KARYAKU

Penyendiri – Chapter 7

Hampir sepekan aku dirawat di rumah sakit ini, tentu ada hal yang terlewat, UTS. Beberapa teman menjengukku, mulai dari Dimas, Lidya hingga Riki. Satu per satu mulai menyadari keberadaan Randi yang enggak biasa, hampir selalu di sampingku, bak juru bicara, dia menjelaskan dengan tekun kepada mereka.

Lagu untuk chapter ini.

Aku malu, lebih tepatnya- enggak punya daya, seharusnya Randi enggak perlu membantu banyak hal. Walaupun demikian aku tetap belum bisa percaya sepenuhnya, seperti ada sesuatu yang mengganjal yang disembunyikannya.

Hari ke tujuh di rumah sakit.

Aku sudah diperbolehkan pulang, tentu Randi sigap menyiapkan segalanya. Termasuk menukar kunci kosku dengan apartemen yang selama ini dia ungkit agar aku menghuninya.

Sikapnya mungkin berlebihan, tapi aku akui, aku juga butuh tinggal di tempat yang tenang. Apalagi beberapa hari lalu, seorang pengacara mendatangiku, membahas sesuatu hal buruk – yang oleh Randi ditepisnya. Utang keluarga papaku pada keluargnya.

Terpaksa aku tandatangani surat utang itu, ingin rasanya membuktikan pada papa bahwa aku bukanlah anak yang lemah. Aku bisa menolongnya, tapi, apakah harus begini caranya?

“Ra, enggak usah dipikirkan, urusan ortu, biar menjadi urusan pribadi mereka. Paling penting, aku tetap support kamu.”

Randi, susah payah dia menjelaskan posisinya, susah payah pula aku harus menerima masalah yang enggak kunjung mereda. Aku ingin bertemu Papa, sayangnya Papa penakut. Lebih takut kepada istri barunya daripada anak semata wayangnya. Hanya sebuah surat yang aku terima, kucoba menelisik isinya, jujur saja,  semakin membuatku pusing, aku enggak mengerti, rumit.

“Jadi, Papa udah menjual apartemennya? Kamu yang beli?” aku mencoba menebak arah surat yang aku terima.

Randi menyemburkan napas, berat. Tapi dia mencoba tersenyum, lengkungnya tetap sama, sempurna. “Ra, ini demi kebaikan kita bersama.”

“Kebaikan? Maksud kamu, apa?” kepalaku mulai terasa berputar, kucoba duduk kembali. Segala urusan yang berkaitan dengan keluarga sebisa mungkin enggak aku umbar keluar. Selama ini aku malu. Sayangnya, lelaki di hadapanku ini ibarat paparazzi, selalu tahu apapun tentangku sebelum suaraku sampai padanya.

Randi

“Ra, sebaiknya aku antar kamu pulang dulu. Apartemen itu menjadi hak yang harus kamu terima. Please, percayalah, padaku.”

Aku mencoba berpikir cepat, menimbang, seandainya aku mengatasi hal ini sendirian, lantas apakah aku mampu?

Baiklah, aku menerima tawaran Randi. Untuk sementara. Siapa tahu aku bisa menemukan beberapa petunjuk khusus setelah membuka dialog dengannya.

Tiba di apartemen, semua barangku dia angkut keatas. Barangku sangat sedikit, entah darimana dia bisa mengambil semuanya bahkan membuat ibu kosku percaya bahwa aku pindah begitu saja.

“Aku hanya antar kamu sampai depan pintu. Didalam sudah aku siapkan makanan dan kebutuhan belajar, diktat kuliahku di semester satu dan dua lengkap disana, siapa tahu kamu butuh. Kalau ada perlu apapun, sms aja.”

Aku mengangguk, kali ini aku mulai memahami, ujian susulan UTS sudah di depan mata. Aku enggak bisa menolaknya, percuma, akan merepotkan diri sendiri.

“Oia, satu lagi. Urusan dengan Luna sudah selesai. Kuanggap kamu mengerti. Aku pamit dulu, lekas pulih. Jika perlu bantuan, sms aja.”

Randi membukakan pintu apartemen itu, setelah memasukkan barang-barang, aku melesak masuk.

Benar apa yang dia katakan, disini jelas berbeda, sangat nyaman, bagai langit dan bumi. Kosanku sangat kotor, dibandingkan apartemen ini, betul.

Kini, di kamar ini -untuk pertama kalinya aku mulai bisa membaca kepribadian Randi- betapa rapinya dia, bisa menyiapkan semuanya dengan sempurna. Bahkan di lemari nampak beberapa lembar pakaian untukku yang tampak baru saja dibeli.

Namun semua ini tidak membuatku bahagia, aku justru semakin takut.

Setelah kukunci pintu dari dalam, kurebahkan badanku keatas kasur yang super empuk ini. Entah bagaimana selanjutnya, aku tak tahu.


Kutepuk-tepuk jajaran buku yang tertata rapi di depanku. Kuhidu aroma kertas yang khas pepohonan, membuatku betah berlama-lama disini. Perpustakaan. Sesekali kulirik seorang lelaki yang sedang asyik bercengkerama dengan seorang wanita yang membuatku bingung beberapa hari lalu, lelaki itu mengamit lengannya. Kemudian menoleh padaku, “Hai, Rayya, kenalin ini Luna, cantik ya.”

Perempuan itu menoleh, jelas wajah Luna tersenyum tipis padaku. Rambutnya tergerai sempurna, tinggi semampai dengan lelaki yang membuatku sulit move on ini.

Bibirku tercekat, sakit agak perih, terutama tenggorokan, diiringi air mata yang mulai menitik, aku mendeham. Perasaan lelah sekaligus panas bergemuruh secara konstan merasuk kedalam dada, aku cemburu. 

Bak gelombang tsunami yang hendak menelan dan meluluhlantakkan daratan di depannya, tak kuat membendung sendiri, amarah ini pun demikian. Memuncak ke ubun-ubun dan siap kulepas. Seperti seekor singa yang menggeram, kudorong kedua tubuh mereka, kuteriakkan keras-keras kekecewaanku, kusembur tepat ke wajah Rezvan. Mereka terjerembab.

“Tega! Van, kamu tega benar! Kamu, sejak dulu, enggak pernah peka pada perasaanku!”

Aku tergugu, aku rindu padanya. Namun kenapa dia hadir dalam kondisi yang sungguh membuatku muak!

Lelaki yang mirip Rezvan itu menahan tanganku, terkekeh, kemudian wajahnya berubah, bak hologram, seketika berwujud sesosok Riki. Sementara lengannya tetap mengamit pinggang Luna yang terus merapat padanya. Aku enggak percaya lagi, Riki -yang aku tahu- senantiasa menjaga dirinya dari bersikap kurang sopan itu.

Apakah aku bermimpi?

Tiba-tiba dari dalam saku kusadari, ponselku bergetar nyaring sempurna, seperti terbawa pusaran tornado. Badanku limbung.

Kini, aku bisa membuka mataku yang amat berat, kukerjap-kerjapkan lagi, meyakinkan diri, aku sudah sadar.

Sekitarku bukanlah perpustakaan, melainkan kamar apartemen bercorak Japanese minimalis. Aku meringis, tanganku nyeri tertindih badan sendiri. Aku tidur tengkurap!

Tidur tengkurap bukanlah hal yang sehat, selain menyebabkan leher kaku, tangan tertindih juga bisa membuat nyeri tulang belakang.

Apartemen yang beberapa jam lalu aku masuki, belum pula aku telisik setiap sudutnya, tahu-tahu aku rebahan dan tertidur begitu saja. Mungkin efek badanku yang belum pulih benar.

Aku timang ponsel di tangan, agak aneh, baterai tercharge full. Aku mendelik, sadar, jangan-jangan, selama aku sakit, ini ponsel dipegang Randi? Aku mengaduh, panik. Aku cek semua pesan, hampir enggak ada yang berubah, sama persis dari sepekan lalu. Aneh.

Kulirik jam digital pada layar ponsel, sudah menunjukkan pukul 2 siang. Aku ikat rambutku, berwudhu, aku harus sholat.

Selesai sholat dzuhur, aku enggak langsung beranjak begitu saja. Kuambil sebuah Alqur’an yang terpampang di pojok nakas. Kuhidu aromanya, masih baru. Aku cari surat Al-Baqarah, kucoba menuntaskan seluruh surat ini. Konon, setiap menghuni ruangan ataupun tempat tinggal baru, bacalah surat ini. Supaya enggak terjadi hal-hal buruk didalamnya, termasuk gangguan jin yang musrik.

Nasihat itu aku dapatkan ketika mengikuti mata kuliah agama islam. Pembahasan itu pula pernah aku diskusikan bersama Riki. Bahkan cerita itu Riki bawa ketika dia menghuni kos barunya yang terkenal horror. Aku sendiri kurang percaya terhadap sesuatu yang tak kasatmata seperti astral atau yang berbau klenik. Sayangnya, kenyataan itu hampir selalu ada di kehidupan ini.

Kembali kutelusuri sikap Papa yang enggak pernah bisa menolak saran tante dan istri barunya. Bisa jadi ada hal-hal yang magic yang mereka mainkan. Aku mendengkus, biarkan saja, sebaiknya aku fokus ke diriku sendiri.

Ponsel kembali bergetar. Panggilan masuk. Nomor yang enggak kukenali. Seolah tertikam. Tiba-tiba perasaan takut menyergapku. Panggilan dari siapakah ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *