KARYAKU

Penyendiri – Chapter 17

Lembar pertama – catatan kecil dari bangsal Mark.

Hai, namaku Mark.

Tapi itu bukan nama asli. Mark hanya sebuah kode rahasia di sebuah perusahaan besar yang menggurita. Kode ini milik keluargaku, nama ini aku gunakan untuk berkomunikasi dengan siapapun yang mengenal keluargaku. Jangan katakan aku bodoh, kenapa aku seenaknya mengubah-ubah nama asliku. Sejatinya akulah pemilik otak brilian yang mereka inginkan.

Ya, betul, nama asliku sudah jelas nyata bukan? bahkan menjadi cinta pertama Rayya. Wanita cantik yang selalu ingin aku dekati, namun aku selalu merasa gagal. Hanya Riki yang mampu menaklukkannya, sejak dulu.

Aku, Rezvan Mahendra Putra, kakak sekaligus teman bermain Riki Pramana Putra. Jika Rayya tahu hal ini, tentu remuk hatinya, namun jangan salah, aku sungguh memikirkannya.

Rayya, kamu aman, sungguh aku tidak akan rela kamu mendapat celaka dari siapapun termasuk keluarga Randi. Ketahuilah, keluargamu dimanfaatkan oleh mereka hingga papamu dijebloskan ke penjara. Kejam sekali mereka, belum juga selesai urusanmu dengan Randi, sudah membuat urusan baru lagi. Entah sampai kapan, beruntung aku sudah menitipkan beasiswa untukmu, namun, heh! kenapa tidak kau teruskan! bodoh sekali.

Randi, wajah polosnya menyimpan rasa suka padamu. Namun setahuku, kamu tidak akan pernah mampu menyukainya karena dia belum mampu mengalihkan pikiranmu dariku, benar? atau aku yang memang Ge-Er ya selama ini.

Rayya, kita belum bermain, baru saja memulai pembongkaran kasus keluargamu, sayangnya, keluargaku tidak mau menerima skenarioku. Apalagi Riki, dia betul-betul mendukung keputusan Papa, membuatku terpenjara dalam pengobatan aneh yang mereka katakan dan diagnosa sendiri. Sungguh, yang sakit itu mereka, bukan aku.

Aku semakin tergugu, surat yang ditorehkan itu, memang betul terasa nyawanya, dialah Rezvanku. Ingin rasanya aku mengejar dan mendekapnya, aku kira selama ini aku kesepian sendiri. Kenyataannya justru Rezvan yang tersiksa menjalani pengobatan yang menurutnya menyakitkan jiwa.

“Ra, kamu yakin ini Rezvan?” Lena menelisik foto close up itu.

Aku mengangguk.

“Bukankah Rezvan yang pernah kamu tunjukkan, dia tidak menggunakan kacamata?”

“Rezvan hanya menggunakan kacamatanya hanya untuk membaca buku, mengerjakan soal dan menulis sesuatu. Selebihnya, dia selalu melepas kacamata itu.” jawabku, lirih.

“Baik, clear ya Nona Rayya. Bahwa selama ini yang menemui Anda adalah Mark, atau Rezvan Mahendra Saputra. Kini, kami akan menyelediki kembali berkas yang masuk ke kepolisian karena dia diduga telah membunuh saudara kembarnya, Riki Saputra.”

Lidahku langsung kelu. Namun masih ada lembaran berikutnya yang harus aku baca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *