Pekat

Kopi pahit nan pekat ini terpaksa kutelan begitu saja. Sambil terus memikirkan bagaimana mencari gula yang bisa menawarkan hatiku ini.

Sulit bagiku untuk membuat hatiku tenang. Butuh penenang yang jelas dan tepat. Walaupun sudah jelas berada di depan mata, namun diriku seolah ingin mundur ketika ku melihat cermin wajahku. terlalu merasa rendah, luar dan dalam. terasa sakit setelah bercermin. ditambah lagi, ditampakkan sosok seorang putri yang mengagumkan nan cantik di hadapanku. sungguh aku merasa semakin kecil dan kerdil.

ya Allah.. ujian apa lagi ini :'(
aku tidak siap untuk sakit lagi, setelah belasan tahun tersakiti oleh kondisi keluarga. padahal kemarin baru saja aku fix melupakan bapak, fix untuk menganggap bapak pergi, fix untuk tidak berharap padanya lagi. karena jelas, dan terucap dengan lantang : bapak sudah membuangku, membuang anaknya yang bernama khoirun nikmah sejak berusia 3 tahun, sejak tidak bisa berbicara dan berjalan sudah dianggap mati. ya ! aku sudah dianggap mati oleh bapakku.

ya Allah.. sakit ini bertubi tubi, menganga dan semakin mengalir air mata dan darah di hati ini.

Tinggalkan Balasan