KARYAKU

Penyendiri – Chapter 5

Menyimpan Rasa

Pukul 3 dini hari aku melompat bangun, bukan karena alarm kamar sebelah lagi, melainkan tanganku yang tertindih. Semalam aku tertidur tanpa sadar, kelelahan. Sambil memijit lengan, aku teringat deadline tugas yang semalam belum kuselesaikan. Sungguh kacau pikiran, membuat kacau ritme harian.

Sepekan ke depan aku sudah masuk mid semester, tentu seluruh tugas selama tiga bulan ini harus selesai sebelum ujian berlangsung. Kutengok kalender di dinding, penuh dengan coretan jadwal. Aku sudah berjaga-jaga mengamankan IPK satu semester, dimulai dengan tengah semester awal ini. Coretan pada kalender penuh dengan list materi mata kuliah yang harus aku dalami lagi. 

Aku bukanlah perempuan yang jenius seperti Randi dan Rezvan atau cerdas seperti Riki. Mereka bisa saja tidak perlu membaca ulang diktat yang sudah dibaca, aku perlu usaha ekstra diatas rata-rata untuk memahami keseluruhan materi. Dan sekarang, di tengah rasa kantuk yang melanda aku mau mengulangnya. Ada satu tugas yang belum selesai, harus aku kumpulkan hari ini.

Sekelebat bayangan Riki hadir lagi, pasti jam segini dia sholat tahajud. Ingin kuikuti caranya, aku juga ingin rajin menambah ibadah sholat sepertinya. Tahajud.

Tanpa pikir Panjang, aku ambil air wudhu dan meneruskannya dengan sholat. Selesai bersujud dalam-dalam, memanjatkan do’a dan keluh kesah, dadaku terasa jauh lebih ringan. Saatnya kembali belajar. Tentu aku ikuti lagi cara yang pernah Riki ajarkan padaku.

Caranya dengan mengurutkan prioritas. Dimulai meletakkan poin pertama, paling prioritas, skornya sepuluh. Artinya jika tidak kukerjakan sekarang, aku bakal kesulitan di detik berikutnya. Kini aku mulai mengerjakan tugas yang belum selesai. Kemudian kuletakkan agenda membaca semua materi di urutan kedua. Jika Riki cukup melakukan hal itu sebelum hari-H. Justru aku harus melakukan ulang sekalipun sudah mendapatkan materinya. Beginilah caraku belajar, aku harus membaca berkali-kali dan mencatatnya supaya aku betul-betul memahaminya.

Sesekali kutengok ponsel yang hening, tumben enggak ada yang sms. Biasanya hanya Randi yang rajin mengirimkan pesan. Oia, aku lupa, semalam sudah aku block nomornya. Aku terkekeh sendiri, puas.

Kukembalikan fokus ke diktat, sambil mengurai tugas yang belum selesai, Fisika Dasar.

Ra, kenapa kamu bisa tertawa riang jika berada di samping Riki? Apa alasan kamu bersikap demikian? Bukankah kamu sudah janji untuk menutup diri selama ini? Apakah Riki sama seperti Rezvan?”

Bisikan dari dalam diri sendiri -pertanyaan yang kubawa tidur semalam- mulai membuat distraksi di sela-sela lembaran soal. Kumundurkan kursi, mulai mencorat-coret udara. Mencoba menjawab.

Entahlah, aku enggak mengerti. Mungkin aku memang nyaman dengannya. Ya, aku kira Riki adalah pengganti Rezvanku.”

Jawaban yang agak absurd, tapi hatiku menghangat, padahal sudah lama aku berusaha menghindari segala perasaan aneh yang pernah menyerang. Aku takut hal itu terjadi lagi, aku takut perasaan itu tertotal, walaupun sangat halus.

“Rezvan, kenapa kamu begitu peduli denganku?” Tanyaku, tepat di penghujung kelas sebelasku dan kelulusannya.

“Pertanyaan macam apa sih Ra? Jelaslah aku peduli, kamu tuh sahabatku.”

“Sahabat?” Aku membelalak, tentu itu jawaban yang enggak masuk akal. Tapi mungkin memang demikian batasnya.

Lidahku seketika kelu, nyeri juga mengingat-ingatnya. Aku enggak mau menanyakan ulang pertanyaan itu pada siapapun lagi, termasuk Riki, bodo amat perasaan Ge-Er enggak jelas ini. Ternyata sebuah kedekatan secara fisik dan emosi belum tentu menjamin seseorang bisa sayang dan menyukaiku. Mungkin terdengar klise, ‘pacar bisa putus, sahabat akan terus selamanya di samping kita.’ namun aku masih belum mampu menerima itu. Faktanya, Rezvan pun pergi selamanya.

Kini, aku kembali menelusuri relung hati. Kusadari aku menyukai Riki, namun di satu sisi pula aku takut kehilangan sekaligus. Masih ada perasaan takut yang menjalar setiap kali berbicara perasaan, rasa nyaman, sayang dan cinta.

Aku takut terhadap rasa takut itu sendiri, takut terlalu berharap, takut kecewa dan dikecewakan. Intinya, aku masih nyaman dengan kesendirianku. Entah sampai kapan. Namun aku wanita biasa, tak selalu lulus menepis setiap rasa.

Tak terasa, pukul lima pagi sudah berlalu. Selesai sholat subuh, aku membaca ulang diktat. Tugas Fisdas sudah selesai. Kuteguk segelas air dari galon, rasanya jauh lebih segar dibandingkan air galonku yang merk biasa, hasil air suling tanpa merk. Galon Riki jauh lebih berkelas.

Kubolak-balik lembaran notesku. Jadwal pagi hingga siang ada kelas TPB. Selesai fisdas, lanjut ilmu lingkungan di fakultas yang sama. Jika beruntung, pukul sepuluh sudah selesai dan aku bisa menemui Luna, menanyakan kesepakatan yang semalam dia buat. Dan tentu sebelum berangkat ini aku harus sholat dhuha dulu. 

“Ra, belajarlah sholat dhuha. Semoga bisa menegakkan hatimu untuk selalu lebih tenang menghadapi setiap ujian.” Suara Riki kembali terngiang. Segala nasihatnya memang mudah sekali masuk kedalam sanubari.

Sejak mengenalnya, secara enggak langsung akupun mulai ikut meluangkan waktu untuk sholat dhuha, hanya ada satu hal yang belum bisa kulakukan, menutup hijab. Aku perlu waktu dan berpikir panjang. Entahlah, aku sendiri berharap kelak mendapatkan jodoh yang intelektual-religius. Dan aku letakkan harapan itu, kini pada seseorang yang bernama Riki. Aku terkekeh sendiri jika membayangkan seandainya aku menikah dengannya. Argh! Terlalu jauh, Ra. Lihat dan fokus aja kesini.

Kupendarkan pandangan ke sekeliling ruang, masih sepi. Ya, wajar saja, ini jam sarapan belum bubar. Aku rogoh sakuku, masih bertahan uang lima ribu.

“Ra! tumben kamu ada disini!”

Riki, tak kusangka dia juga sudah berada disini, bak radar yang saling terkoneksi. Tanpa janjian, kami berada di ruang TPB Fisika 1.

Rasa hangat ini mulai menjalar, setiap berjumpa dengannya ingin rasanya memeluknya. Sayangnya itu tidak mungkin, aku tahu Riki justru risih dengan sikap perempuan yang lebay.

“Jadwalku hari ini mengumpulkan tugas TPB, kemarin seharusnya, jadi aku ikuti dosen fisdas yang hari ini mengajar disini.” kujawab seperti biasa.

“Oh, Prof. Daniel ya? kalau aku memang hari ini jadwalnya, pantes baru lihat kamu disini hari ini. Oia, kamu sudah sarapan? Yuk sarapan bareng.”

Aku hendak menolak, takut jika keluar ruang malah telat masuk, justru aku ingin kembali membaca diktat, menggarisbawahi mana saja yang belum aku pahami untuk ditanyakan.

Riki mengaduk isi tasnya, mengeluarkan dua buah roti. Dia letakkan satu di mejaku, kemudian tersenyum. “Ra, sarapan roti itu ya. Sengaja aku tadi beli setengah lusin, biasa untuk mengganjal perut. Aku yakin kamu belum sarapan tadi.”

Kuterima bungkus roti itu dengan perasaan yang ringan, “Makasih Rik, kenapa bisa tahu aku belum sarapan?” Aku penasaran sendiri padahal belum menjawab pertanyaannya.

“Pertama, kamu bilang kemarin uang tinggal limaribu, sepagi ini enggak mungkin kamu ambil uang di ATM, buru-buru juga kan. Kedua, wajahmu lesu dan mata panda begadangmu enggak bisa ditutupi. Ketiga, ya biar aku enggak makan sendirian aja. So, sesederhana itu Ra.”

Aku tersipu, tentu jawaban itu terdengar biasa saja menurut siapapun. Tapi bagiku, itu jawaban istimewa darinya.

Suasana ruang kelas mulai ramai, satu per satu mahasiswa lain mulai berdatangan. Riki pamit mundur dan memilih bergabung dengan teman-temannya. Mereka duduk di bangku paling belakang, kemudian -sesuai ciri khas anak elektro- mereka tertawa bersama. Hari ini aku tahu, ternyata Riki bukan enggak punya teman selama ini, dia hanay sering mengunjungi Perpustakaan saja. Namun dia sendiri punya banyak teman.

Aku kembali terasing. Perasaan sementara tadi aku endapkan lagi, kulesakkan kedalam palung hati. Ra, do you feel so weird here?

Klik, pintu terbuka. Prof. Daniel tiba dengan senyumnya yang penuh wibawa. Kelaspun berjalan seperti biasa.

Selesai kelas, kudapatkan Riki langsung pamit dengan kode lambaian tangannya, kubalas dengan anggukan dan senyum seperti biasa. Sayup-sayup kudengar obrolan Riki dengan sekelompok temannya itu.

“Rik, siapa?” seorang cewek berambut sebahu dengan kacamatanya yang khas menanyakan padanya.

“Oh, teman biasa, anak industri. Biasa baca buku di perpus. Kalian sih enggak pernah mau kuajak ke perpus.” Riki menjawabnya dengan intonasi yang sedikit lebih rendah dari biasa, namun aku tetap mendengarnya.

“Perpus pusat? ogah ah, kejauhan.”sahut salah satu lelaku gerombolannya.

Aku beringsut. Senyap kembali menusuk, apa yang Riki bilang  barusan? ‘teman biasa’ ?

Aku tersenyum kecut. Mungkin sudah saatnya aku fokus pada satu hal yang penting, Pendidikan. Sebab lelaki atau teman siapapun itu sebaiknya aku kesampingkan sejak awal. Aku menyalahkan perasaan yang muncul ini, perlu aku perbaiki pola pikir, sebaiknya aku perbanyak kegiatan yang mampu mengalihkan rasa yang melukai jiwa.

Ada beberapa pesan masuk, jariku menuju teks pesan dari Luna. Tentu ini yang aku tunggu-tunggu.

Klik.

I hate you Ra, teganya kamu menyakitiku di saat aku mau bantu kamu! I hate you! aku enggak akan mau kasih komisi ini untukmu. Lupakan percakapan kita kemarin. Bye!

-Luna-

Tanganku bergetar, mataku mulai panas. Setelah barusan aku merasa dicampakkan oleh lelaki yang kukagumi, kini? ada apa lagi ini?

Luna, please! ada apa ini? -Rayya-

Pesanku terkirim, sayangnya failed. Pertanda nomorku sudah diblock. Alternatif satu-satunya adalah aku mengirimkan pesan ke Dimas. Sebab biasanya geng Luna di kelas lekat dengan cowok yang suka mengejarku itu.

Dim, kamu lagi sama Luna? Urgent. Call me.

Pesanku terkirim, langsung dijawab dengan panggilan masuk dari Dimas. Tentu, dia pasti memahami kalau aku enggak biasa ditelpon dan enggak biasa menelpon, tapi kali ini… Beda.

“Halo, Ra? Ada apa?” Suara Dimas di seberang nampak sepi, enggak seperti berada di ruang kelas, selasar atau jurusan. Hening.

“Dim, kamu lagi dimana? Lagi sama Luna enggak?”

“Lagi sendirian nih, Ra. Aku lagi di Perpus. Kamu mau kesini? Tapi sebentar lagi perpus tutup, break sholat jum’at.”

Aku menelan ludah, tapi seenggaknya aku butuh Dimas saat ini.

“Kita ketemu setelah sholat Jum’at di selasar FMIPA. Gimana Dim?” jawabku, asal.

“Gini aja deh, aku jemput kamu sekarang. Lagi di FMIPA, kan? Kata teman-teman tinggal kamu yang belum kumpul tugas fisdas kamis kemarin. JAdi tadi kamu sendirian kesana kan?”

Aku mengangguk, “Iya Dim, betul.”

“Setelah itu aku sholat jum’at, kamu tunggu aku di kantin masjid. Gimana?”

Enggak ada alternative lain, aku mengangguk, sepakat. Menunggunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *