Penyendiri – Chapter 3

Halusinasi yang Menghantui

Sebelas bulan, aku berhitung. Setelah kepergian Rezvan. Jujur saja, ini enggak mudah aku lupakan bahkan aku hilangkan. Sekalinya mencoba mengalihkan, bayangan itu hadir seperti jiwa yang normal, tersenyum, seolah masih ada. Hadir di setiap mimpi, aku bahkan sering berjaga, terbangun, sungguh ini menyesakkan.

Tiga bulan di jurusan, aku sering ketiduran. Seangkatan enggak ada yang berani membangunkanku, bahkan ditutupi dan menganggap aku enggak ada. Ya, aku lebih sering memilih duduk di bangku paling belakang. Hadir paling awal, keluar ruang paling akhir, mereka berbisik-bisik, membangunkanku akan menjadi perkara panjang. Entahlah, seperti berjarak, aku sendiri bingung bagaimana meresponsnya.

Kuusap walkman hadiah yang tersisa- dari Rezvan. Isinya penuh dengan lagu pop tahun 2000-an, tentu itu lagu yang hits zaman kami masih SMA. Setelah mimpi-mimpi buruk yang terus menghantui, aku memilih untuk enggak lagi ‘menghindari’ kenangannya. Aku biarkan saja, paling pokok saat ini aku bisa tidur dengan lelap dan bisa bangun pagi. Walaupun enggak selalu berhasil setiap hari.

Refleks kutekan tombol ‘next’ untuk mencari instrumen yang menenangkan. Kutemukan list instrumen My Immortal, lagunya Evanescence.

Kupercepat langkahku, pagi ini aku enggak mau berkeluh kesah. Kusadari, sepagi ini seharusnya menjadi pagi yang penuh semangat. Walaupun aku bimbang apakah menemui Luna nanti adalah langkah yang tepat. Mengingat selama ini aku hanya hadir di jam-jam kuliah saja, selebihnya, aku enggak mengenali detail dirinya.

Tepat belokan menuju trotoar pertokoan, seorang anak jalanan, lusuh, berkulit coklat, meringkuk kedinginan di depan toko pakan ikan. Kuberanikan maju beberapa langkah, kupandangi pakaian wajah anak itu. Enggak jauh berbeda dengan diriku sepuluh tahunan lalu. Kutaksir usia anak ini, delapan tahun. Walaupun ini bukan pemandangan baru, selalu saja membuatku trenyuh. Sedikit banyak aku bisa mensyukuri hidup bahwa aku masih beruntung. Setidaknya aku pernah hidup bahagia dan kini aku masih bisa kuliah.

Tentu akan selalu ada perasaan kurang ideal, bahkan pahit. Terutama jika mengingat bullying dari beberapa sepupuku. Beruntung aku mengenal Rezvan, walaupun dia tetangga baru, selalu berusaha menghibur dan mampu membuatku tertawa lepas.

“Ra, kenapa kamu enggak mau main sama cewek itu?” Memori Rezvan bicara.

“Kamu tahu kan Van, aku selalu dibully karena mereka lebih tinggi dariku.” Jawabku.

“Tapi mereka itu sepupu kamu Ra, tetap keluarga kamu.”

“Bukan, mereka bukan keluargaku. Mereka kerabat jauh.”

“Well, okelah kamu ternyata mudah mendendam ya. Gimana nanti kalau misalnya aku pergi.”

“Emang mau pergi kemana?”

“Ya kan kita enggak pernah tahu usia kita Ra, kalau kamu hanya mau ngobrol denganku seharusnya kamu juga bisa ngobrol dan dekat dengan oranglain.”

“Dih, omonganmu. Udah ah, ayo beresin PR lagi.”

Dialog itu ter-recall, setiap aku bersinggungan dengan sesuatu yang mengingatkan hal yang sudah lampau. Ditambah alunan instrumen di telinga, semakin mewakili perasaan ini. Sebenarnya enggak cukup dengan rasa syukur dan terimakasih, aku sadar Rezvan sudah banyak berbuat lebih -termasuk beasiswa ini- yang enggak pernah aku sangka sebelumnya.

Kini Rezvan sudah tenang, walaupun tetap hadir sebagai memori, menemani kesendirianku.

Rezvan

“Ra, janji ya. pokoknya kamu harus sukses. kalau bisa jauh lebih baik dan lebih hebat dariku.” Rezvan mengusap kepalaku, memberi sugesti positif.

“Kita bisa sukses bareng kok Van, justru kamu akan lebih duluan dariku. Buktinya sekarang kamu udah mau lulus, aku masih butuh waktu setahun lagi untuk menyelesaikan SMA ini.”

“Mungkin aku yang duluan Ra, tapi perkara sukses? itu bukan siapa yang lebih dulu, tapi siapa yang lebih kuat ditempa hidup.”

“Dih filosofis banget, hahaha.”

“Kan kamu yang ngajarin kemarin, hahaha”

Gelak tawa itu, meredup, lenyap, linier diterpa udara pagi. Kusemburkan napas keluar mulut, kukepalkan jemari tangan, aku harus semangat. Sayang, pagi ini udara dingin memeluk erat, kutarik hoodie penutup kepala. Dengan menggunakan hoodie abu-abu ini aku seolah selalu ditemani Rezvan. Karena itu satu-satunya hoodie peninggalannya.

Di Selasar Jurusan

Tiba di selasar, pukul delapan lebih lima belas menit. Jika berjalan kaki normal biasanya memakan waktu setengah jam, tapi tadi aku sengaja melambatkan diri untuk berbagi potongan roti kepada gadis kecil di emperan toko ikan itu.

Suasana selasar agak sedikit ramai, ini kurang nyaman untukku. Kutengok kiri-kanan, aku coba mencari ruang kelas yang masih sepi. Nampak ruang kosong sisa kelas pagi. Aku harus berjalan lurus dan belok kiri.

DEG! wajahnya mengagetkanku, siapa lagi! kalau bukan Randi.

Randi, mengendap-endap mengagetkanku tepat di belokan.

“Ra! pagi! Akhirnya dugaanku benar! kamu muncul juga disini. Sesuai feelingku, sms dan telpon kamu abaikan, pasti larinya ke jurusan. Tumben.” senyumnya merekah. Membuatku susah payah menghindarinya, kali ini aku tertangkap basah.

“Mau sampai kapan kamu diam begini Ra? Sudah tiga bulan lebih disini, kamu masih mau menghindariku?”

Aku menunduk kecut, obrolan apa ini, aku enggak mau membuat perkara dengannya. Randi, sejak dulu, bahkan setahunan ini sungguh di luar dugaan. Ibarat teror, enggak pernah berhenti mengintaiku. Randi tukang teror, tebar pesona yang semakin ‘horror’.

Sejak SMA ini orang memang suka menebarkan senyum ke siapapun. Dan siapapun yang terjerat senyumnya, kebanyakan cewek, meleleh dan menyukainya. Jumlah fangirl Randi jauh lebih berlipat dibandingkan fangirl Rezvan di sekolah. Keduanya memang punya otak yang brilian. Sikapnya saja yang agak beda. Randi, bagiku sosok badboy yang hanya mementingkan egonya.

Reflek badanku berbalik, bantuan datang, nampak Luna berlari-lari kecil, membawa kantong yang lumayan berat naik menuju tangga selasar. Segera kulambaikan tangan, aku berlari menujunya. Randi mengikutiku, teriakan histeris teman cewek di sekeliling selasar mulai menggema. Terutama Luna, semakin gesit dia menghampiriku.

“Lun, kita ngobrol di lantai bawah aja ya. Aku harus nyelesaiin urusanku sama Randi dulu.” bisikku pada Luna, yang kuajak bicara malah menatap cowok yang mengikutiku dari belakang, siapa lagi kalau bukan Randi.

Luna

“Wah, Ka Randi.. apa kabar kak? Duh, kemarin waktu di lab aku sapa Ka Randi tapi kayak lagi sibuk ya?”

Luna, bukannya menjawab bisikanku malah fokus ke sosok Randi. Aku tersenyum kecut, kuharap persepsi yang dibangun padaku terhadap Randi enggak ada hal yang negatif, toh aku enggak pernah menggubris apapun yang Randi lontarkan.

“Oh, ya. Kemarin aku sibuk, omong-omong ada perlu apa sama Rayya?”

Randi melirikku, penasaran, aku beringsut. Enggak mungkin aku menjelaskan detail masalahku padanya.

“Ini ada sedikit brosur kak, kerjaan biasa, bisnis kecil-kecilan. Ini yang mau kutawarkan ke Rayya. katanya lagi butuh kerja yang fleksibel. Ya kan Ra?” Luna mengedipkan mata padaku, meminta agar aku setuju dengan obrolan ini. “Jadi sekalian aja aku jelasin ya Ra biar efisien enggak buang-buang waktu lagi.”

Kuusap jidatku, ya ampun! Kenapa malah demo di depan Randi? enggak bisakah di lain waktu? tapi yasudahlah, percuma memotong pembicaraan ini.

“Emang kerja apa? Siapa yang butuh kerja?” Randi semakin penasaran, melirikku, menatap Luna, bergantian, seolah dia enggak paham maksud Luna. Aku bingung harus bagaimana, kutundukkan wajahku dalam-dalam, aku malu, tapi enggak bisa berbuat apapun, benar-benar darurat sih. Aku butuh uang tambahan.

“Rayya butuh duit kak, hahaha.” Luna bersuara, blak-blakan, ini membuat kaget, diriku dan tentu Randi. Luna melanjutkan, “Siapa sih di dunia ini yang enggak butuh uang? ini pekerjaan paling fleksibel yang bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun.” Luna mulai mengeluarkan selembar brosur contohnya, kemudian membisik ke telingaku, “Ra, kerjaan ini sesuai rekues kamu. Tenang aja.”. Aku tersenyum kecut, firasatku ini bakal rumit.

Randi mengambil selembar dari tangan Luna, mengamati dan bisa ditebak perkataan selanjutnya.

Well, thins sounds like interesting. Oke, aku beli ini tapi aku belinya lewat Rayya biar keuntungan buat dia. Gimana?”

Luna mengangguk, sepakat. Tentu dia pasti sepakat, apapun yang Randi ucapkan biasanya mampu menghipnosis setiap orang yang dia temui, kecuali aku.

“Oia, komisi Rayya berapa?” Lanjutnya.

“Komisi…nanti Rayya dapat 10% dari harga jual kak. Itu prosentase awal, jika penjualannya bagus bisa naik hingga 25%.”

“Apa enggak langsung 25% aja? toh ini aku bakal beli banyak. Gimana?”

Lagi-lagi, Luna mengangguk, menurut, apapun yang Randi ucapkan dia terima dengan binaran matanya yang menurutku agak ganjil.

“Oke deal ya. Kamu bawa besok aja, aku beli yang ini, nanti aku transfer kesini?” Randi menunjuk nomor rekening yang tertera pada brosur sekaligus mengangkat botol kecil parfum sample yang dia pilih. Luna mengangguk senang.

Tanpa menunggu waktu, Luna membagi setengah brosurnya kepadaku.

“Ra, kamu cukup bawa ini dan ini ya. Jika ada orang yang tanya tinggal kamu tunjukkan website ini, kamu pelajari dulu isinya nanti tinggal closing deh. Kalau enggak jadi beli pastikan catat nomor kontaknya ya.” Luna memberikan penjelasan cara mempromosikan parfum itu.

Aku mendesah, ini jelas pekerjaan yang menurutku lebih sulit dibandingkan jika Luna menyuruhku mengerjakan kalkulus. 

Selesai urusan, Randi meminta Luna segera keluar dari ‘forum’ ini. Perasaanku mulai rusuh, ini enggak biasa, bahkan selama tiga bulan disini, dengan mudah aku menghindari Randi. Tapi untuk kali ini, kakiku seperti ditanam di lantai saja.

“Ra, sampai kapan kamu pura-pura kuat sendiri?” Randi mulai mencecarku, seolah aku yang salah dan dia yang selalu benar.

“Aku kuat kok, emang kenapa?” kukatakan dengan nada sedikit bergetar, menguatkan diri. Bayangan itu muncul lagi, peristiwa nahas Rezvan. Terjadi di waktu pagi, sementara aku berdebat dengan Randi di jam yang sama dengan hari ini.

“Ra, kamu emang jarang terlihat sakit. Tapi enggak ada di dunia ini yang bisa hidup sendiri?”

“Siapa yang bilang hidup sendiri? Aku juga punya teman Rand.”

“Tapi itu bukan aku?”

Aku melengos, percuma berdebat dengannya. Membuatku terpojok.

Aku tak mampu berkata lagi, kutelan lidahku kuat-kuat. Seandainya rasa ini sudah terangkat, pasti aku enggak sekaku ini padanya. Kuakui, aku masih belum bisa memaafkan Randi.

“Ra, sampai kapan kamu dendam padaku. Jujur aja, jika bukan wasiat dari Rezvan padaku tentu aku sudah lepas tangan mengurusmu.”

“Mengurusku? Aku bukan siapa-siapamu Rand, udahlah cukup kamu lihat aku bisa kuliah disini tanpa terganggu apapun. Clear.”

“Terganggu? kamu merasa aku mengganggumu, Ra? Oh My God! Pikiran burukmu itu perlu dicleansing Ra.”

“Emang aku sakit jiwa? enggak Rand, aku enggak dendam. Tapi please berhentilah menghampiriku. please!”

“Kenapa? apa alasanmu begitu padaku?”

Aku terdiam, entah siapa yang benar, kuakui, aku memang masih sakit hati, enggak bisa memaafkannya.

“Ra, masuk ke kampus ini artinya kamu enggak bisa melakukan apapun sendiri lagi. Ini kampus teknik, berat jika kamu memutuskan untuk apa-apa sendiri, apalagi kamu selalu menghindar, kamu tuh kulihat masih kayak robot berjalan. Program di otakmu berjalan tapi instruksi itu enggak beraturan, kamu bisa release dari sekarang Ra, move on lah!”

“Udah Rand, cukup ceramahnya! Aku baik-baik saja.”

Kukira setelah Luna pergi berpamitan, Randi akan demikian. Nyatanya segala brosur dan sample parfum tadi dia raih dari tanganku. “Biar aku aja yang jualan, kamu cukup terima komisi dari Luna.”

Kondisiku sulit, jika seperti ini terus, lama-lama aku enggak kuat, bisa take down, drop-out. Saat ini aku enggak punya siapa-siapa lagi.

Kutinggalkan dia sendiri, Randi berteriak-teriak kesal. Dia berusaha menghentikanku. Akupun beringsut duduk kembali, mengamati, ditariknya lenganku. Randi berbicara lagi dan lagi. Seperti kaset rusak yang diputar ulang, kalimatnya sama persis dengan semua smsnya, selalu seperti ini. kami ibarat minyak dan air, enggak akan bisa nyambung. Terutama aku.

Rezvan, help me. Ujarku lirih

Memori itu terputar kembali, kutundukkan wajah, mengingat setiap dialog yang berakhir debat dan memuncaknya emosiku pada cowok yang hampir setahun di depanku ini pontang-panting menghiburku. Bukan menghibur, justru membuat diriku semakin terasing.

Aku masih semester pertama kelas XII, Rezvan memutuskan kuliah didalam negeri sseperti Randi, bahkan mereka hendak mendaftar ulang pada sebuah perguruan tinggi negeri di luar kota ini.

“Ra, kamu dimana?” suara Randi melalui telepon cukup berisik saat itu, aku enggak jelas mendengarnya.

“Duh, aku telat nih. Rand bisa anter aku nggak ke bandara?”

“Bisa, tunggu ya. Aku bakal cepet kok. Emang Rezvan enggak jemput kamu?”

“Enggaktau dari tadi aku call enggak diangkat, aku enggak punya uang buat pesan taksi. Saldo di ATM belum masuk sepertinya papaku lupa transfer lagi, telat seperti biasa.”

“Kamu butuh cepat atau mau nunggu aku? Emang ke bandara ngapain sih. Kalau butuh cepat aku transfer dulu buat kamu bayar taksi, itupun kalau kamu enggak mau nunggu.”

“Aku tunggu kamu aja, lagipula ke bandara juga mau lihat Rezvan. Katanya malam nanti berangkatnya. Ini udah mau siang, aku mau mampir ke rumah tanteku dulu yang dekat bandara.”

“Lho, kok malam Ra? Bukannya dia terbang pagi tadi?”

“Hah? Pagi? Enggak kok Rand, dia bilang padaku kalau terbang nanti malam.”

“Kapan kamu dikasihtaunya?”

“Sepekan lalu.” jawabku, mulai lirih, enggak tahu kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal tapi entah apa itu. Perasaan yang enggak nyaman.

“Wah kayaknya Rezvan lupa ngabarin kamu Ra. Kemarin lusa aku dan dia pesan tiket bareng. Rezvan minta tukar jadwal denganku, katanya ada janjian sorenya dengan kawannya disana. Justru yang terbang nanti malam tuh aku.”

“Kok kamu enggak ngasih tau sih Rand?”

“Ya aku mana tahu, kukira kamu tahu duluan, biasanya yang lebih paham jadwal Rezvan kan kamu.”

Kemudian kabar berita itu berkelebat cepat sekali, kecelakaan pesawat, pesawat jatuh, pesawat pagi. Orangtua Rezvan menyalahkan Randi, kemudian menyalahkanku, ujungnya keluarga papa semakin menjauhiku, membenci. Nasibku mulai berputar cepat, roda itu cepat sekali meluncur kebawah, aku terjerembab.

Randi dan Rezvan bersahabat dekat, aku tahu itu dari dulu. Mereka berdua sepupu dekat. Walaupun berasal dari kedua kelaurga yang sama-sama mapan, karakternya berbeda. Randi suka sekali berdebat, berargumentasi jika berkaitan dengan hal-hal yang menurutnya penting. Bahkan pernah mendebatku ketika dia berani mengajukan perasaannya padaku. Kukira dia sudah kapok, kemudian mencari cewek lain yang sekiranya mau dengan dia- tentu semua cewek bakal mau menerima- fangirlnya selalu terbentuk dimanapun dia berada.

Rezvan berkebalikan dengannya, cenderung kalem, pendengar yang baik, humoris, membuatku nyaman untuk terus meminta pendapat padanya.

Pukul 11.00

Randi masih saja bicara, kumainkan kakiku, menekuknya, mengamati tali sepatu sendiri yang mulai lusuh. Bahkan mengganti dan mencucinya pun aku tak mampu.

Randi seperti sudah kehabisan bahan bicara, lelah duduk, dia berdiri, menunduk, bingung.

“Kamu pikirkan baik-baik Ra, aku enggak mau kamu cape. Kuliah disini cukup berat, ini baru tiga bulan pertama, aku hanya takut kamu enggak cukup dewasa sehingga pendidikanmu kacau.”

“Kacau? Kamu lihat kan nilaiku masih bagus, ujian di lab aku juga selalu lulus.”

“Ra, bukan masalah kecerdasan ilmu sains semata. Disini kamu juga butuh meningkatkan hubungan baik dengan Angkatan, senior dan juga semua elemen departemen.”

“Menurutmu? Aku kurang?”

“Kamu selalu menghilang Ra, hanya jam-jam akademik saja kamu hadir. Kamu inget nggak, bukan hanya Rezvan yang berjanji ke bundamu untuk jaga kamu. Tapi aku juga Ra!”

Deg! dadaku mulai memanas.

“Bunda? Jangan pernah sebut lagi alasan ‘Bunda’ dan ‘Rezvan’ padaku Rand, aku ini sudah dewasa. Dan aku juga sudah enggak tinggal di komplek bersama keluarga itu lagi, sudahlah berhentilah mendikteku.”

“Aku enggak pernah mendiktemu, aku hanya ingin kamu bisa tersenyum bebas seperti dulu Ra. Hanya itu.”

Kuangkat wajahku, inginku sembur dia dengan perkataan yang akan telak diterimanya. Namun kuurungkan. Jam tangan Randi bergetar-getar, berkedip seperti alarm

“Sorry, aku ada janji dengan dosen. Aku janji sms kamu nanti. Kamu jangan sungkan, kalau butuh apapun aku pastikan selalu ada.”

Randi berjalan mundur kemudian membalikkan badan, berjalan cepat, berlalu menjauh, tanpa penutup sepatah kata lagi. Kuusap wajahku, peluh dingin mulai menyergap. Kuaduk isi tasku, mencari sapu tangan. Tak sengaja ponsel yang dari tadi berkedip ikut tergenggam. Ada sebuah sms dan panggilan masuk dari Riki. Aku terpekik, pengobat hatiku. Rezvanku yang nyata kini ada pada sosoknya.

Pesan itu kubaca, Riki cancel jadwalnya yang seharusnya keluar kota hari ini, ada dosen yang perlu dengannya pagi tadi.  Jadi siang ini dia ada di Perpustakaan.

Secepat kilat aku bergerak menuju lantai empat, seperti biasa kujumpai dirinya, sudah duduk bertumpuk buku-buku fisika dasarnya.

Riki

“Kamu tuh lama-lama mirip temanku lho Ra.”

“Oh ya? Siapa?” Baru kali ini Riki mulai membahas ‘cewek’.

“Ada, tapi temanku enggak kuliah disini. Cantik dan pintar, suka baca, rajin belajar juga, mirip kamu.”

Cantik? Pintar? Duh, hatiku mengembang.

“Emang kuliah dimana?”

“Di Jepang, dia diterima S1 beasiswa monbukagakusho.”

Jepang? Jadi teringat cita-citaku dan Rezvan.

“Masih kontak enggak Rik? dengan cewek itu?”

“Haha, enggak Ra. Mana bisa aku, dia sibuk dan kami juga enggak terlalu dekat. Biasa aja.”

“Kamu suka dia Rik?”

Riki menunduk, tersenyum simpul. “Suka ya pasti, semua cowok menyukainya. Tapi saat ini, hal seperti itu bukan menjadi prioritasku Ra.

“Ciee Riki suka cewek.”

“Waduh, Ra. Kalaupun suka, enggak perlu mengharap yang jauh-jauh, jika yang di depan mata udah ada. Haha.”

Wajahku panas-dingin, deg-degan mendengarnya. Riki salah tingkah, kemudian dia meralat ucapannya.

“Oh, enggak. Maksudku, ngapain juga berharap pada seseorang yang jauh di mata kalau seandainya di depan kita ada yang nyata bisa diraih. Gitu Ra. Itupun jauh nanti, sekarang ini kita masih maba, yuk belajar, fokus besarin IPK. Haha”

Aku terbawa ucapannya, mengikutinya, terbahak. Namun aku tersentak, ini seperti mengulang waktu, aku merasa de ja vu. Teringat Rezvan.

“Ra, kenapa ngelamun? Yuk lanjut ke soal kelima, ini agak rumit nih.” Riki menunjuk buku soal kalkulusnya. Mulai mengerjakan.

Aku mengangguk, kembali ke fokus. Kuambil pensil dari dalam tas, tak sengaja kuraba sebuah bungkus kain kecil, berisi kunci. Kunci apartemen yang diberikan Randi sejak awal aku masuk sini – masih utuh enggak kubuka.

“Ra, enggak perlu mikir kos. kamu pindah saja kesini. Jika enggak mau menempati karena aku, tempati apartemen itu karena Rezvan.”

Akankah aku harus pindah kesana? artinya aku menerima tantangan Randi. Semakin tertantang aku semakin takut, bagaimanapun juga, aku enggak mau membuat Randi celaka.

“Rik, kalau kamu dikasih tempat tinggal gratis oleh seorang teman. Kamu mau nggak nempatin?” topik yang di luar dugaan, padahal di atas meja jelas membahas kalkulus.

“Tergantung Ra, akadnya gimana?”

“Akad?”

“Iya, perjanjiannya, karena semua itu kan ada muamalahnya. Enggak serta merta bisa kita terima gitu aja.”

“Kalau enggak ada janji-janjiannya?”

“Ya jadi enggak jelas. Harus diperjelas dulu di awal. Misalnya sewa atau beli atau nyicil atau memang hibah. Lalu dampaknya apa. Apakah benar sedekah, Panjang deh. Apalagi urusan tempat tinggal.”

Aku mengangguk, sepakat.

“Kenapa Ra?”

“Oh enggak apa-apa sih.”

“Kalau ada hal yang membuatmu galau, banyakin sholat Ra, aku insyaaAllah bantu, semampuku. Kamu cerita-cerita ya, jangan sungkan.”

Ungkapan itu mirip, namun kuamati air mukanya. Ucapan itu terdengar lebih nyaman dibandingkan yang Randi katakan. Tiba-tiba dadaku berdegup keras. Wah, ada apa dengan diriku?

Tinggalkan Balasan