Penyendiri – Chapter 1

Semester Satu

Agustus, 2004.

Apa asyiknya beramai-ramai?

Bahkan perasaan gelisah pun enggak bisa kuredam hanya dengan bertatap muka, ngobrol bersama mereka.

Salam kenal, aku Rayya Sasmita. Mahasiswi Semester 1 Teknik Industri.

“Ra, nonton yuk, kamu jangan baca buku terus, ntar cepet tua lho, hahaha”

“Ra, dicariin Dimas tuh kayaknya dia suka sama kamu. Hahaha”

“Kemarin kemana aja sih Ra? Sekelas nyariin kamu, kita kena skors hanya karena satu orang enggak muncul di angkatan kita dan kita enggak ada yang tahu kamu dimana.”

Berbagai tudingan akibat jiwaku yang menyukai ‘sepi’, suka menyendiri dijadikan olok-olokan khusus di angkatan. Namun olokan itu terhenti seketika, ketika seseorang bernama Randi -senior setingkat diatasku- memutuskan untuk membuat perhitungan bagi siapapun yang melakukan bullying terhadapku.

Tentu itu menguntungkan di sisiku, namun di sisi lain hal ini justru membuatku semakin membuatku untuk menjauh dari angkatan. Ini benar-benar enggak nyaman. Namun apa daya, aku enggak bisa memilih. Aku tetap bertahan disini, sendiri, menyepi, duduk meresapi hari-hari di lantai empat Perpustakaan.

Beep..beep..beep..

Ponsel bergetar. Panggilan masuk bertubi-tubi, kubiarkan saja. Lagipula jikapun seandainya itu sangat penting pasti akan bergetar lebih dari tiga kali. Jika hanya sekali-dua kali, biarkan saja.

R A N D I

Lima huruf nama itu menghantuiku, hampir setiap hari, sejak dia tahu aku masuk jurusan yang sama dengannya. Jujur saja, aku enggak butuh perlindungan siapapun. Aku hanya butuh sendiri disini, menikmati berbagai jenis bacaan, menghirup aroma khas timbunan buku, rak berjajar bebas dilesakkan pustaka yang sulit kutemui di luar sana. Dan segenggam ponsel yang masih setia, di atas meja ini.

Ponselku

Sms masuk, dari Randi.

Ra, please angkat dong, kamu mau sampai kapan dikucilkan di angkatan? Ini baru tahun pertama lho dek.

Dek? Sejak kapan aku jadi adikmu? -gumamku.

Berikutnya,

Ra, kamu mau pindah jurusan apa ya? Kayak enggak peduli banget kuliah disini.

Aku peduli kok, tapi dengan caraku sendiri.

SMS terus berlanjut.

Kalau kamu enggak kenalan dengan senior di lab, sulit banget nanti masuk lab ini Ra.

Emang lab ini punya mereka? Ya nanti-nanti sajalah kan bisa aku kesana sendiri.

Sampai kapan kamu sulit ditemui Ra?

Randi ini sebenarnya teman lamaku namun kami berpisah di kelas sebelas SMA. Karena keinginannya lulus lebih cepat, dia ambil akselerasi. Hasilnya, kini aku jadi adik kelasnya, beda setingkat.

“Hai, boleh duduk disini?”

Seorang cowok berkacamata silinder berambut klimis tertata rapi tersenyum manis. Tiba-tiba menarik kursi yang ada di depanku.

Aku amati buku yang dia sodorkan padaku bertulis ‘RIKI-ELEKTRO 49’. 

Hmm, maba juga.

“Kak, saya boleh minta tanda tangan?” dia menyapaku, antusias.

Riki Pramana Putra

“Hah? Kamu minta tanda tangan, padaku?” aku mulai gusar, lebih tepatnya, aku jadi teringat wajah seseorang.

“Iya kak, saya selalu mencari tandatangan di perpustakaan. Dan sepertinya hari ini saya kurang beruntung, pengunjung disini sedikit sekali.” ujarnya sambil membenarkan frame kacamata yang sedikit miring.

Aku terhenyak, kuusap-usap rambutku, menyembunyikan grogi, mimpi apakah aku semalam? Berjumpa cowok yang -entah kenapa bisa mampu membuatku gugup- enggak kukenal, baru kujumpai dan memanggilku ‘kakak’?

“Oh, gitu. Kenapa kamu enggak cari tandatangan di kantin aja, disana ramai sekali. Pasti kamu dapat lebih banyak dibandingkan kamu nguber orang di perpustakaan.”

“Sa…saya malu kak.”

“Malu?”

“Iya, kak. Saya kurang nyaman jika harus disuruh mengikuti mereka. Lagipula saya menyukai tempat ini. Sepi dan rapi.”

Wah, anomali nih. Jarang-jarang aku melihatnya. Jangan-jangan dia saudaranya atau…

“Kakak dari jurusan apa, angkatan berapa?”

Aku tersentak, ternyata dia menungguku -dengan sedikit memaksa- untuk membubuhkan tandatangan sekaligus nama dan angkatan.

“Maaf, kita sebenarnya seangkatan. Hanya aku kurang sepakat dengan kegiatan orientasi yang semacam ini, ehm, kurang mendidik, senior-junior dan sejenisnya. Toh kita sama-sama pelajar disini.”

“Oh, maaf. Saya kira kakak kelas. Soalnya…”

Apakah wajahku sudah keliatan terlalu tua? sehingga dia berpikir aku pantas menjadi seniornya?

“…Soalnya kamu enggak pakai atribut sepertiku.” lanjutnya. Mulai berani memanggilku ‘kamu’.

Cowok di depanku ini jelas kelihatan kikuk, aku sendiri tak kalah juga, justru aku sangat gugup. Aku sampai mengalihkan perasaan gugup ini dengan mengusap wajah dan rambutku berkali-kali. Sebab cowok itu. Argh! Entahlah.

“Kamu enggak perlu manggil kakak lagi, aku Rayya. Industri-49.”

“Oh, ya. Ak-aku Riki, Riki Pramana Putra, Elektro-49.”

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuatku lebih sering bercakap dengannya. Konon, bercakap-cakap dengan kawan yang memiliki hobi, kecenderungan dan karakter yang serupa jauh membuat kita lebih nyaman. Dan aku engga tahu apa kecenderungan dan hobinya.

Namun dari pertemuan pertama ini aku merasa nyaman, merasa cocok, minimal sama-sama menyukai buku. Dan aku baru menemukannya, disini. Enggak hanya itu. Cowok yang selama ini kuanggap sudah menghilang dan enggak bisa dilihat lagi, kini terlahir kembali. Dengan nama yang berbeda.

Riki enggak butuh waktu lama untuk bisa memahami alur berpikirku, bahkan dia memberiku beberapa referensi buku yang cukup bagus untuk aku baca. Tentu itu buku-buku yang menenangkan jiwa. Seperti obat, lama-lama kegalauanku lenyap. 

Ditambah lagi, setiap kali aku berbincang panjang lebar, tanpa sedetikpun dia jeda hingga aku berhenti meminta pendapat darinya. Riki, bagiku, dia adalah teman yang baik, pendengar aktif dan cukup produktif memberiku banyak ide pada tugas gambar yang kurang aku minati. Dan tentu, sebab utamanya adalah dia merupakan pengganti sosok yang telah pergi. Rezvan.

Beeep..beep..beep..

Panggilan itu selalu muncul tiga kali sehari, udah kayak minum obat aja. Jam makan siang, jam pulang dan menjelang tidur. Tetap dari orang yang sama, Randi.

“Siapa Ra? Kamu selalu mematikan hape rutin jam segini, siapa tahu penting. Kenapa enggak diangkat?”

Pertanyaan Riki mulai panjang dan mungkin wajar dia penasaran, sudah tiga bulan dari masa orientasi berlalu hal ini rutin aku lakukan. Kutinggalkan saja dia tanpa perlu kujawab. Aku beranjak dari ruang multimedia menuju free lunch area.

Merebahkan pinggang pada bean bag khusus area ini sambil melahap roti, sungguh menenangkan. Ditambah lagi sejuknya ruangan yang dibalut dengan aroma terapi yang fresh seolah melenyapkan segala beban perkuliahan.

Ku amati gerak-gerik Riki dari balik kaca pembatas area, nampak dia mengangkat buku tebalnya. Sibuk menandai rumus yang penting dan mencatatnya, dia rajin sekali. Walaupun enggak satu kelas di tahun pertama bersama, tapi jelas dia paling rajin mengunjungi perpustakaan ini. Individualis, mirip aku yang enggak suka keramaian.

Ponsel di genggamanku kembali bergetar, notifikasi pesan masuk bertubi-tubi.

Rayya, jangan lupa jam 4 jadwal kita presentasi – Lidya

Iya, aku tahu dan pasti tepat waktu, tenang aja.

Ra, kamu dicariin Dimas tuh, aku sampai keriting nyariin kamu. Tugas Kalkulusku belum beres, buat besok, help me. – Luna

Apa hubungannya Dimas sama kalkulus? aneh.

Kemudian berderet masuk pesan jarkom jurusan, jarkom klub fotografi, jarkom mata kuliah prokom besok kosong, hingga yang terakhir, enggak pernah absen mengirimkan pesan, Randi.

Ra, mau sampai kapan sendirian di jurusan? -Randi

Enggak sendirian kok, aku punya teman juga. kulirik Riki yang masih serius membaca buku tebalnya.

Semua pesan yang masuk itu hanya kubaca, untuk membalasnya, cukup gampang, ketik semua jawaban : tenang aja, nanti aku kesana. -Rayya. 

Lalu kirim ke semua nomor yang tadi terbaca masuk, beres.

Pukul 12.45

Kukira aku harus segera naik ke lantai delapan, sholat.

“Rik, kamu udah sholat?”

“Udah Ra, emang dari tadi adzan kamu enggak langsung naik?”

“Enggak, tadi makan dulu disana” aku menunjuk ruang bersekat kaca yang tadi kutempati, Riki juga sudah tahu, harusnya enggak perlu tanya juga.

“Oh, gitu. silahkan Ra, aku mau ke jurusan dulu. Presentasiku jam satu, kali ini project tunggal. Aku harus lebih bersiap.”

“Okay, good luck Rik. Nanti sms ya.”

“InsyaaAllah.”

Kemudian bayangannya berlalu. Entah kenapa cowok satu itu sangat konsisten, dia selalu disiplin, tepat waktu. Jadwal sholat, baca buku, kapan makan, kapan bicara dan bahkan waktu untuk mendengarkanku pun mulai dia batasi. Religius sih tapi individualis, hampir enggak ada teman yang pernah dia bawa ke perpus ini.

Hmmm apa kabar dengan diriku sendiri?

Sambil menaiki tangga ke lantai delapan, kupasang headset di telinga. Tak sengaja terputar lagu yang mewakili kondisiku tiga bulan ini, tak tergantikan.

irreplaceable

Tinggalkan Balasan