KARYAKU

Penyendiri – Chapter 14

Keringat panas membanjiri hoodieku, suhu ruangan ber-AC enggak membuatku kedinginan, sama sekali, malah terasa gerah, pusing, kupikir ada yang salah pada metabolisme tubuhku.

Tiba-tiba seolah muncul pusaran yang merambat naik keatas kerongkongan, terdorong dari dalam lambung, napas tersengal, aku mulai panik. Gerd. Mendadak kambuh, menghantam fokus di saat pekerjaan belum tuntas.

Lena sudah meninggalkan ruangan ini beberapa menit lalu, enggak mungkin aku kirim pesan padanya untuk balik lagi. Sementara meja yang lain kosong. Beruntung ada Edo mendorong pintu, masuk, membawa berkas.

“Ra, kamu kenapa megap-megap?”

“Do, air hangat, please.” ucapku, hampir tak terdengar olehnya.

Melihatku yang tampak kepayahan, Edo secepat kilat berlari. Sepertinya menuju ruang kantin.

Tak berapa lama pintu terbuka, sayangnya, bukan Edo yang masuk. Aku terkesiap, wajah itu, berjalan mendekatiku, setengah tertutup hodie, namun aku begitu familier dengannya, benarkah?.

Dengan lihai, dia semprotkan oxycan padaku, napasku terasa lebih longgar. Kemudian dia genggamkan ventolin inhaler dan berucap, “Ra, aku kembali, segera berkemas.”

Jujur, aku enggak paham maksudnya. Menurutku ini halusinasi saja, namun aku ikuti kemauannya, seperti sudah sangat lama aku enggak berjumpa dengannya. Apakah benar ‘itu’ dia?

“Lewat lift samping, tundukkan kepalamu.”

Dengan sigap dia menarikku, halus, tanpa suara, menuju lift, menekan tombol LG, lower ground. Tentu, itu tempat parkiran mobil.

Lelaki itu diam saja, hingga mobil keluar kantor , menuju sebuah jalan kota, berbelok menghindari tol, menyusuri pematang sawah hingga berhenti pada sebuah lokasi yang membuatku terpaku, tempat makam. Seketika air mataku terdesak, meleleh, sangat jelas, ini lokasi area makam bunda.

“Ka, kamu, siapa?” kulirik dia, aku takut, apa yang ada di pikiranku ini benar. Kuharap benar, jikapun salah, aku enggak akan pernah menyesal mengenalnya.

Lelaki dengan wajah tertutup setengah hoodie yang sejak tadi mengemudikan mobil ini mulai membuka suaranya, semakin memperjelas.

“Ra, aku kembali. Kamu, sudah enakan? gerd-nya?”

“Re, Rezvan? Benarkah?” aku selidik permukaan tangannya, wajahnya dan tepat saat dia membuka tutup hoodie di kepalanya, bayangan itu kini terpampang, nyata. Rezvan.

“Ya, maafkan aku, Ra.”

Antara haru, sedih, cemas, bingung, penuh tanda tanya di kepalaku, menyaksikan Rezvan bak bangkit dari kubur. Sejak dulu, aku yakin dia selalu ada, feeling terasa kuat setiap kali kubuka pintu kamar kos, foto itu seolah memberi semangat bahkan mendorongku untuk tetap optimis bahwa dia selalu ada untukku. Kini, bayangan itu, berwujud nyata. Hatiku mekar sekaligus kuncup, aku takut, ini hanya delusi.

Ingin rasanya memukulinya, menyumpahserapahi betapa tega membuatku menderita memikirkannya tanpa kejelasan satu setengah tahun ini. Aku tergugu, membuat kepalaku semakin nyeri, kuhirup ulang ventolin inhaler di genggaman, setidaknya napasku harus tetap melaju.

Rezvan, kamu enggak bakal ngerti, betapa aku merindukanmu. Tapi aku enggak akan banyak bertanya, sebelum kamu mau menceritakan itu sendiri, aku takut kamu berubah pikiran seandainya aku mencecarmu dengan pertanyaan yang wajar harus kutanyakan.

“Aku akan ceritakan semuanya…”

Rezvan menghentikan suaranya sejenak, kemampuannya membaca pikiran mulai dia gunakan, aku semakin tertunduk, seharusnya aku enggak akan meragukan lagi sosok Rezvan -yang entah nyata atau enggak ini- disampingku.

Kemudian dia melanjutkan, “… setelah aku mengambil sesuatu dari makam bunda.”

Bulu kudukku berdiri, “Maksudmu sesuatu apakah?”

Rezvan mengamati keluar jendela, langit mulai sedikit mendung dan awa gelap bergelayut, waktu mulai berganti, malam. Beberapa menit lagi pasti adzan magrib berkumandang. Aku bersikukuh untuk menahannya tetap berada disini, untuk apa coba, menelusuri tanah makam menjelang magrib, cari masalah saja.

Makam bunda terletak enggak terlalu jauh dari pintu masuk, hanya berjarak lima meter saja. Sudah beberapa bulan ini aku enggak mengunjunginya, bagiku, mendoakan bunda dimanapun dan kapanpun pasti Allah terima, enggak harus selalu masuk ke tanah pemakaman.

Pintu mobil tertutup, Rezvan memutar komudi, sambil menepuk-nepuk sesuatu yang entah apa dia ambil dari dalam lokasi makam.

“Malam ini, kamu ikut aku dulu, Ra. Tenang aja, kita enggak sendiri.”

Rezvan memandangku sebentar, kemudian dia alihkan ke bangku belakang, ada organizer bag yang menggantung berisi makanan, diraihnya dua bungkus roti, digenggamkannya ke tangan kiriku. “Di belakangmu ada beberapa bungkus roti, makanlah. Aku tahu, kamu belum makan penuh, gerdmu kambuh.”

Kondisiku yang payah, kepala terasa nyut-nyut semakin membuatku nelangsa, kenapa pula dia yang sibuk sendiri, sementara aku hanya pasrah merepotkan, dan disini aku enggak memahami maksud ‘kita enggak sendiri’.

Mobil melaju, entah melaju kemana, aku enggak peduli, terpenting aku merapalkan do’a banyak-banyak, semoga perjalanan ini membawaku kepada kebaikan dan semoga benar-benar nyata.

Air mata ini memberat, sedikit-sedikit mulai menitik, seharusnya aku bahagia melihatnya ada di sisiku, hidup kembali, namun ada perasaan yang memelintir jiwa sekaligus menghujam dalam, firasat penuh kejanggalan. Apakah ini hanya omong kosong? Atau ini de ja vu, sekadar pertanda bahwa perpisahan akan kembali terulang?

Dulu, sebelum dia pergi, kejadian yang sama juga terjadi. Tepat ketika aku jatuh sakit, thypus, Rezvan menjengukku, kemudian kami berdua pergi ke makam bunda, mendoakannya. Selesai dari pemakaman, kami berbicara serius, berdebat, tentang keputusan Rezvan yang hendak apply kampus di luar kota. Aku katakan padanya, disini saja, biar ada yang ngajarin mapel kelas tiga kalau aku sudah naik kelas. Toh kenaikan kelas sudah di ujung mata, kurang kurang beberapa hari lagi. Rezvan menggeleng dan akhirnya, semua itu terjadi, kecelakaan pesawat, berita simpang-siur.

Mobil tiba di parkiran sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, nampak dua orang paruh baya menyambut kami.

Seorang wanita dengan rambut setengah memutih berwajah yang begitu hangat, maju beberapa langkah menghampiri Rezvan dan membawakan ranselnya. Rezvan mencium kedua tangannya dengan lembut, kemudian berlari memeluk lelaki paruh baya yang sudah merentangkan kedua tangannya dari tadi.

“Ra, masuk, kenalin, ini ayah, ini ibu.”

Keduanya tersenyum, berbinar, “Pantas sekali Rik, dia amat cantik dibandingkan fotonya.”

Rik? apa telingaku enggak salah dengar?

Rezvan melirikku. Cepat-cepat aku mengangguk, memberikan salam dan masuk kedalam dengan hati-hati. Ada beberapa hal yang ingin segera aku klarifikasi, bahwa lelaki di sampingku ini jelas Rezvan, bukan Riki apalai Riko.

Rezvan memberi kode, menyuruhku duduk dan tetap bersikap wajar. Tentu aku paham bahasa tubuhnya, hal ini sudah lama aku mengerti.

“Baik, Pak. Mohon maaf, saya belum sholat. Dimanakah tempat sholatnya?” tanyaku, hal yang utama dan pertama tentu perkara sholat, argh, jadi ingat nasihat Riki.

“Di kamar belakang Nak Rayya, tetapi jangan risih ya, tempatnya kurang luas dan agak sedikit kotor, maklum, rumah ini jarang kami huni. Biasanya Riki yang disini, hanya hari ini kebetulan bapak mampir, rencana rumah ini akan kami jual bulan depan.”

Aku terkesiap, kenapa dijual? lalu mereka tinggal dimana sebenarnya? Bukannya membawaku pada jawaban yang pasti, peristiwa ini justru semakin membuat memoriku runyam. Buntu.

Baiklah, aku sholat dulu. Semoga ini bukan mimpi dan ada kejelasannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *