setelah sayur mayur siap diolah, abi bagian mempraktikkan ilmu masaknya. Dan hidangan pun jadi.

Kemudian terjadi dialog.

Anak : “Mi, Ummi, ayooo makan, sayur enak banget…!”

Saya : “Hmmm, iya, aromanya dan penampilannya sungguh tampak lezat.”

Anak : “Iya, Abi yang masak, enak mi, lezaaat.”

Abi : “Ayo makan bersama, kalau makan, fokus makan ya.”

Kami pun menikmati hidangan dari kebun dengan suka cita. Setelah itu, kami membereskan bersama-sama.

Anak : “Mi, ayo beres-beres.”

Saya : “Oke.”

Anak kami menyukai kegiatan berkebun, berbenah dan memasak bukan tanpa sebab dan muncul begitu saja. Namun hal itu merupakan bagian dari apa yang dia lihat dan tiru di sekitar. Terkadang, betapa randomnya aktifitas yang saua lakukan, ditirunya juga. Beberapa kali saya order online shop, ada tukang paket, pun ia tirukan. Segala hal yang dilihat, didengar dan dirasa akan menjadi karakternya.

Betapa sekecil dan seterbatas apapun, saat melakukan kegiatan bersama, dengan menggunakan filosofi kebun pelangi, kami menjadi lebih mensyukuri setiap hal kecil yang dilalui.

Maka, jika ada warna yang mewakili kehidupan dalam rumah mungil ini. Yang mampu mewakili adalah pelangi. Dan pelangi itu, kami saksikan dari sini. Selepas hujan turun, terbitlah pelangi yang menawan hati.

Alhamdulillah.

Tinggalkan Balasan