KARYAKU

Penyendiri – Chapter 10

“Eh! Kita belum sholat maghrib Ra!”

Aku tersentak, bergegas kurapikan gelas dan piring yang sudah kosong, kutumpuk di tengah. Kebiasaan sejak dulu, aku enggak mau menjadi orang yang enggak bertanggungjawab. Minimal dengan merapikan bekas peralatan makan di meja, merupakan bagian rasa tanggungjawabku untuk meringankan beban waiters disini.

“Rand, berapa menit lagi adzan isya’?”

Randi yang sudah berdiri merapikan tasnya, menuju kasir, menengok jam tangan, memastikan waktu.

“Sepuluh menit lagi, disini mushola ada di belakang Ra. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul. Kita ketemu di parkiran.”

“Oke!”

Restoran ini memang cukup cozy, enggak salah Randi memilih tempat makan disini. Selain parkirnya yang luas, jumlah kursi juga cukup memadai, kamar mandinya super nyaman, harum dan bersih, tempat sholatnya pun terpisah dari area laki-laki. Biasanya yang aku jumpai di tempat umum, entah di mall maupun area fasum, mushola kerapkali didesain menggunakan sisa-sisa lahan. Banyaknya hanya satu luas area sempit, hanya disekat pembatas tali dan hordeng aja. Bahkan ada yang enggak disekat-sehingga nampak punggung jama’ah laki-lakinya, saking sempitnya.

Aku enggak punya jam tangan, biasanya kemana-mana kubawa jam beker dari kamar. Atau memeriksanya dari ponsel. Sayangnya, ponselku mati, kehabisan baterai. Itupun aku tinggal di mobil Randi, dalam kondisi masih ngecharge di dashboard.

Selesai sholat maghrib, aku lipat cepat mukena yang kugunakan. Mushola ini sepi, hanya ada satu-dua wanita yang sama denganku. Sholat di akhir waktu, lebih tepatnya tidak mendengarkan adzan magrib berkumandang di awal tadi.

Sesuai dengan kesepakatan, aku harus menunggu Randi di parkiran. Kebetulan mobilnya enggak terlalu jauh dari pintu keluar mushola.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Perasaanku terasa enggak nyaman, seperti ada sesuatu yang akan menimpaku.

“Ra! Ngapain disini?”

Argh! Suara itu, Dimas, teman jurusan. Entah angin dari mana yang membawanya kesini. Aku teringat pesan yang dikirimnya siang tadi, sms yang kurang menyenangkan, nada yang menyalahkan.

“Eh, kamu, kok disini Dims?”

“Wah kok balik nanya, aku udah biasa makan disini Ra. Kamu sama siapa?”

“Eh-aku.. aku..”

Lidahku kelu, antara ingin berlari cepat meninggalkannya. Atau bertahan di tempat dengan membiarkan Dimas tetap mematung sendiri, menunggu jawaban.

“Ra! Ayo pulang!”

Dari kejauhan Randi melambaikan tangannya padaku. Seperti magnet, aku pun bergegas menujunya. Ada alasan untuk menghindar dari serbuan pertanyaan Panjang Dimas. Bagaimanapun juga, aku enggak mau membuat masalah baru dengannya, setelah miskomunikasi dengan Luna. Dimas cukup populer di jurusan, bisa saja dia mengarang cerita sesuai fakta, ‘melihat Rayya bersama Randi’. Kemudian para cewek memberi bumbu ‘dengan mesra’, kemudian ada saja tambahan lain yang bisa memojokkanku.

“Ra, kamu jadian sama Randi?”

Belum juga kuucapkan sepatah kata padanya, Dimas melemparkan pertanyaan baru lagi.

“Oh, enggak. Hanya tetangga dekat di rumahku – yang dulu. Oia, aku duluan ya. Lagi ada keperluan nih.” Kuayukan kaki cepat, bergegas.

Dimas mengangguk.

“Oke, hati-hati di jalan Ra. Jangan lupa balas smsku!” suara Dimas makin terdengar jauh.

Aku bertekad malam nanti, setiba di apartemen kubalas semua sms yang masuk dari Dimas. Bagaimanapun juga, Dimas cukup baik selama ini. walaupun aku jarang berada di jurusan, Dimas tak pernah berhenti memberi kabar terkait akademik serta jurusan. Hanya saja ada sikapnya yang aku sedikit risih padanya, selalu blak-blakan dengan apapun yang terlintas di kepalanya. Entah rasa suka, rasa enggak suka, termasuk menjadi sumber gosip yang dinanti-nanti para fans Randi terhadapku.

“Siapa Ra? Teman kamu?” Randi menyelidik, menyaksikan napasku tersengal. “Mau minum dulu?”

“Oh, enggak, langsung pulang aja. Kita belum menaruh barang, aku ingin istirahat Rand.”

“Kamu, udah minum obat tadi?”

Aku menggeleng, justru obatku ada di mobil. Lupa enggak kubawa masuk kedalam tadi. Kemudian kami langsung menuju mobil.

Kurebahkan punggungku ke punggung kursi. Randi mulai menurunkan suhu AC, mobil pun bergerak memutar. Keluar area.

Kepalaku mulai terasa, perutku seolah naik. Akibat stress. Serta adanya efek asam lambung yang belum pulih benar, Gerd. Ini sebab pola makanku berantakan.

“Ra, aku bawa kamu ke rumah sakit aja ya. Kita kontrol lagi.” Randi nampak cemas, wajahnya kusut. Setengah hari ini dia mengurusku kesana kemari. Tentu ini bukan aktifitas yang menyenangkan.

Aku menggeleng, justru itu yang aku takutkan. Bakal gagal rencanaku menyelidiki maksud kotak Riki.

“Bawa aku pulang Rand, aku hanya butuh tidur.”

“Oke.”

Sebelum pulang, Randi menyelipkan sesuatu ke tanganku. Selembar kartu.

“Ra, ini bawa dulu. PIN kartu ini menggunakan tanggal lahirmu.”

Aku terkesiap, kartu ATM. Tentu itu bukan hal yang mudah aku terima. Ini menyangkut harga diriku di depannya, aku bukan gadis yang harus dikasihani seperti ini.

“Bukan ATM punyaku, ini punya kamu Ra. Dari om Darma..”

“Dari papa? Sejak kapan?”

Sejujurnya, aku merindukannya. Papa. Sayang sekali, sejak peristiwa pengusiran itu serta pemalsuan dokumen gono-gini Papa dan Bunda semua terasa gelap, pekat. Aku membencinya. Terutama beberapa hari lalu, mengirimkan pengacara untuk menandatangani surat- entah apa isinya.

“Beberapa bulan lalu, jika ada waktu dan kamu sudah pulih aja, kita bicara.”

“Rand, jadi.. jadi selama ini kamu ada kontak dengan papaku?”

Randi mengangguk, pertanda benar. Dadaku mulai panas bergemuruh, tak terasa bulir demi bulir mengalir deras. Walaupun demikian, hatiku masih menghitam. Aku belum mau menerima semua ini, semua perhatian papa yang sudah terkubur dalam.

“Makasih. Aku mau istirahat. Selamat malam, hati-hati di jalan ya Rand.”

Pintu kututup, kukunci dari dalam. Sesak itu memuncak. Beruntung Randi sudah turun, aku enggak mau merepotkan dia terus. Kartu ATM kugenggam, namun tak terbersit sedetikpun untuk menggunakannya. Aku perlu berjumpa dengan papa, untuk meminta maaf padanya. Tapi enggak dalam waktu dekat. Entah kapan.

Kurebahkan badan diatas ranjang, aku Lelah. Obatku sudah kuminum juga tadi di mobil, sedikit demi sedikit rasa kantuk itu menjalar. Niat membalas pesan Dimas dan Riki hanya menjadi wacana, faktanya mataku terasa berat.


Dini hari, 02.30

Aku terbangun. Perasaanku enggak nyaman, aku belum sholat isya!

Segera kutunaikan sholat wajib itu, kemudian kupanaskan air, berendam di bawah air hangat.

Pagi ini badanku terasa lebih segar. Aku berniat untuk melanjutkan merapikan kamar dan memeriksa ponsel. Siapa tahu ada pesan masuk yang penting.

Hingga pukul enam pagi, ponselku sepi. Hanya ada pesan dari Randi. Ya, hanya Randi yang tetap rajin menanyakan kabarku.

Pukul tujuh pagi. Ingin rasanya menghirup udara pagi di luar kamar. Dari balkon kuamati layout bawah nampak penjual bubur ramai dikerubuti pembeli. Perutku mengaduh. Sepertinya semangkuk bubur itu bisa mengobati perutku yang kelaparan. Tapi aku malas turun.

Eh! Sepertinya ada Riki mengantri disana. Hatiku mekar. Tak perlu menunggu alasan lagi, aku harus turun secepatnya. Sekaligus ingin mengabarkan tempat tinggal baru ku ini.

Menggunakan lift yang masih sepi, sigap aku melompat keluar. Menelusuri jalan, tepat di trotoar depan.

Semakin dekat, semakin berdebar rasanya. Riki pasti kaget melihatku menemuinya sepagi ini. Kuberanikan diri menepuk pundaknya yang jangkung, aku terpaksa berjinjit sedikit untuk menepuknya.

“Ya? Siapa ya?”

“Rik, Aku Rayya!”

“Rayya?”

Aku geli melihatnya, seolah tak pernah melihatku sama sekali, atau dia hanya bercanda?

“Iya, Rayya, anak industry 49. Gimana sih Rik.”

“Oh, jangan-jangan kamu dari kampus IT? Kenal kembaranku?”

HAH? Kembaran?

Belum juga puas memandangi wajahnya yang segar dan menanyakan amnesianya. Dia mengulurkan tangan padaku.

“Aku, Riko. Hubungan internasional Unira. Salam kenal Rayya.”

Sekelebat aku mengingatnya, kali ini dia di depanku, lebih mirip dengan… Rezvan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *