SUSTAINABLE LIVING

Pengelolaan Sampah dari Rumah ke Rumah Menuju Zero Waste Cities di Komplek Baity Jannati Kemang – Bogor Awal 2021

Perjalanan yang tidak mudah. Saya dan suami sudah dua tahun lebih, dari tahun 2018, tidak membuang sampah keluar rumah sama sekali. Walaupun saat itu kondisi masih ngontrak, alias kami belum memiliki rumah. Sampai-sanpai petugas kebersihan yang biasa mengangkut sampah bertanya-tanya, “Kenapa tak membuang dan meletakkan bak sampah di depan? Sampahnya pergi kemana?”

Saat itu juga suami menjelaskan bahwa semua sampah dipilah dan olah secara mandiri, bahkan jika petugas kebersihan membutuhkan lungsuran atau bekas rongsok dari barang non-organik, kami bersedia memberikan. Biasanya untuk dijual kembali.

Petugas kebersihan yang berkeliling komplek saat itu dengan sumringah, penuh suka cita, diiringi senyum rasa nyaman berkata, “Coba ya Bu, semua orang punya pemikiran seperti Ibu dan Bapak, sampah ini tak akan pernah jadi sampah dan tak pernah bau (semua bisa dimanfaatkan dan juga dipilah).”

saya pilah, awal mula sederhana saja. organik saya jadikan kompos. an-organik saya pilah beberapa : plastik jadi ecobrick, tetrapack saya setor ke tetrapak, elektronik ke e-waste.

Suami saya sempat berkunjung untuk meneliti fenomena ini di tempat pembuangan akhir Galuga Kabupaten Bogor. Perjalanannya ia abadikan di laman blognya dengan judul ‘Kemanakah Perginya Sampah Kita‘ di tahun 2018 silam. Dokumentasi berupa vidio juga saya simpan pada laman channel youtube saya.

Part 1
Part 2

Setelah mengetahui hal tersebut, saya menjadi terketuk untuk memulai dan mengajak para Ibu di komplek saat itu, sayangnya, karena status saya masih mengontrak, dari sisi usia juga saya dibilang masih jadi ‘anak muda’ serta sulitnya menggerakkan personal ke personal, saya memilih untuk mendekati para sesepuhnya. Lagi-lagi, apa yang sudah dibicarakan, entah waktu itu saat rapat dan merencanakan membuat program, hasilnya nihil. Tak mampu saya bergerak, hanya segelintir saja yang peduli, sebab saya sadar bahwa mengurus sampah, siapa sih yang berminat, sekalipun sudah dijelaskan melalui edukasi massal (seminar) yang sekejap.

Kondisi mengeringkan sisa konsumsi plastik di kontrakan lama.

Di sisi lain, saya juga sadar bahwa di sana saya ‘tak memiliki daya apapun’ sebab ‘bukan siapa-siapa’ maka saya pun melanjutkan aktifitas memilah sampah di rumah sendiri. Para tetangga tetap dalam kondisi ‘zona nyamannya’, sampah campur, bau busuk dan kadang dibakar.

Saya sadar bahwa saya harus ‘dipandang’ terlebih dahulu jika ingin mengubah sesuatu. Suami yang memiliki hobi berkebun, sempat sharing ke beberapa tetangga tentang kompos, bagaimana kompos dari sisa konsumsi organik bisa menghidupi kami melalui tanaman yang kami rawat untuk kebutuhan di lahan terbatas.

Suami panen kompos dari komposter di kontrakan (hunian awal) tengah tahun 2020 lalu.

Namun upaya tersebut tentu tak mudah, bak aliran fluida, saya melawan arus yang amat deras dan keras. Hasilnya nihil. Hingga saya pun memiliki prinsip bahwa seandainya tidak mampu menggerakkan di area kontrakan, maka saya akan mencari hunian yang tepat untuk melakukan perubahan.

Mengapa Perlu Memilah Sampah?

Mungkin pertanyaan yang cukup menggelitik dan mencengangkan, dimana setiap orang ingin menghindarinya namun justru saya dan suami terobsesi karenanya.

Sebenarnya tidak ada istilah sampah di dunia ini. Kata ‘waste’ sendiri baru muncul dan dimaknai benar-benar sebagai ‘sesuatu yang tidak digunakan lagi’ di tahun 1772. Bahkan semakin ke sini kondisinya semakin mengerikan. Begitu banyak masalah yang ditimbulkan akibat sampah yang tidak dikelola. Saya jabarkan saja, sekalian, alasan mengapa harus memilah sampah.

  1. Rumah tangga merupakan penyumbang terbesar kiriman sisa konsumsi ke TPA (tempat pembuangan akhir) dengan jumlah 60% berupa sisa konsumsi organik.
  2. Sampah alias sia konsumsi manusia yang tercampur akan sulit terurai. Sisa organik yang diikat kedalam kantong plastik yang tertutup rapat, dibuang, bertumpuk dengan sampah lainnya tanpa rongga menyebabkan terjadinya penguraian yang tidak sempurna dan penguraian anaerob (potensi menimbulkan cairan lindi -yang bau busuk- serta gas metan).
  3. Menurut BPS, 81% sampah di Indonesia tercampur dan dicampur. Ini akan menjadi bencana (dan beberapa sudah menjadi bencana).
  4. Lahan tempat pembuangan akhir, sudah sangat terbatas bahkan tak ada tempat lagi jika dibiarkan terus-menerus dalam kubangan kekacauan problem sampah. Maka, menjadi bagian dari solusi dimulai dari rumah. Karena setiap perbuatan sekecil apapun akan berdampak pada sekitar.
  5. Sebagai seorang manusia yang dibekali otak untuk berpikir, seharusnya sadar bahwa urusan sampah adalah urusan tanggungjawab personal, maka jika kita merasa terganggu dengan aroma sampah yang menusuk hidung, seharusnya pikiran kita juga perlu menanyakan kepada posisi diri seandainya menjadi petugas kebersihan, seperti apa perasaannya? Dan sebagai manusia yang memiliki rasa, berketuhanan, yakinlah bahwa setiap perbuatan akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat.
    Saya sempat mengikuti kajian bahwa wujud setan di muka bumi adalah sampah. Jika tidak ingin menjadi setan, maka jangan sampai menghasilkan sampah, karena semakin banyak sampah, kerusakan di muka bumi nyata muncul dari tangan manusia dan di sanalah setan mewujudkan dirinya (dalam bentuk yang kotor, kerusakan dan bencana akibat ulah tangan manusia).

Alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2020, kami mendapat rezeki dan bisa berpindah hunian di rumah yang telah direncanakan jauh-jauh hari, rumah pribadi di sebuah komplek yang penuh perjuangan. Saya sebut demikian ‘perjuangan’ karena untuk mendapat hunian yang ideal tidak mudah. Tiba di sana, seluruh value, visi, angan dan cita-cita saya di komplek yang lama, yang hanya menjadi wacana belaka, saya bawa ke komplek baru tempat saya bernaung membangun impian, komplek Baiti Jannaty Kemang – Bogor.

Awal Mula Pergerakan ‘Zero Waste Cities’ Area Baiti Jannaty

Di sinilah rezeki kami bertemu dan berjumpa dengan sesama pejuang rumah tangga yang memiliki kesamaan visi dan misi. Beberapa tetangga ternyata memiliki kepedulian terhadap lingkungan alam. Ada yang sudah memilah sampahnya, hobi bercocok tanam bahkan bapak-bapak (termasuk suami) sudah memiliki program serta rangkaian kegiatan yang akan dibangun didalam komplek.

Diantaranya adalah :

  1. Memilah sampah di rumah-rumah bagi yang ingin bergabung. Sebab belum semua ter-edukasi. Awal mulanya seluruh sampah, karena perumahan baru, mayoritas dibakar, bahkan warga kampung sekitar juga membiarkannya demikian. Hingga suatu hari, ada ibu-ibu yang inisiatif untuk menyetorkan iuran sampah agar diangkut oleh petugas kebersihan. Hal ini cukup lebih baik dibandingkan dibakar dan dibuang sembarangan.
    Namun beberapa tetangga, termasuk kami, memilih untuk memilah dan memanfaatkan 100% sampah secara mandiri.
  2. Suami bergabung di grup bank sampah pusat dan wilayah. Bahkan suami beberap akali survey ke bank sampah area sekitar. Beberapa tetangga di sini juga aktif berkomunikasi dengan pengurus bank sampah yang mau mengangkut sampah terpilah yang diambil beberapa kali sebulan.
  3. Bercocok tanam, memanfaatkan lahan yang masih kosong di sekitar dalam area komplek. Dalam hal ini, saling berbagi benih untuk ditanam dan tujuannya dipanen bersama untuk kegiatan atau aktifitas komunal dalam komplek.
grup bank sampah yang suami ikuti (official resmi dari pemerintah)
lahan kosong di komplek Baiti Jannaty yang ditanami sebagai program bersama. Kompos dari sisa konsumsi organik.

Langkah Kecil dari Dalam Rumah menuju ‘Zero waste Cities’ Area

Beberapa hal yang saya lakukan bersama keluarga di rumah untuk mendukung zero waste area adalah sebagai berikut :

  1. Memilah Sampah minimal kedalam dua kategori, organik dan non-organik. Adapun untuk sampah elektronik, kami setorkan ke e-waste area Bogor. Juga beberapa sampah yang diterima oleh Bank Sampah, kami setorkan juga.
  2. Mengolah sampah an-organik menjadi ecobrick, sebab bank sampah tak lagi menerima plastik. Sebenarnya ecobrick ini juga sudah kami buat dari tahun 2018 lalu, kami buat sesuai arahan standar karena tidak bisa membuatnya asal-asalan.
  3. Mengolah sisa organik, biasanya sisa potongan sayur yang tidak bisa dibuat eco-enzyme, kami komposkan. Adapun sisa konsumsi seperti duri, tulang dan sejenisnya yang tidak bisa masuk komposter, kami berikan ke ayam atau kucing.
  4. Minyak jelantah kami kumpulkan, untuk membuat sabun minyak jelantah secara komunal di komplek. Bisa juga untuk membuat lilin.
  5. Membuat sumur respaan di rumah saya, kemarin saya posting di sini.
  6. Berkebun. Di halaman rumah dan sejak ngontrak hingga menghuni rumah sendiri, saya dan suami gemar menanam sayur mayur yang bisa dikonsumsi. Tujuannya selain makan sehat, hemat juga menjadikan sarana edukasi untuk putera kami.
  7. Belajar beralih ke hidup yang ramah lingkungan, membuat sabun serta pembersih alami.
  8. Hidup minimalis. Di rumah super duper sedikit barang dan memang sengaja menata barang dengan sederhana agar saya dan suami serta anak, tidak dipusingkan lagi dengan perawatan, penataan seta emosi dari barang-barang serta konsumsi yang berlebihan. Sehingga dalam melakukan aktifitas setiap hari, lebih fokus kepada value keluarga dan impian.

Dokumentasi kegiatan di rumah :

modul ecobrick jadi meja, sesuai standar, hanya digunakan di indoor karena plastik tidak boleh terpapar sinar matahari.
membuat eco-enzyme dari sisa kulit jeruk
memanfaatkan lerak
panen dari pot polybag
menanam benih
menggunting plastik untuk ecobrick.
modul ecobrick.

Rekomendasi Pilah Sampah, Langkah Awal yang Mudah untuk Mengubah Wajah Dunia Sampah

Bagi Teman-teman yang bingung mulai dari mana untuk hidup zero waste, saran saya, mulai dari memilah sampah. Manusiakan manusia, dengan cara memanusiakan petugas kebersihan sampah. Seperti pada vidio di tautan pemilahan sampah atau klik vidio berikut :

Semangat ya! Sebarkan gerakan ini. Sebab semua orang adalah super hero untuk area masing-masing!

Bibliografi

  1. https://www.junk2go.co.nz/blog/2018/the-origin-of-trash-and-other-rubbish-words/
  2. Mengompos di Rumah itu Mudah, DK. Wardhani.
  3. Vidio YPBB Bandung

Tinggalkan Balasan