KARYAKU

Penyendiri – Chapter 16

Kepalaku berdenyut, terasa limbung. Rezvan beranti nomor, berjumpa dengannya sungguh singkat. Alih-alih ingin mengorek lebih dari informasi yang terserak, justru seolah menghindari pertemuan yang kuajukan.

“Ra, jangan banyak melamun. Makin hari makin kurus kamu.” Lena mengetuk mejaku, membuat pikiran ini kembali berpijak.

“Thanks Len, pekan depan sudah akhir tahun, aku hanya kepikiran sedikit.”

“Kepikiran apa Ra? Papamu? Ayo, aku bisa bantu jika kamu mau.”

Kutatap air mukanya lekat-lekat, aku takut ini semua menjadi permainan semu. Entah siapa yang menggerakkan, aku enggak mengerti sama sekali.

“Len, kamu pernah kuliah di psikolog?” Tanyaku, hati-hati sekali, hampir mendesis, berbisik.

“Iya, tentu, aku paham arah pembicaraanmu Ra. Pulang kerja, kita ngopi aja, aku traktir.”

Aku mengangguk, sepakat. Semoga ada jalan, benang rumit ini tentu enggak bisa aku urai sendiri, terlalu kompleks.

Ponselku kembali bergetar, kudiamkan saja. Perasaan itu kembali ke asal, aku cuek saja. Panggilan masuk dari Randi.

Tanpa menunggu waktu, segera kuselesaikan pekerjaanku, ada beberapa naskah yang harus aku siapkan lampiran untuk pengajuan ISBN. Tepat di berkas paling akhir, seseorang mendorong pintu keras-keras dan berteriak memanggil namaku.

“Ra! Keluar kamu, keluar!”

Bulu kudukku berdiri, seseorang di seberang sana berkelahi dengan satpam yang menahannya untuk masuk ke ruangan. Seseorang yang sungguh aku kenal secara raut wajah namun karakternya jauh dari apa yang aku bayangkan. Riki.

Aku tergugu, kondisinya sungguh mengenaskan, Riki, pada pergelangan tangannya diborgol paksa bahkan beberapa tenaga medis mengejarnya dengan takut-takut. Lantas aku teringat seseorang yang aku sayang, Rezvan, apakah ini wujud Rezvan dalam kondisi normal? ataukah dia yang berpura-pura untuk membawaku keluar. Namun, siapa yang mampu menangkis orang yang menahannya sebanyak itu. Seorang satpam, dua orang suster, dua orang dokter dan beberapa lelaki berkacamata yang enggak aku kenali satupun.

“Ra! TEGA KAMU! aku terakhir hari ini! Please come with me!”

Bergidik mendengar suaranya, sangar dan terasa berat. Air mataku luruh, dada terasa amat menghimpit satu sama lain, kakiku tetap diam membatu, bahkan bergeser satu sentipun aku tak berani.

Lena mendekapku, membiarkan sosok yang mulai melolong-lolong itu sekarat. Sosok yang dulu aku kagumi, bahkan aku sempat mengharapkannya. Kini dia dibekap paksa dan disuntikkan beberapa tetes obat cair. Entahlah apa.

“Ra, jangan bergerak kesana, bahaya, kamu bisa menanyakannya nanti ke para dokter setelah ini.” ucap Lena, lirih, sama ketakutannya denganku.

Setelah lelaki yang mirip Riki itu ‘dijinakkan’ mereka bergegas keluar dan meminta maaf atas keteledorannya. Karena sudah dua hari ini mereka mencari-cari sosok tersebut.

Lidahku kelu, jangan-jangan yang semalam menemuiku adalah dia yang barusan ‘dijinakkan’? enggak terima rasanya jika itu jelmaan sosok Rezvan.

Seorang dokter mendekatiku, memberikan keterangan bahwa aku harus berhati-hati.

“Nona Rayya. Bisa berbincang sejenak?”

Aku mengangguk, patuh. Tentu aku enggak mau sendiri, kutarik tangan Lena, setidaknya kini aku enggak mau sendiri lagi. Lena tersenyum, mengikuti langkahku.

Seorang dokter berjas putih dengan nametag dr. Celinda, Sp.KJ memulai percakapan yang dikelilingi oleh rekan kerjanya serta suster yang setia berdiri, beberapa dari mereka menunggu di luar ruangan.

“Salam kenal, saya dokter Selin, psikiater dari saudara Mark. Dan ini disekeliling saya ada dokter Ferdy, dokter Nia dan suster Sisca. Terimakasih Nona Rayya sudah berkenan berdialog dengan kami.”

Aku jawab dengan cukup mengangguk, bersiap menerima jawaban detail. Nama ‘Mark’ kini disebut-sebut.

“Tentu Nona sudah menyaksikan tadi penanganan terhadap saudara Mark, sudah hampir tiga hari ini keluar dari RS. Beruntung kami segera menemukannya, jika tidak, akan banyak korban selanjutnya.”

Mendengar kata ‘korban’ ditambah ‘selanjutnya’ membuat dadaku berdegup keras. Mana mungkin wajah polosnya, entah dia Riki atau Rezvan aku enggak peduli, mampu membuat seorang dokter kewalahan?

“Maksud Anda apa dok? siapakah yang barusan menemui saya? Mark? Sipa Mark? Yang saya kenal..”

Tenggorokanku tercekat, air mata mulai memberat, sesak rasanya jika mengingat kedua lelaki yang aku sayang itu dilabel dengan nama Mark, walaupun aku pernah mendengar nama itu disebut-sebut juga.

“Ra, keep calm, jangan berburuk sangka dulu, siapa tahu Mark bukan siapapun.” Lena mengelus punggungku, memberikan energi positif.

Aku mengangguk, mencoba menegakkan kepala, melanjutkan beberapa kata lagi.

“Yang saya kenal, wajah itu, milik Rezvan, milik Riki, milik Riko. Mirip, namun suaranya, sungguh, jauh berbeda, kenapa bisa? siapa Mark?”

Dokter Selin tersenyum manis, seolah perdebatan yang ingin aku ciptakan barusan langsung ringsek, melebur, tenang.

“Rayya, saya sudah mempelajari berkas-berkas yang masuk, termasuk data Anda. Saya tahu, hubungan emosional yang kuat itu tidak akan bisa lepas begitu saja. Tentu, karena Mark sangat lihai memainkan perannya.”

Peran? Apakah selama ini aku ditipu oleh sosok itu? Entah Mark, Rezvan, atau Riki, atau justru Randi? Ya ampun, kenapa bisa serumit ini.

“Mark memiliki kepribadian ganda, Nona. Selama ini dia mengalihkan kepada kembarannya, sayangnya, saudara kembarnya sudah tewas beberapa hari lalu.”

“Maksud Anda? Siapakah Mark? Siapakah saudara kembarnya? Tolong, TOLONG JELASKAN!”

Dokter Selin mengeluarkan beberapa dokumen, namun dia mengajukan sebuah surat kepada Lena karena Lena seharusnya tidak terlibat dalam masalah ini. Lena sepakat untuk tidak akan membocorkan rahasia dokumen melalui surat saksi yang dia bubuhkan materai diatasya.

Dengan sigap dokter Selin membuka satu per satu lembar data berupa foto close up.

Aku terperangah, hampir tidak mempercayainya, nyaris sempurna, semuanya nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *