KARYAKU

Penyendiri – Chapter 15

“Ra, siap mendengarkan penjelasanku?”

Aku mengangguk, mantap, walaupun aku masih belum begitu mempercayai apa yang aku lihat dan saksikan sekarang. Rezvan, benarkah?

Selesai sholat maghrib, kami berdua pamit keluar lagi, enggak nyaman rasanya membicarakan hal serius di hadapan kedua orang yang sebenarnya enggak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kami. Bahkan aku sendiri enggak bakal tega menyebutkan nama Rezvan secara terang-terangan di hadapan mereka berdua.

Di tepi danau resto seafood yang sudah mulai sepi, Rezvan duduk tepat di hadapanku. Kupalingkan wajah ini, mengarah ke beberapa meja kosong di sisi kanan yang ditinggalkan begitu saja, berantakan, kuberharap mata ini enggak membasah lagi, sudah cukup rasanya menangis selama ini, menyesali banyak hal yang aku lewatkan begitu saja.

“Kamu masih ingat peristiwa tiket pesawat yang aku tukar dengan jadwal pemberangkatan Randi?”

Aku mengangguk, tentu aku sangat ingat dan jelas itu membekas, menyakitkan bagi semua pihak, termasuk keluarga korban.

“Aku selamat, sebab aku mendadak mendapat pesan dari seseorang untuk membatalkannya. Setelah itu aku pergi mengikuti petunjuknya.”

Dahiku mengernyit, mana mungkin semudah itu Rezvan mempercayai pesan yang mungkin saja hoax?

“Aku tahu, kau pasti heran Ra. Tentu kamu jauh lebih heran padaku kemana selama ini aku sembunyi? ya kan?”

Ya, tentu, aku pasti ingin tahu, sayangnya lidahku kelu, memandangnya di hadapanku seperti ini saja, aku masih belum bisa seratus persen percaya.

“Ra, ketahuilah, nasib kita sama, sayangnya kamu belum menyadari itu. Waktuku enggak banyak, tolong kamu baca petunjuk buku dari Riki. Waktu yang tersedia untuk kita hanya empat puluh delapan jam dari sekarang. Semoga kamu bisa bantu aku.”

“Van, aku beneran enggak ngerti maksudmu, waktu apa? kenapa dua puluh empat jam? aku nggak habis pikir kenapa kamu selalu datang dan pergi sesuka hatimu!”

“Ini, please bawa. Tiba di kosan nanti, kamu baca baik-baik. Besok, kita ketemu di parkiran kantor. Sementara, kamu pulang, diantar dia.”

Kuperhatikan sebungkus kantong belacu berisi lembaran kertas, entah apa isinya. Rasanya minatku untuk mempertanyakan kondisi ini seperti terkubur dalam perasaan yang enggak menentu. Rezvanku seperti tergesa dan kurang nyaman berada di kursinya.

Rezvan menunjuk seseorang yang tiba-tiba merangsek maju dari sisi belakangku, aku terhenyak, lelaki yang sama persis yang pernah menemuiku terakhir di kosan lama ketika Riki menyerahkan kotak yang enggak aku pahami isinya.

“Ka, kalian siapa sebenarnya!” aku jelas menolak diombang-ambingkan seperti ini.

Lelaki berbadan kekar itu mencengkeram tanganku, memaksa masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan, sementara Rezvan enggak mencoba membantuku sama sekali. Kosong.

Hologramkah? apa ini khayalan? aneh, ini nyata. Aku kenapa?

Masuk kedalam mobil, dengan secepar kilat, mobil melesat, menuju kosku. Sepanjang perjalanan perutku merintih, namun seolah sudah disiapkan semua, tepat di sampingku sudah disediakan sebuah kantong berisi makanan.

“Makanlah Nona, itu tuan sudah menyediakan.”

“Tuan? Tuan siapa?”

“Bukankah Nona barusan berbincang bersama Tuan.”

“Maksud Anda, Rezvan?”

“Bukan Nona, Tuan Mark.”

Whats! Mark? Nama siapa lagi ini, tentu yang aku kenal dan mengajakku bertemu itu jelas Rezvan, logat, dialek, ciri khas semua itu menunjukkan bahwa dia Rezvan. Nama ‘Mark’ tiba-tiba muncul di telingaku, siapa lagi itu?

Baiklah, aku ikuti permainan ini, daripada pusing dan mati konyol sebaiknya aku lahap dulu sekantong makanan berisi kentang dan junk food, mengisi perut, setidaknya kepala dan perut bisa diajak kompromi lebih baik nanti.

Tiba di depan kos, menunjukkan pukul 12 dini hari, sepi. Tentu. Kini aku ingat, ini semacam de ja vu, tapi entah kapan, aku enggak mengerti.

Masuk kedalam kamar, aku dapati kamarku yang biasa rapi nampak berantakan. Aneh, pasti ada seseorang yang masuk. Setelah aku selidiki, enggak ada satupun barang yang hilang.

Setelah ingat pesan Rezvan tadi, aku mulai googling mencari cara bagaimana membaca buku yang isinya kosong.

“Kunci ada di kantong ini, jangan sampai kehabisan.” suara Rezvan terngiang di telingaku.

Kuembus napas berat, seharusnya aku ikuti petunjuknya sejak awal. Oke, let’s go, Ra! saatnya mencari fakta rahasia dari buku kosong itu.

Dua eksemplar buku, masih putih bersih, kutepuk-tepuk permukaannya. Kulirik sekilas. Ada sebuah kantong tambahan dari Rezvan tadi, berisi lilin.

Kunyalakan lilin itu, kemudian kubaca lagi sekilas kalimat dari kantong lilin itu.

Nyalakan lilin, hadapi dengan hati, gunakan lamgit malam.

Apakah artinya ini aku harus mematikan lampu kamar? Oke, aku coba dulu.

Setelah lampu kamar padam, kini tinggal lilin itu menerangi, kuambil sebuah buku kosong yang kapan lalu aku dapat dari Riki. Kemudian kubuka setiap lembaranya dengan hati-hati, nampak gurat-gurat kalimat yang tertuang didalam kertas. Mendadak aku gelisah, takut jika terjadi hal-hal yang sulit aku terima.

Kutarik napas berat, terngiang kalimat ‘waktu kita hanya 48 jam saja Ra’.

Kubaca cepat, lembaran pertama.

Ra, aku Riki.

Kamu masih ingat aku? aku butuh bantuanmu. Tapi ini bukan demi aku, tapi demi kamu, Rezvan, Riko dan entah siapa lagi. Maafkan aku telah membuatmu gelisah selama ini.

Degup jantungku terasa berdetak dengan tempo cepat, ada perasaan was-was mendera, aku khawatir dibalik pintu ada yang hendak menyergapku. Seperti terendus ancaman besar dibalik surat ini, aku paham gaya bahasa Riki, tentu ini bukan ‘permainan’ yang selama ini aku tebak seenaknya.

Ra, maafkan aku telah ‘menyembunyikan’ Rezvanmu, dia adalah aku. Mau enggak mau, aku harus mengakui itu.

What? hampir saja aku terpekik, permainan apa lagi ini. Aneh, enggak masuk akal. Bagaimana mungkin lelaki yang enggak mengenalku sebelumnya, kemudian mengatakan dirinya adalah Rezvan? Lantas, selama ini Riki kemana? dimana?

Lembar berikutnya berisi petunjuk tentang kasus yang menimpa papa. Terkait detail hutang yang melilit akibat salah manajemen. Beberapa hutang besar masuk ke perusahaan keluarga Randi. Belum lagi tersandung kasus korupsi dugaan memberi grafitikasi kepada wali kota. Sudah jatuh tertimpa tangga.

Bibirku tercekat, informasi sepanjang itu sangat detail dan tepat. Masih kuingat, sebelum aku memutuskan kerja di penerbitan buku, kondisi Papa nampaknya baik-baik saja. Bahkan Randi memberiku ruang yang jelas dan nyaman agar aku tetap berada di apartemennya. Kini?

Teringat sesuatu, dengan sigap kunyalakan lampu. Kantong belacu terakhir, ternyata berisi lembaran foto berbagai momen antara Randi dan Luna sedang bersama. Membuat mataku terbelalak, sebenarnya siapakah yang membuat permainan ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *