KARYAKU

Penyendiri – Chapter 12

Hatiku mekar sekaligus rusuh, namun enggak bisa berbuat apapun. Selain mengangguk, membiarkannya pergi begitu saja. Riko bahkan enggak memberikan nomor yang bisa kuhubungi. Ya tentu, karena aku enggak memintanya.

Kubiarkan bayangan itu berlalu, perasaan takut mulai muncul. Sekaligus penasaran, sebenarnya siapa mereka. Ingin kudekati, namun aku tahu diri. Sepertinya aku perlu menarik diri sementara waktu. Sekelebat perasaan ini menyelimuti, aku mulai takut, pada semua hipotesaku sendiri.

Memori dua tahun lalu kembali menguar, menghujani pikiran. Kembali mengancam. Bagaimanapun, sekalinya perasaan itu muncul, bayangan dan suara memekakkan telinga itu kembali mengusikku.

“Emang pembawa sial, lihatlah. Oma selama ikut kami sehat-sehat saja. Giliran tinggal disini, apa yang kalian lakukan? Oma sakit-sakitan!”Tante menyemburkan kalimat yang menancap langsung ke dadaku.

Beberapa bulan setelah kematian Oma, tante kembali mengungkit dampak keberadaanku. Setelah bunda menyusul Oma, istirahat, selamanya.

“Lihatlah. Kini. Istrimu sudah tiada. Anak tetangga kita yang dia dekati juga kabarnya nahas begitu saja. Aku sudah bilang, jangan membuat masalah. Memungut anak yang benar-benar bersihlah. Ini anak sejak bayi disini, menyusahkan kita. Keluarkan saja dari rumah! Kamu harus memulai semua dari nol, Darmawan!”

Kalimat yang dilontarkan, menghujaniku. Menciutkan kepala. Memutar ulang memori masa kecil, betapa aku semakin sadar mengapa sikap keluarga besar sedemikian keras padaku. Tapi aku masih mampu berlindung dibalik payung kasih sayang Bunda dan Papa. Dan aku yakin, aku enggak salah, bahkan bunda selalu bilang padaku, apapun yang mereka lontarkan itu keliru.

“Ra! Gimana hasil wawancaranya?” Randi mengentak lamunanku, ia berjalan mendekat, tersenyum, melihatku mematung. Kemudian kami sama-sama keluar menuju lobi, mengembalikan ID pengunjung.

Senyum yang selalu melekat padanya memang mampu meluluhkan hati siapa saja, namun enggak berlaku buatku.

“Tolong antar aku pulang Rand, aku butuh istirahat.”

Selepas itu, aku enggak peduli lagi. Lebih takutnya, aku takut berharap pada sesuatu yang seharusnya aku enggak mengharapkan apapun padanya.


Serba salah, tapi mau bagaimana lagi. Sudah tiga pekan aku duduk dibalik komputer namun enggan menghampirinya. Sosok itu juga seolah enggak mengenaliku, aneh. Riko. Sementara kotak misterius dari Riki masih penuh teka-teki.

Dalam kondisi seperti ini, aku berharap ada sedikit keajaiban. Minimal informasi seputar Riki bisa kudapatkan. Sayang sekali, aku kehilangan jejaknya.

Randi terus menanyakan apa rencanaku setelah ini, tentu aku enggak punya rencana apapun. Bebas aja. Di kepalaku berputar segala hal yang menghimpit sekaligus berusaha melonggarkan ikatannya. Ikatan yang pernah aku buat, seperti rantai gajah, membuatku sulit memutuskan segala sesuatu.

Aku hendak berniat membongkar kejadian aneh beberapa waktu lalu,

“Kita pulang saja, semoga aku betah disini. Thanks Rand, sudah mau membantuku sejauh ini.”

Aku melenguh, Randi tentu enggak memahami maksudku. Ya, siapa dia, sebaik apapun bersikap, jika enggak bersambut, mana paham isi pikiran. Aku enggan berbagi beban padanya. Cukup sudah sekali ini saja.

Liburan mid semester berlalu begitu cepat, entah bagaimana jalan hidup ini berlalu, aku pasrah. Kini Randi mulai sibuk dengan berbagai tugas besarnya, aku enggak terlalu peduli.

Jurusan, angkatan, apa kabar?

Semua berjalan sendiri-sendiri.

Kudorong pintu redaktur perlahan-lahan, musim tenggat waktu penyetoran ISBN dan jadwal buku cetak. Para editor berjibaku dengan tumpukan beberapa naskah, sebagian dibuang begitu saja ke tong sampah, seolah membuang kas bon yang sudah bertahun-tahun disimpan. Tanpa beban.

“Ra, kamu ada janji hari ini?” sahut Edo, melongok ke mejaku.

Aku menggeleng, seperti biasa, aku merapikan file yang sudah masuk untuk diarsip di komputer.

“Baca itu, aku kira menyangkut keluargamu, info dari Randi, tapi jangan bilang kalau aku yang kasih tahu kamu.”

Penjelasan Edo membuatku terhenyak, pada selembar kertas koran disamping komputer terpampang nyata. Sebuah headline yang cukup mencengangkan, berita seputar kerugian perusahaan tekstil yang berujung di meja hukum. Aku menelan ludah, semoga bukan perusahaan papa.

“Oh, ini. Ada apakah?”

Edo mengeluarkan sebuah surat yang jelas ditujukan padaku.

“Ada pesan, dari seseorang, tapi enggak bisa lama-lama. Penting.”

“Apa ada hubungannya dengan koran itu?” aku menunjuk judul koran yang belum kusentuh, sedikit kutengok di halaman pertama, muncul foto Papa berbaju orange, semacam tersangka. Aku malu, tapi enggak bisa berbuat apapun.

Edo menarik gagang telepon tanpa kabel, dia dekatkan pada telinganya sambil mengangguk kecil. Mengarahkan padaku. Aku segera minta izin untuk menjauh ruang redaksi, mungkin ini sedikit privasi.

Pada pojok ruang di bawah tangga, aku mainkan gagang telepon itu. Kutarik napas berat, bersiap ada pesan apa dan siapa dibalik sana.

“Halo, Rayya.”

Suara itu, tentu aku mengingatnya, erat dan membuatku sedikit tergugu.

“Pa, Papa?”

“Iya, Papa mau izin, meminta maaf, selama ini Papa salah. Kamu sehat-sehat ya Nak.”

Klik!

Telepon terputus, mungkin jaringan, atau pulsa, entah karena aku yang terlalu lama mengulurnya. Argh!

Edo menghampiriku, menepuk-nepuk pundakku.

“Ra, kamu yang tabah. Kalau bukan karena Randi, aku enggak akan mau menjadi narahubung seperti ini.”

Aku mendelik, “Maksudmu apa?”

“Ya, tempat ini, salah satu perusahaan yang diakuisisi keluarga Randi, sebelumnya ini milik keluargamu. Pak Darmawan.”

Rahangku mengeras, kepalaku terlalu penat untuk mencerna ini secara cepat. Lalu, apa maksud Edo memberitahukanku seperti ini?

“Kapan-kapan aku ceritakan, ini waktunya bekerja. Semoga kamu betah, Ra.”

Aku menggeleng, tentu bukan karena aku enggak mau bekerja, namun aku perlu penjelasan lebih dari ini. Sayangnya, Edo ini atasanku, jika aku terus mencecarnya, mana bisa aku dipertahankan disini.

“Ra, ingat, jangan ceritakan kejadian ini ke Randi. Aku harap kamu mengerti.”

Kemudian dia berlalu begitu saja.

Aku menggeram, tentu aku enggak sebodoh itu. Baiklah, aku ikuti dulu permainan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *