KARYAKU

Penyendiri – Chapter 13

Dua pekan ini aku mencoba memahami berkas-berkas yang masuk, sayangnya hanya setengah yang bisa aku cerna, selebihnya aku merasa tenggelam, sulit mengarunginya. Berkas itu enggak sendirian, lengkap dengan sebundel naskah mentah yang sukses dicorat-coret oleh co-editor.

Pekerjaanku sebenarnya sudah cukup mudah, membaca cepat semua naskah yang sudah diedit, memberi catatan, simpulan, kemudian menyerahkannya kepada supervisor buku yang pada akhirnya dimasukkan ke meja redaktur untuk dibahas bersama CEO penerbit.

“Ra, butuh kopi?”

Suara Lena membuyarkan segala fokus, dia menyembul begitu saja dari balik sekat meja. Kami memang berjajar, bertiga di pojok, di samping kanan ada Marlena alias Lena, di kiriku tepat meja kerja seorang cowok yang jarang tersenyum, Paul, editor non-fiksi yang jarang betah duduk di tempatnya, entah kemana perginya, namun pekerjaan yang dia tuntaskan selalu mendapat acungan jempol dari CEO.

Sejak membaca naskah non-fiksi yang dituang dua pekan lalu, bertema anxiety disorder, aku mulai mampu memahami diri sendiri, kenapa sulit sekali menjalin rasa percaya pada oranglain. Kini, aku hendak mendobraknya.

“Kopi susu aja Len, sekalian pesan pisang goreng di depan ya.” sahutku.

Lena tersenyum manis, mengatupkan jempol dan telunjuknya membentuk bulatan ‘oke’, berkeling, kemudian ia beranjak dari mejanya. Gantian, kini aku merebahkan punggung ke sandaran kursi, melemaskan tangan, kulihat Lena berjalan keluar, rambut sebahunya yang keriting ikut berayun mengikuti irama kakinya kemudian menghilang di balik pintu.

Ruang siang ini cukup sepi, hampir semua orang yang ada disini memutuskan libur panjang tahun baru. Kurasa itu keputusan tepat, setidaknya mereka sudah menuntaskan pekerjaannya, sementara aku masih bergelut dengan kepala sendiri. Aku merasa sendirian, namun bukankah setiap hari juga demikian?

Kumainkan jemariku, tak sengaja mata ini terdistraksi lagi, kali ini ponsel yang lupa kubalik di laci. Kebiasaanku membalik posisi layar, menghadap ke bawah, dan menyimpannya di laci, lupa kulakukan. Tadi kuletakkan begitu saja. Efeknya, saat kubuka laci meja, butuh ambil sticky notes, ponsel itu menyala, berkedip-kedip. Membuat tangan ini refleks membukanya.

Ponselku memang enggak berisik, sengaja aku atur mode hening, sayangnya notifikasi yang masuk tidak selalu sama heningnya. Kubuka pesan satu per satu. Beberapa masuk nomor misterius yang sama dari sepekan lalu, isinya sama. Ra, I miss you.

Setiap aku balas, ‘ini siapa?’ bahkan aku calling enggak pernah diangkat, membuatku curiga. Perasaan was-was dan segala teka-teki yang menghantui membuatku semakin sulit fokus. Seperti ada seseorang yang mengintai gerak-gerikku.

Awalnya, aku hendak menanyakan hal ini ke Randi, namun segera kuurungkan. Tentu melibatkan Randi dalam konteks ini, kurasa membuat situasi semakin runyam.

“Ra, ini pesanannya, eh, wait, wait, muka kamu kenapa? kayak abis dikejar setan bolong aja?”

Lena menunjuk wajahku, katanya mirip pias halaman buku, kosong dan pucat. Aku menggeleng cepat, tentu ini reaksi permukaan kulitku yang memang mudah pucat. Kulemparkan senyuman dan uang koin pembayaran pisang dan kopi. Kututpi kegelisahanku dengan mengajaknya berhitung uang koin. Cukup murah, hanya tigaribu lima ratus rupiah.

Lena mengaduh, menggaruk kepalanya yang enggak gatal, menyaksikanku memberinya tujuh koin uang limaratusan seperti menerima batu berat yang membawa beban.

“Ra, tahu gitu kamu kutraktir aja, koin ini merepotkan dompetku, berat. Aku balikin ya.”

Aku menghadang, menolak, tentu bukan karena enggak suka ditraktir, tapi ini sudah ke sekian kali Lena menolak uang dariku.

“Kamu genggam aja, lumayan kan buat bayar parkiran atau sedekahin di jalan ntar pas pulang. Biar aku ketularan pahalanya.”

Luna terbahak, mengangguk, menurutnya mungkin itu joke belaka. Tapi enggak buatku, momen yang sulit seperti ini, berhemat sudah menjadi kebiasaanku. Aku ikut terbahak hanya untuk menutupi kelemahan ini.

Anything that’s human is mentionable, and anything that is mentionable can be more manageable. When we can talk about our feelings, they become less overwhelming, less upsetting, and less scary.

Pernah dengar quotes diatas? cocok menggambarkan kondisiku sekarang. Kini aku punya teman bicara, sesama perempuan.

“Jadi, kamu udah lama sendirian?”

Lena mulai memancing pembicaraan, aku mengangguk, kuceritakan sepotong demi sepotong setiap kejadian yang mendadak berubah yang aku alami selama ini.

Agak berat, tapi mau tak mau, aku harus sedikit terbuka. Bagaimanapun juga, selama tiga bulan disini, Lena sudah cukup teruji untuk aku percayai menjadi teman bicara.

Apalagi setelah debat panjang lima hari lalu dengan Randi, membulatkan keputusanku untuk keluar dari kampus, meninggalkan apartemennya, mencari kos murah dan memilih bertahan disini.

“Lalu, Edo dan Randi gimana Ra? masih enggak ngasih info apapun tentang kondisi keluargamu, maksudku, papamu?”

Bahuku hanya mampu kuangkat sempurna, aku enggak bisa mendalami apapun lagi setelah percakapan dengan Edo tempo lalu. Bahkan Randi enggak seperti biasanya, membiarkanku begitu saja, semauku. Padahal, selama ini dialah yang bersikeras agar aku tetap bertahan di kampus, enggak jauh-jauh darinya dan tinggal di apartemen itu.

“Duh, aku bingung juga, ingin bantuin kamu, tapi aku enggak ngerti harus gimana. Apa perlu jenguk papamu Ra? ke lapas? supaya agak jelas.”

“Sulit, Len. Hingga detik ini, kondisi sebenarnya papa pun aku enggak paham, penuh teka-teki semua.”

“Oia, kamu bilang, pernah ganti nomor ya? nomor lama kamu masih ada?”

Aku menggeleng, tentu sudah aku buang, toh buat apa.

“Duh, Ra! siapa tahu jawabannya ada di nomor lama kamu. Siapa tahu papamu memberi pesan ke ponsel lama atau ke email atau ke kosan lama?”

“Masalahnya, ada nomor asing yang setiap hari mengirimkan pesan yang sama Len. Dan itu enggak mungkin dari Papa.”

“Atau bisa jadi dari cowokmu.”

“Cowok? Nope. Dari dulu, aku enggak pernah jadian sama siapapun.”

“Atau secret admirer kamu, Ra?”

Aku tergelak, mana ada secret admirer yang mengirim pesan setiap hari dengan kalimat yang sama dan di jam yang sama. Balik ditelpon atau sms, enggak pernah balas. Justru dugaan kuatku ini permainan dari seseorang, siapa tahu ingin menjebakku dan membuatku semakin enggak fokus.

“Sudah lama aku enggak kontak dengan siapapun Len. Terakhir hanya Randi yang bisa kuhubungi.”

Lena mengembuskan napas, seolah memahami bebanku. Sebatang kara, enggak jelas harus mengadu kepada siapa.

“Kalau sehari-hari, cukup, Ra? kamu disini awalnya freelance kan, sekarang jadi memutuskan tetap disini? anything else?”

Aku mengangguk, kurasa aku masih berkecukupan, kecuali jika berhitung dengan biaya yang pernah Randi keluarkan padaku.

Anything else?

Seketika aku membelalak, teringat sesuatu.

P.S from Author :

Dear teman Rayya, maaf belum aku update semua. Ada beberapa hal yang perlu aku pelajari pekan ini yang berkaitan dengan ‘penyakitnya Rayya’. Ada subjek yang perlu aku baca lagi, terkait mental health, open mindedness dan segala bentuknya.

Sabar ya, aku update berurutan disini sampai tamat, jadi enggak perlu scrolling putus karena sudah aku setting time.

See you next chapter 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *