KARYAKU

Penyendiri – Chapter 8

Panggilan Misterius

Aku coba memberanikan diri mengangkat panggilan itu. Siapa tahu ada sesuatu yang penting, jikapun seandainya salah sambung, enggak masalah. Mengangkat telepon enggak kukenal bisa menghilangkan rasa penasaran dan ketakutan.

“Halo?” kuturunkan sedikit intonasi suara, menebak-nebak siapakah di balik nomor ini.

Hening.

Kuucap kata ‘halo’ lagi.

Beberapa detik panggilan tetap berjalan, namun enggak bersahut, kubiarkan ponsel ini aktif.

Klik!

Panggilan masuk itu dimatikan oleh penelepon. Aku terhenyak.

Tiba-tiba keringat dingin mengalir sepanjang dahi. Aku ketakutan. Takut kejadian beberapa bulan lalu terulang.

Teeet…Teeet..Teeet..

Aku sontak melompat, seseorang menekan tombol pintu kamar. Coba aku intip dari balik layar cctv. Sepi.

Kali ini benar-benar membuatku bergidik.

Cepat-cepat aku kembali ke kamar, kubuka nomor Randi yang sudah aku block, siapa tahu dia menjahiliku. Setelah kucocokkan, sayangnya itu bukan nomornya.

Tanpa banyak pertimbangan, aku kirim pesan singkat padanya.

Randi, aku takut.

Dalam jarak lima menit dari pesanku terkirim, panggilan masuk datang dari nomornya.

“Ra, kamu takut kenapa?”

Suara di seberang jauh terdengar lebih cemas dibandingkan diriku.

“Aku, takut. Kamu bisa kesini? Sekarang?”

“Serius?”

“Ya, serius Rand. Kamu enggak bisa?”

“Bukan enggak mau Ra, kamu cek dulu ini jam berapa? Ini masih dini hari.”

Aku membelalak, dini hari? Dini hari darimana? Bukankah aku barusan sholat dzuhur?

“Ra, minimal jam enam pagi aku kesana. Kalau kamu mau ngobrol, sini aku temani tapi sampai adzan subuh aja. Gimana?” lanjutnya.

Aku masih enggak mengerti, subuh? Dini hari? Apakah Randi yang pelupa?

“Wait, emang kamu dimana Rand?”

“Aku di apartemen, kemarin aku udah bilang kan, jaraknya sekitar tiga puluh menit dari tempatmu.”

“Maksudmu, sekarang, dini hari? Jam?”

“Ra, tengok jam kamu deh. Sekarang jam tiga dini hari Rayya Sasmitha.”

Aku cek jam dinding. Randi benar. Tapi ini agak aneh. Bahkan aku sudah kehilangan waktu hampir dua belas jam disini. Barang-barangku bahkan belum aku rapikan, masih teronggok di ruang tamu, sempurna. Pertanda apakah ini?

“Halo, Ra?”

“Iya. Rand, aku tunggu jam enam ya. Thanks.”

Randi mengiyakan, kemudian menutup ponselnya. Sementara aku disini semakin ketakutan. Peristiwa ini seperti de ja vu.

Randi tiba tepat waktu, pukul enam pagi. Aku pun turun ke bawah untuk memastikan dia sudah ada di depan apartemen.

Ada sesuatu yang aneh sejak kemarin menghantuiku. Seperti ada yang memutar waktu lebih cepat, mengintaiku bahkan mengikuti hingga detik ini. Namun enggak kujumpai siapapun di dekatku. Hening.

Aku berjalan cepat, mengendap-endap kemudian langsung masuk kedalam mobil yang Randi parkir tepi trotoar depan apartemen.

“Rand, bisa cari tempat yang agak jauh dari sini?”

“Ra, kamu ada masalah apa?”

“Nanti aku ceritakan. Kita jalan saja.”

Ponsel sudah aku off. Rencana hari ini kucoba matikan agar enggak ada yang bisa menghubungi atau telepon nyasar itu kembali menghantui.

Randi memutuskan untuk pergi ke sebuah rumah makan semacam saung di tepi danau. Alasannya, aliran dan hamparan pemandangan hijau mampu meredam perasaan was-was. Mungkin itu dia tujukan padaku, aku akui, aku masih ketakutan.

Sarapan pagi dengan menu bubur dan minuman teh tawar hangat cukup membantu pemulihan gerd-ku. Aku enggak lupa membawa obat rawat jalan yang disarankan dokter selepas dari rumah sakit.

“Jadi, masalahmu ada yang meneror? Siapa?”

“Entahlah, aku enggak tahu.”

“Abaikan saja, Ra. Siapa tahu orang iseng. Atau kamu ganti nomor, beres.”


Sejak kejadian itu, aku memilih untuk mengganti nomor. Bukan perkara mudah menerima panggilan kosong berganti-ganti nomor. Entah siapa yang mau berbuat demikian, menghabiskan pulsanya tanpa mau mengeluarkan suara. Kadang aku biarkan hingga tengah malam, kadang putus sendiri, kadang tetap menyala. Kegilaan macam apakah itu? Membuat panggilan namun enggan berbincang.

Nomor baruku hanya berlaku pada tiga nama orang yang menurutku penting saat ini, Riki, Randi dan Dimas. Selebihnya aku enggak mau diganggu oleh siapapun.

“Ra, bisa ketemu di kosan lama?” suara Riki terdengar dari balik ponsel yang kudekatkan cepat-cepat, tepat jam makan siang.

“Emang, ada apa Rik?”

“Penting, tapi, kamu jangan bawa temanmu ya.”

Panggilan itu terputus. Perasaanku enggak karuan. Jarang banget Riki memanggilku mendadak seperti ini. Sebenarnya ada apakah?

Tiba di kosan lama, aku mengamati gang dari depan pagar. Sekitar pukul dua siang, belum terlalu ramai. Nampak dari sisi kanan gang, Riki, berjalan mendekat. Enggak bersama siapapun, sendiri juga, tersenyum menatapku.

Belum sempat aku bertanya, Riki menyodorkan sebuah kotak berwarna tosca yang rapi dia masukkan kedalam tote bag. “Buat kamu. Ini penting, kukira aku salah orang, ternyata enggak salah.”

“Ap…Apa ini Rik?”

“Nanti saja dibukanya, aku cuma mau bilang. Besok aku pindah. Aku enggak bisa lanjut disini. Kamu, baik-baik ya sama Randi.”

Aku benar-benar enggak paham apa maksudnya. Kenapa harus membahas Randi? Kenapa harus pamitan dengan cara seperti ini? Aku belum bisa mencerna semuanya.

“Rik, maksudmu apa?”

Belum selesai aku bicara, dia sudah membalikkan badan. Enggak menengokku lagi, kucoba mengejarnya. Tiba-tiba seseorang mengadang, beberapa orang berjas hitam. Aku makin enggak paham, siapa mereka dan siapa sebenarnya, Riki?

“Maaf Nona, sebaiknya Anda kembali pulang. Kami siap mengantar.”

Dua lelaki berjas hitam ini hanya menggandeng lenganku, kemudian aku diantar pulang. Sepanjang jalan tanpa ada percakapan sama sekali, bahkan mereka enggan membuka suara setiap aku tanya sebenarnya ada apa.

Tepat di depan apartemen mobil yang kutumpangi berhenti. Kemudian aku turun, secepat kilat mobil itu menghilang dari pandanganku. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan, entah apa.

Tiba di kamar, kubuka tote bag pemberian Riki. Sebuah kotak biru berisi dua buah buku dan sebuah album foto.

Kubuka lembar pertama, aku terhenyak! Terpampang jelas sosok dua anak lelaki tersenyum sempurna, Riki dan satunya, aku membelalak, mereka mirip. Mirip… Rezvan!

Segera kupencet tombol nomor Riki, sayangnya nomor enggak aktif. Kucoba ulangi lagi, kukirim pesan, pending.

Aku panik, satu-satunya orang yang bisa kuhubungi saat ini, hanyalah, Randi.

“Rand, penting, bisa ketemu?”

“Ada apa lagi, Ra? ada yang mengganggumu?”

“Rezvan hidup, Rezvan masih hidup Rand!” setengah suaraku berteriak, setengah lagi aku merasakan gemetar.

“Apa buktinya?”

“Segera kesini, aku butuh kamu.”

Ponsel kututup, aku berharap ini nyata. Semoga Randi bisa membantuku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *