KARYAKU

Penyendiri – Chapter 11

Aku terjaga oleh bel pintu yang ditekan berkali-kali di luar kamar. Ponsel di atas nakas turut bergetar, aku menggeratak asal untuk meraihnya. Pada layarnya jelas terpampang, panggilan dari Randi sejak tadi.

Pukul sepuluh pagi. Terakhir kuingat pukul tujuh selesai memesan bubur ayam, aku kembali kesini. Menghabiskannya, sendiri. Ya, aku memutuskan untuk segera pergi meninggalkan lelaki yang membuatku panas-dingin itu, Riko. Berlama-lama berada di sampingnya membuatku menghapuskan bayangan Riki. Entah magnet apa yang mereka pasang, dua-duanya double twist. Membuatku cheesy.

“Ra! Kamu ada didalam kan? Ayo cari makan.”

Dari seberang sekaligus terdengar dari ponsel yang kugenggam, suara itu merambat mengikutiku. Siapa lagi kalau bukan Randi.

“Rand, ini masih jam sepuluh. Beberapa jam lalu aku baru saja sarapan, lagipula aku bukan adikmu yang kemanapun harus kamu suapi, bukan?”

Perhatian yang menurutku sudah terlalu intens ini enggak baik untukku, tentu untuk hubungan pertemanan kami. Bagiku, Randi memang tetap setia kawan, enggak ada yang berubah darinya, sejak dulu. Bahkan kini semakin baik dan terus memastikan diriku baik-baik saja- setelah insiden kematian bunda dan Rezvan- sebab kondisi keluargaku berantakan.

“Buka pintu dulu deh Ra, baru komen.”

Ponsel kulempar sembarangan, baru kusadari ada pantulan cermin besar samping nakas. Kulihat diriku disana, bayangan seorang gadis yang kepayahan, wajah tirus dengan tonjolan tulang pipi yang begitu jelas, tinggiku yang hanya seratus lima puluhan terpampang sempurna pada cermin itu. Aku baru menyadari betapa betul menyedihkan kondisiku selama ini, cekung, tak terawat. Siapa pula yang mau tertarik pada gadis yang penampilannya kusut sepertiku, setiap hari hanya mengenakan kaus berlapis hoodie warna monokrom. Hidupku selaras dengan warna pakaianku, buram.

Wajah setengah tiang listrik itu menyembul dari balik pintu, sumringah, tesenyum dan mengacak rambutku yang biasa kututup hoodie.

“Nih, Ra. Amunisi materi sepekan ke depan dan ini amunisi teman belajarmu.”

Dua tangannya penuh dengan kantong kresek, sebuah kantong berisi buku latihan soal dan kantong lainnya penuh dengan roti, susu dan segala camilan yang entah apa aja isinya. Pekan depan sudah mulai ujian Semester. Enggak ada pilihan lain selain belajar keras, setelah Riki pergi, ujian mid semesterku kacau, kini masih ada sisa tenaga semangatku untuk memperbaiki diri lagi.

“Kenapa repot-repot gini sih Rand.” Aku melenguh, semakin berat beban di pundakku melihat segala bantuan ini hadir nyata begitu saja.

“Enggak repot itu, paling penting kamu bisa perbaiki nilaimu lagi, Ra.”

Aku menelan ludah, seharusnya urusan seperti ini enggak perlu kubebankan ke Randi. Sayangnya enggak ada yang peduli lagi selain dirinya.

“Ra, mau belajar bareng?”

Aku tercekat, mau menolak rasanya enggak enak, jika kubiarkan, lama-lama aku semakin membebaninya. Namun, status Randi sebagai kakak kelas, tentu jauh lebih berpengalaman untuk mengajariku beberapa latihan soal. Mulai rusuh hatiku.

“Ehm, aku pikirkan dulu Rand. Makasih udah kesini, tadi aku ketiduran, nanti kalau jadi belajar bareng, aku sms kamu.”

“Oke, siap Ra. Hari ini aku luang. Siapa tahu kamu mau belajar, kita bisa cari tempat yang cukup nyaman di luar.”

Aku mengangguk, walaupun dalam hati sangat kurang setuju jika belajar pun harus mencari tempat di luar. Kenapa enggak di living room ini saja? Murah meriah, jika butuh pengganjal perut, tinggal masak.

Tawaran Randi kembali kutimbang-timbang, harapanku di detik ini pula muncul pesan dari Riki. Sayangnya nihil. Padahal ingin rasanya bercakap dengannya, ingin kukonfirmasi keberadaan kembarannya dan siapakah foto di album itu padanya. Sudah lebih dari tiga bulan Riki menghilang tanpa kabar.

Jarkom Angkatan pun enggak muncul sama sekali. hanya pesan beruntun dari Randi yang menemani. Lama-lama aku jengah.

Dua kantong kresek dari Randi coba kuaduk-aduk, siapa tahu menemukan coklat penghilang jiwa yang resah. Emang ada cokelat yang seperti itu, Ra?

Konon, kalau lagi bingung, bosan dan bete, sebagian besar orang berlari mengambil sebatang cokelat atau mengaduk secangkir lumeran kopi latte dibubuh krim diatasnya, mampu mengurangi rasa itu. Tentu aku sendiri tahu, cokelat itu pasti ada. Sejak dulu, SMA, Randi juga menyukai itu.

Kuangkat tinggi-tinggi cokelat itu, ada sekotak utuh. Segera aku pindahkan ke freezer. Cokelat beku, sensasinya terasa lebih lama dan awet. Sementara aku comot secuil, sisanya kulesakkan begitu saja dalam kotak beku.

Selesai sholat dzuhur, aku timang-timang ATM dari Randi.

“Gunakan itu Ra, dari papa kamu, pin tanggal lahirmu.”

Ucapan itu masih terngiang di telinga, entah ada hubungan apa Randi dengan papaku. Kenapa mereka bisa bertemu, bukan urusanku sih. Namun seperti ada yang mengganjal, aneh.

Buku latihan soal dari Randi kubuka asal saja, beberapa latihan soal UTS aku simak beberapa masih cukup mudah. Keputusan untuk belajar bareng sepertinya harus aku tunda, bukan apa-apa. Agendaku mencari loker part time siang ini.

Rand, aku enggak bisa belajar bareng hari ini. next time, insyaaAllah.

Pesanku langsung dia balas, begitu cepat.

Ra, kamu mau cari loker bukan?

Tentu, itu agendaku hari ini. kenapa dia bisa tahu? Atau aku pernah cerita padanya?

Iya, aku butuh loker.

Dering panggilan masuk itu langsung kuangkat, Randi langsung menelpon.

“Ya, Rand? Ada info?”

“Tentu ada, kamu mau part time di penerbitan buku nggak?”

Mendengar kata ‘penerbitan buku’, radar antusiasku berdiri tegak. Tentu itu merupakan tempat kerja impian. Walaupun aku enggak berasal dari ilmu budaya, masih cukup nyambunglah dengan bidang jurusanku, industri.

“Mau banget Rand. Dimana?”

“Setelah ini aku jemput ya, kamu tunggu aja disana.”

Randi selalu sigap, berharap enggak berurusan dan mendapat bantuan lagi darinya -cukup bikin trauma yang kasus dengan Luna- kini dia muncul lagi. Setengah hari ini sudah dua kali datang kesini.

Kami berdiri di tempat parkir, menghadap sebuah bangunan setengah kantor dan setengah pabrik. Randi bilang kalau disini ada teman lamanya yang menjadi editor salah satu divisi buku. Temannya membutuhkan mahasiswi magang dengan jam kerja fleksibel. Pekerjaannya cukup mudah, menjadi asisten Right Editor, editor yang berkaitan dengan hak cipta, ISBN dan katalog dalam terbitan.

“Cukup ringan Ra, sistemnya kontrak. Per enam bulan diperbaharui. Kamu mau?” Randi membaca ponselnya sebelum memutuskan untuk melangkah masuk kedalam kantor tersebut.

Aku mengangguk, mantap. Setidaknya di tempat ini aku jauh lebih nyaman.

“Oke, aku antar sampai lobi ya. Nanti kamu masuk, kabari saja kalau udah mau selesai wawancaranya.”

Aku tertegun, “Rand, aku enggak bawa berkas apapun.”

Randi terbahak, katanya enggak masalah. Karena ini sifatnya urgent, close recruitment.

Tiba di lobi, kami mengisi daftar pengunjung. Randi menelpon seseorang, kemudian dia duduk di ruang tunggu. Petugas memberiku ID pengunjung dan mempersilahkanku masuk kedalam ruangan, sendiri.

Ruang ‘E’.

Bangunan ini berbentuk memanjang, bersisian dengan lapis-lapis dinding yang didalamnya kedap suara. Aku harus berhitung, dari depan jelas terpampang area A, B, C -entah hingga alphabet berapa.

Di depan pintu E, aku disambut seorang lelaki berkacamata dengan postur bulat menyamping.

“Halo, Rayya ya, aku Edo. Right editor yang membawahi semua genre buku. Silahkan masuk.”

Edo, ternyata teman Randi ketika mereka duduk di bangku SD. Walaupun demikian, keduanya tetap aktif tegur sapa. Mendengar ceritanya, aku jadi tahu, kalau Randi juga kutu buku. Hanya saja, dia jarang ke perpustakaan. Setiap ada informasi buku baru, Randi lebih sering menanyakannya ke Edo ini.

“Kerjanya enggak sulit kok Ra, kamu pelajari dulu ini berkasnya. Enggak harus ke kantor, biasanya harus mobile ke beberapa tempat aja. Kamu freelance disini. Ada beberapa mahasiswa lain juga. Hari senin, kamu kesini untuk kenalan. Jam masuk disini senin hingga jum’at. Tapi sabtu, beberapa divisiku juga ada yang masih bekerja. Fleksibel saja.”

“Ma-maaf, Kak Edo, senin saya masih ujian. Hingga pukul tiga sore.”

“Oh, enggak apa-apa. Kamu bisa kesini setelah ujian. Ambil ID card dan kenalan ke partner divisi. Biar saling tahu.”

Lega rasanya. Penjelasan dari Edo membuatku bernafas lebih longgar, setidaknya dengan part time bakal lebih produktif waktuku. Sedikit demi sedikit mencoba menata perasaan kembali, menata trauma kesendirianku. Konon, jika ingin berubah, cari lingkungan yang tepat dulu. Kemudian kuatkan diri disana.

Selesai menandatangani kontrak, aku undur dari ruangan. Dari ruang E menuju lobi hanya butuh dua kali belokan saja, setelah itu tinggal lurus.

Sambil berjalan menuju lobi, kukirim pesan ke Randi bahwa aku sudah selesai. Belum juga kukirim pesan itu. Seseorang menabrakku dari samping, turun terburu-buru dari atas.

“So-sorry, aku buru-buru.” Serunya.

Aku mengaduh. Kemudian kami tertegun bersama. Seperti sudah saling kenal.

“Riko?”

“Ah, iya. Kamu siapa ya?”

“Aku, Rayya. Ehm, waktu itu kita beli bubur ayam pagi-pagi itu.”

Dia nampak mengingat-ingat kejadian di tukang bubur depan apartemen. Aku mengangguk, ingin rasanya menanyakan banyak hal padanya. Sayang lidahku kelu.

“Sorry, aku buru-buru. Kamu magang disini?”

Aku berdiri, mengangguk. Dia juga nampak kikuk. “Oke, kita bakal sering ketemu, aku juga lagi magang disini. See you, Ra.”

Seketika dia berlari berlawanan arah denganku, hatiku mekar. Aku semakin bersemangat, pikiranku kembali kulempar ke bawah nakas di samping kamar tidurku. Sebuah kotak berwarna tosca yang menyimpan seribu tanda tanya.

Semoga, dengan hadirnya Riko, banyak membantuku memecahkan persoalan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *