KARYAKU NOVEL PENYENDIRI

Penyendiri – Chapter 4

Luluh dan Membeku

Tiba di kosan, punggung mulai terasa, mengeras. Seperti jalanan aspal yang kering, terik di bawah matahari ditimpa batu-batu hitam. Pun dengan diriku, setiap hari harus rela berjalan kaki digelayuti berbagai macam buku pinjaman dari perpus. Enggak bisa mengelak, memang beginilah rutinitas.

Sejak aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, aku hanya sempat membawa sebuah koper dan tas ransel. Beruntung bahannya kuat, kumasukkan segala bahan, enggak mengerut, awet. Tas inilah yang selalu menempel, kemanapun kaki melangkah.

Tas itu kebanyakan berisi buku-buku yang kupinjam dari Perpustakaan. Jujur saja, sejak memutuskan untuk hidup sendiri, aku enggak bisa membeli buku-buku diktat atau bebas untuk foto kopi. Sehingga setiap hari aku perpanjang buku yang kubutuhkan dan cepat-cepat mencatatnya di kertas. Bahkan kalau kertasku habis, aku akan berjalan menuju pertokoan fotokopi, meminta lembaran kertas yang mereka buang.

Hal ini membuatku semakin mengingat Rezvan, aku menyukai aktifitas membaca juga karenanya.

Ketika aku masih SMP, saat itu aku terdiam dan asyik sendiri, tiba-tiba dia datang dan menyela, “Ra, berkawan dengan buku akan membuatmu jauh melampaui orang kebanyakan. Buku itu, enggak pernah protes, enggak pernah marah, mereka senantiasa mengobati, enggak pernah menyakiti, bahkan akan memberi makna di hati dan menabur ilmu dalam sekali duduk.”

Kemudian sebuah buku digenggamkan padaku, seraya berkata, “Baca ini deh, isinya kamu banget.”

Selesai kubaca, aku tersipu. Sejak saat itu, aku enggak pernah mau membuang waktu hanya untuk melamun. Buku menjadi kawan sejati kedua setelahnya.

Kulepaskan senyum ke udara, benar apa yang Rezvan pernah katakan. Aku bisa saja enggak punya teman bahkan kehilangan dirinya. Tapi bersama buku-buku ini, tugas harian dan presentasi hampir selalu sukses. Dengan banyak melahap referensi baca, melampaui kebanyakan kawan, nilaiku masih terbilang cukup aman.

I love reading books.

Selesai sholat asar, aku menggeratak isi tas, kuraih sebuah botol minum, terasa ringan, ternyata kosong. Lidahku terlipat. Tenggorokan terasa kering, sinyal tubuh kekurangan cairan. Kusadari aku belum meneguk air sama sekali sejak pagi tadi. Sayangnya, air galon di pojokan ini meledekku. Galon itu tak berisi setetes air pun, habis.

Galon kosong

Aku mengaduh, namun aku recalling agenda dari bangun tidur tadi. Cepat tersadar, pagi tadi aku berniat puasa. Benar saja aku haus enggak terkira, beruntung aku enggak lupa. Dengan demikian aku masih bisa menunggu, kembali meluruskan niat supaya enggak sia-sia.

Masih pukul lima sore, aku harus menunggu adzan maghrib, tapi pertanyaan selanjutnya adalah ‘mau berbuka puasa pakai apa, Ra?‘.

Dompetku kering, hanya kutemukan selembar uang lima ribuan. Oke, fixed ini enggak cukup jika aku gunakan untuk membeli air galon isi ulang. Uang di ATM sebenarnya sudah terkuras padahal ini masih tengah bulan. Artinya aku harus menunggu setengah bulan lagi untuk menerima uang jatah beasiswa bulanan. Kepada siapa aku harus meminta bantuan?

Sekelebat bayangan Randi tersenyum melambaikan tangan, cepat-cepat aku menggeleng. Tidak, jangan sampai Randi tahu kalau aku sedang ada masalah keuangan. Bisa kacau urusan.

Randi.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk, layar ponsel berkedip-getar, dari Randi. Kubuka pesannya. Ra, aku boleh telepon?

Aku ragu, tapi enggak ada pilihan. Tapi aku harus kuat. Apa sebaiknya aku diamkan saja? Pura-pura aku sedang enggak memiliki masalah dan berurusan dengannya. Aku memilih diam. Diam lebih baik daripada harus berkata dan membuat masalah, bukan?

Biasanya orang yang lagi puasa doanya terkabul, Ra. Apa aku harus berdoa khusus untuk hal ini?

Belum sempat terucap, ada panggilan masuk lagi, kali ini dari cowok yang membuat hatiku ringan, seringan bulu-bulu dandelion yang diembuskan.

dandelion

“Halo, Ra. Assalamu’alaikum.” suara di seberang terdengar begitu terang.

“Iya, Wa’alaikumsalam. Ada apa Rik?”

“Ra, tadi kamu bawa flashdisk warna biru nggak? aku butuh sekarang, kamu ada dimana?”

Wait, aku cek dulu ya.”

Kubuka kotak pensil di atas meja kecil di pojokan kamar, hanya lima detik saja benda kecil warna biru itu aku temukan.

“Ada Rik!” aku terpekik, melonjak senang, “Kamu mau kesini?”

“Iya, aku butuh filenya, aku lupa tadi mau bilang keburu pulang aja kita. Oke, alamat kos kamu dimana?”

“Di kosan belakang printku, tapi kamu enggak perlu masuk gang karena disini sempit banget. Kecuali kalau hanya bawa motor, masih bisa. Kita janjian aja di depan printku ya.” Seperti ada harapan, untuk meminta air. “Oia, kalau kamu ada air, boleh minta nggak? galonku habis dan uangku tinggal lima ribu.”

Tanpa basa-basi aku gulirkan begitu saja kalimat itu. Entah apa responsnya, whatever, bagiku, Riki sudah seperti Rezvanku, nowadays.

“Hahaha, okelah. Insya Allah aku bawain.”

Wajahku menghangat. Menjalar turun ke dada. “Oke Rik, aku tunggu, thanks.”

Menunggu Riki tiba seolah aku sedang menunggu pangeran berkuda yang akan membawakan sekuntum bunga, argh, cheesy sekali Ra. Entah kenapa aku lebih nyaman berkomunikasi dengan Riki. Seolah dialah yang Tuhan kirim padaku sebagai pengganti Rezvan. Tingkah, karakter, dan pembawaannya mirip dengannya. Argh, Rezvan, semoga kamu tenang disana…

Sepuluh menit kemudan ponselku kembali berbunyi, tanpa jeda, aku langsung mengangkatnya dan segera keluar pintu. Riki sudah ada di depan gang. Kukunci kamarku, aku berjalan menyusuri gang kecil dan berhenti di depan pertokoan ruko printku.

Ternyata Riki sudah menunggu di seberang, melambaikan tangan padaku. Motor bebeknya gemuk ditunggangi sebuah galon yang masih penuh tersegel.

“Ra. Udah mau maghrib, ayo sini. cepat.” 

Aku berbinar melihatnya, tentu bukan hanya karena galon yang dibawanya tapi juga karena dirinya- sore ini menjadi pahlawan pertama- sejak pertama kali aku hidup sendirian. “Rik, makasih ya. Harganya berapa yang ini?”

“Enggak usah Ra, emang kamu mau bayar galon pakai uang limaribu?” dia menjitakku. “Kita tukar galon aja, kalau udah habis, baru aku ambil. Enggak perlu kamu ganti.”

Aku mengangguk, kemudian Riki mengikutiku menuju kosan. Gang disini memang sempit, tapi masih cukup untuk masuk sebuah motor.

“Ra, sorry aku boleh tanya nggak?”

“Tanya apa? Boleh, selama aku bisa jawabnya.” jawabku, mulai muncul perasaan yang menggetarkan.

“Kamu enggak punya teman dekat?” Riki berdehem, menghentikan langkahnya, kemudian melanjutkan, “Maksudku, kenapa sampai kehabisan air enggak ada yang bantu.”

“Enggak ada, yang dekat ya cuma kamu aja Rik. Makasih ya.”

Entah kenapa aku bisa menjawab selancar ini, mungkin efek hatiku yang sedang riang, kuharap dia enggak tersinggung atau bisa jadi menganggapku berlebihan.

“Rik, udah sampai. Selamat datang di kosku. Disini yang paling murah. Kosku yang pintu kedua dari sini, kamu taruh di depan pintu aja. Aku masuk, ambil galon dulu.”

Riki mengangguk, dia angkat galon seberat sembilan belas liter itu menuju depan pintu kamarku. Aku bergegas, sekaligus mengambil flashdisk yang masih tergeletak di atas meja belajar. 

“Ra, ini ada makanan.” Riki mengeluarkan sebongkah nasi bungkus dari dalam tasnya, “Tadi aku dapat dua dari lab, siapa tahu bisa kamu makan malam ini daripada uang limaribumu habis.”

Aku tercekat, rezeki kedua menghampiriku. “Makasih banyak Rik, udah mau mengerti kondisiku.”

“Justru aku yang makasih Ra, beruntung flashdisk itu kamu yang pegang. Aku sering minjemin teman, ujungnya lupa naruhnya, banyak alasan, ketinggalan di warnetlah, hilanglah. Enggak pernah aman.”

Kulemparkan senyum terbaikku padanya. Riki, makasih sudah menjadi pahlawan hari ini.

Thanks, Rik. Ujarku- Rayya.

Suara adzan maghrib tepat berkumandang. Riki pamit pulang. Aku enggak mengantarnya ke depan. Perutku sudah terasa panas, lapar. Aku menyegerakan berbuka puasa.

Aku bersyukur malam ini aku bisa makan dengan kenyang, air minumpun tersedia tanpa kekurangan. Satu galon ini bisa mencukupiku setidaknya sepekan ke depan. Selebihnya aku berhemat dengan mengisi ulang di kampus.

Beep…beep..beep..

Ponsel berkedip sekaligus berdering, panggilan masuk dari Luna. Sambil mengunyah nasi yang baru kubuka, kuangkat telepon itu, siapa tahu penting.

“Ra! aku senang banget Kak Randi mau jualan dan ludess.”

Suara Luna di seberang terdengar sangat senang, akupun demikian. Ditambah perutku sudah terisi beberapa suap nasi padang pemberian Riki. 

“Iya, Lun. Alhamdulillah. Aku turut bergembira.”

“Oia, Ra! komisinya buat kamu kan katanya. aku mau tambahin deh Ra, suerrr aku seneng banget. Denger dari teman-teman, kamu dekat dengan Kak Randi ya? Masih saudara kamu kan.”

Aku tersedak. Hah? dekat? saudara? Darimana berita itu berasal. Jangan-jangan gosip bertebaran enggak jelas selama ini, apa enggak cukup aku menghindarinya selama di jurusan. Kenapa masih ada yang mengembuskan desas-desus urusan keluargaku dengannya?

“Kenapa emang Lun?aku hindari pembahasan ‘dekat’, menurutku ini enggak relevan dengan kenyataan bahwa aku justru selalu menghindari Randi.

“Aku senang banget, Ra, kamu diam-diam ternyata sangat spesial ya, pantes Kak Randi suka marah kalau ada yang membicarakanmu.”

“Spesial?”

“Ini masalahku, Ra. you know me so much- I think. Kuanggap mulai hari ini kamu itu cewek yang spesial buatku. Bisa enggak bantuin aku?”

“Bantu apa?” sengaja kuabaikan kalimat pujian-atau apalah itu- spesial- walaupun hatiku mengembang, baru kali ini aku punya teman- dalam artian sebagai seorang kawan dekat perempuan. Selama ini aku memang menutup diri, bukan tanpa alasan.

“Bantuan apa?”

“Kak Randi Ra, I like him so much. Sejak pertama, aku ngefans berat padanya. Kabarnya hingga detik ini Kak Randi masih jomblo ya.”

Detak jantungku terasa lebih keras getarannya, seolah de ja vu. Mulutku seketika kering, aku takut.

“Ra! halo… Halo…?”

Sorry, aku lagi makan, iya jomblo kok bener. Aku enggak janji bisa bantu kamu, tapi aku usahakan semampuku.”

“Siap, oke. Makasih banyak cantik Rayya. Besok ketemu ya, janji. Oke? komisimu juga udah aku siapkan.”

“Insyaa Allah Lun. Sms aja jamnya, besok aku ada TPB seharian. Takutnya enggak ke jurusan.”

“Oke sayy, dagh. See ya…”

Luna menutup ponselnya begitu saja, aku melanjutkan beberapa suap lagi nasi padang, selebihnya kuteguk air banyak-banyak, pedas. Malam ini aku mulai membayangkan hal yang tidak-tidak.

Randi memang banyak fansnya, tapi dia enggak pernah menyadarinya. Aku sendiri takut, takut jika Randi menyukaiku, sejak dulu- memang bahkan pernah menembakku. Aku takut ini menjadi boomerang.

Selesai makan, aku bereskan mejaku. Berniat mengambil air wudhu. Ponselku kembali bergetar, panggilan masuk. Nama itu, tetap saja enggak ada bosannya, Randi.

Hanya kulirik, enggak ada niat sedetikpun aku mau berbincang dengannya. Kubulatkan tekad untuk berjuang sendiri. Seenggaknya aku sudah punya Riki dan Rezvan- yang fotonya aku gantung dibalik lemari. Sepertinya perjalanan waktu semakin memberat, aku mau fokus belajar saja.

Ponselku berhenti bergetar, kemudian selang beberapa detik, panggilan masuk itu kembali berputar. Daripada mengganggu, aku putuskan untuk blocking nomornya, Randi, betul-betul jadi spammer pikiran!


Lagu untuk chapter ini : you’re the reason

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *